Ringkasan Peristiwa
Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth, mengklaim kapal selam AS telah menenggelamkan sebuah kapal perang Iran di Samudra Hindia. Insiden ini menyebabkan sekitar 140 orang di dalamnya dinyatakan hilang. Klaim AS muncul di tengah laporan Angkatan Laut Sri Lanka yang mengonfirmasi tenggelamnya kapal IRIS Dena di perairan tersebut, namun menolak dugaan serangan kapal selam sebagai penyebabnya, menyatakan penyebab insiden masih belum diketahui.
Latar Belakang dan Konteks
Klaim AS ini menandai eskalasi signifikan dalam ketegangan yang memanas antara AS dan Iran, serta sekutunya, yang telah memicu serangkaian serangan dan balasan di seluruh Timur Tengah. Konflik ini telah berlangsung selama beberapa waktu, dengan AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari, yang dilaporkan menewaskan 787 jiwa menurut Bulan Sabit Merah Iran. Peristiwa ini menambah daftar panjang insiden yang melibatkan kekuatan militer dan intelijen di kawasan tersebut, termasuk serangan terhadap infrastruktur energi dan pangkalan militer.
Kronologi Kejadian
Konflik di Timur Tengah menunjukkan peningkatan intensitas dengan serangkaian insiden yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Pada Sabtu, 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Menyusul serangan tersebut, pada Rabu, 04 Maret, Angkatan Laut Sri Lanka melaporkan telah menyelamatkan 32 orang setelah menerima panggilan darurat dari kapal Angkatan Laut Iran IRIS Dena, yang kemudian diketahui tenggelam di Samudra Hindia.

Pada Senin, sebuah stasiun Badan Intelijen Pusat (CIA) di Kedutaan Besar AS di Arab Saudi dilaporkan terkena serangan drone. Serangan ini meruntuhkan sebagian atap kedutaan, meskipun belum ada indikasi apakah pusat mata-mata tersebut menjadi target spesifik. Di Iran, foto-foto pemakaman muncul setelah serangan udara menghantam sebuah sekolah perempuan di kota Minab pada Sabtu, menewaskan lebih dari 160 orang.
Eskalasi berlanjut dengan ancaman dari pejabat Iran, Ebrahim Jabbari, yang memperingatkan akan "membakar" kapal-kapal yang mencoba melewati Selat Hormuz, jalur minyak dan gas yang sangat penting. Pada Senin, 02 Maret, Iran juga menyasar sektor energi di Arab Saudi dan Qatar. Kilang Ras Tanura milik Aramco di Arab Saudi mengalami kebakaran kecil dan kerusakan ringan akibat jatuhan puing drone, sementara Qatar Energy menghentikan produksi gas alam cair (LNG) setelah fasilitasnya diserang.
Di Lebanon, kelompok Hizbullah, yang didukung Iran, meluncurkan roket ke wilayah Israel yang menewaskan sembilan warga sipil. Israel membalas dengan melesatkan rudal ke Lebanon yang menewaskan 31 orang. Militer Israel juga memerintahkan penduduk lebih dari 50 desa di Lebanon untuk mengungsi. Ibu kota Lebanon, Beirut, diguncang serangkaian ledakan pada dini hari. Hizbullah menyatakan serangan mereka sebagai pembalasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara AS dan Israel. Rudal Iran juga menghantam kota Beit Shemesh di Israel, menewaskan sedikitnya sembilan orang, menjadikannya serangan paling mematikan bagi Israel sejak konflik dimulai.
Pada Minggu malam, pangkalan Angkatan Udara Inggris (RAF) di Siprus menjadi sasaran "diduga serangan drone".

Poin Penting
- Klaim AS atas penenggelaman kapal Iran IRIS Dena di Samudra Hindia, dengan 140 orang hilang.
- Angkatan Laut Sri Lanka mengonfirmasi tenggelamnya IRIS Dena namun menolak klaim serangan kapal selam, menyatakan penyebab insiden masih belum diketahui.
- Serangan drone terhadap stasiun CIA di Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi.
- Serangan udara di sekolah perempuan di Minab, Iran, menewaskan lebih dari 160 orang.
- Ancaman Iran untuk menutup dan "membakar" kapal di Selat Hormuz.
- Serangan balasan Israel di Lebanon menewaskan 31 orang setelah roket Hizbullah menewaskan 9 warga sipil Israel.
- Serangan rudal Iran di Beit Shemesh, Israel, menewaskan 9 orang.
- Serangan drone di pangkalan Angkatan Udara Inggris (RAF) Akrotiri di Siprus.
- Penghentian produksi gas alam cair (LNG) oleh Qatar Energy setelah fasilitasnya diserang Iran.
Dampak dan Implikasi
Insiden penenggelaman kapal Iran dan serangkaian serangan balasan di Timur Tengah telah memicu kekhawatiran serius akan stabilitas regional dan global. Harga saham maskapai penerbangan di Asia Pasifik merosot, sementara harga minyak dunia naik setelah kapal-kapal diserang di dekat Selat Hormuz. Gangguan ekonomi meluas di seluruh wilayah, dengan negara-negara Teluk menuduh Iran melanggar kedaulatan mereka. Eskalasi ini juga mengancam jalur pelayaran internasional yang vital dan berpotensi memicu konflik yang lebih luas.
Pernyataan Resmi
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan, "Kapal itu merasa aman di perairan internasional, tapi justru dihantam torpedo." Ia menambahkan, "Gelombang yang lebih besar akan datang. Kami baru memulainya." Juru bicara Angkatan Laut Sri Lanka, Budhika Sampath, menegaskan pihaknya menolak laporan yang menyebut kapal itu tenggelam akibat serangan kapal selam, dengan penyebab insiden masih belum diketahui. Sekretaris Kementerian Pertahanan Sri Lanka, Marsekal Muda Sampath Thuiyakontha, menyebut sekitar 140 orang diyakini masih hilang.
Penasihat Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Ebrahim Jabbari, memperingatkan bahwa Selat Hormuz dalam status tertutup dan kapal-kapal "tidak boleh datang ke wilayah ini, mereka pasti akan menghadapi respons serius dari kami." Ia juga menuduh AS "haus akan minyak di wilayah ini" dan mengancam akan "menyerang jalur pipa mereka di wilayah tersebut dan tidak akan mengizinkan ekspor minyak dari daerah ini."
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan "serangan terberat" terhadap Iran "masih akan datang." Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa ia mengambil keputusan untuk melancarkan perang terhadap Iran sebagai "kesempatan terakhir dan terbaik" untuk menghentikan rezim yang berkuasa, dan AS akan membalas "segera" atas serangan terhadap kedutaan AS di Riyadh serta kematian anggota militer AS. Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi serangan drone di Kedutaan Besar AS di Riyadh mengakibatkan "kebakaran terbatas dan kerusakan material kecil." Hizbullah menyatakan serangan mereka ke Israel sebagai "tindakan pembelaan diri yang sah" atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Perkembangan Selanjutnya
Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa kampanye militer AS dapat berlangsung selama ber