Gempa M 7,7 Filipina Picu Tsunami di Indonesia, 32 Tewas & 53 Bangunan Rusak

masbejo.com – Gempa dahsyat berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Mindanao, Filipina, memicu gelombang tsunami minor di sejumlah wilayah Indonesia dan mengakibatkan kerusakan puluhan bangunan di Sulawesi Utara. Bencana tektonik yang terjadi pada Senin pagi ini dilaporkan menelan sedikitnya 32 korban jiwa di Filipina dan memaksa ribuan warga di daerah pesisir untuk mengungsi.

Fakta Utama Peristiwa

Gempa bumi tektonik dengan kekuatan signifikan ini terjadi pada Senin (8/6/2026) pukul 06.37.42 WIB. Pusat gempa terdeteksi berada di wilayah Pantai Selatan Mindanao, Filipina, dengan koordinat 5,80° LU dan 125,14° BT.

Secara geografis, titik gempa berlokasi di laut pada jarak 244 kilometer arah barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 47 kilometer. Mengingat besarnya magnitudo dan lokasi pusat gempa yang berada di laut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan empat kali peringatan dini tsunami untuk wilayah Indonesia.

Meskipun pusat gempa berada di wilayah Filipina, dampaknya terasa nyata hingga ke wilayah perbatasan Indonesia, khususnya di Provinsi Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Berdasarkan data terbaru, gempa ini tercatat sebagai salah satu aktivitas seismik terkuat di kawasan tersebut dalam beberapa dekade terakhir.

Kronologi dan Dampak Tsunami di Indonesia

Pasca guncangan utama, sensor BMKG mendeteksi adanya kenaikan permukaan air laut di sembilan titik pengamatan di Indonesia. Fenomena tsunami minor ini terjadi dalam rentang waktu satu hingga dua jam setelah gempa utama.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam konferensi pers virtual merinci sembilan daerah yang diterjang tsunami minor tersebut:

  1. Talengan, Sangihe (Sulawesi Utara): Ketinggian mencapai 75 cm pada pukul 08.20 WIB.
  2. Paleleh (Sulawesi Tengah): Ketinggian 45 cm pada pukul 07.34 WIB.
  3. Melonguane (Sulawesi Utara): Ketinggian 32 cm pada pukul 07.27 WIB.
  4. Tanjung Sidupa (Sulawesi Utara): Ketinggian 32 cm pada pukul 07.39 WIB.
  5. Tahuna, Kepulauan Sangihe (Sulawesi Utara): Ketinggian 30 cm pada pukul 06.58 WIB.
  6. Bitung (Sulawesi Utara): Ketinggian 29 cm pada pukul 07.51 WIB.
  7. Ulu Siau (Sulawesi Utara): Ketinggian 18 cm pada pukul 07.27 WIB.
  8. Ternate (Maluku Utara): Ketinggian 14 cm pada pukul 07.51 WIB.
  9. Loloda (Maluku Utara): Ketinggian 9 cm pada pukul 07.20 WIB.
Terkait:  Kapolri Usul 'First Come First In' Atasi Macet Pelabuhan Mudik

Meskipun dikategorikan sebagai tsunami minor, kenaikan air laut ini sempat menimbulkan kepanikan luar biasa di kalangan warga pesisir yang masih trauma dengan potensi bencana serupa di masa lalu.

Kerusakan Infrastruktur di Sulawesi Utara

Dampak guncangan gempa tidak hanya memicu tsunami, tetapi juga merusak infrastruktur di wilayah paling utara Indonesia. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Utara melaporkan sedikitnya 53 bangunan mengalami kerusakan dengan tingkat ringan hingga berat.

Kepala BPBD Sulut, Adolf Tumengkel, menyatakan bahwa Kabupaten Kepulauan Sangihe menjadi wilayah terdampak paling parah. Di daerah ini, terdapat 39 bangunan yang rusak, terdiri dari 34 rumah warga, 2 gedung gereja, 1 masjid, 1 sekolah, dan 1 rumah dinas.

"Selain Sangihe, kerusakan juga terjadi di Kabupaten Kepulauan Talaud, di mana terdapat 13 bangunan yang mengalami kerusakan, termasuk 11 rumah warga, 1 rumah sakit, dan 1 gudang pelabuhan perintis," ujar Adolf Tumengkel.

Kerusakan tambahan juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Minahasa Utara, tepatnya di Desa Maliambao, Kecamatan Likupang Barat, di mana satu unit gedung sekolah dilaporkan mengalami kerusakan struktur.

Situasi Mencekam di Filipina: 32 Tewas

Di pusat gempa, yakni wilayah Mindanao, Filipina Selatan, kondisinya jauh lebih tragis. Laporan terbaru menyebutkan sedikitnya 32 orang tewas dan lebih dari 100 orang luka-luka. Sebagian besar korban jiwa, yakni sebanyak 13 orang, ditemukan tertimbun tanah longsor di kota pesisir Glan, Provinsi Sarangani.

Terkait:  Libur Long Weekend, Tebet Eco Park Jadi Oase Favorit Warga Jakarta

Data dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) bahkan sempat mengoreksi kekuatan gempa menjadi Magnitudo 7,8. Gempa ini disebut sebagai yang terkuat yang mengguncang Filipina sejak tahun 1976, sekaligus menjadi gempa terkuat secara global sepanjang tahun 2026.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan detik-detik mencekam saat sebuah pusat perbelanjaan di General Santos City runtuh. Restoran cepat saji populer, Jollibee, dilaporkan hancur menjadi puing-puing. Sebuah gedung sekolah juga ambruk, meski beruntung saat kejadian gedung tersebut sedang tidak berpenghuni.

Presiden Filipina, Ferdinand Marcos, langsung mengambil langkah tegas dengan menangguhkan seluruh kegiatan belajar mengajar di Pulau Mindanao. Ia juga mengeluarkan peringatan darurat kepada warga di pesisir. "Jangan menunggu. Nyawa Anda lebih penting daripada apa pun yang tertinggal," tegas Marcos.

Rentetan Gempa Susulan dan Mitigasi

Hingga Senin sore pukul 16.45 Wita, BPBD mencatat telah terjadi sedikitnya 60 kali gempa susulan. Beberapa di antaranya memiliki kekuatan yang cukup besar, seperti gempa M 5,9 dan M 6,0 yang berpusat di dekat Pulau Karatung dan Tahuna.

Eskalasi guncangan susulan ini membuat warga tetap waspada meski peringatan dini tsunami telah resmi diakhiri oleh BMKG pada pukul 10.15 WIB. Pengakhiran peringatan ini menjadi sinyal bagi tim Basarnas, TNI, Polri, dan BNPB untuk mulai bergerak melakukan evakuasi dan penilaian kerusakan di lapangan.

Teuku Faisal Fathani menekankan pentingnya pengakhiran peringatan dini ini agar proses pemulihan dan penyelamatan dapat dilakukan secara efektif oleh segenap elemen pemerintah di lokasi terdampak.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada terhadap potensi gempa susulan yang masih mungkin terjadi. Pastikan bangunan tempat tinggal masih memiliki struktur yang kokoh sebelum kembali masuk ke dalam rumah, terutama bagi warga di wilayah Sangihe dan Talaud yang terdampak langsung oleh guncangan hebat pagi tadi.