Ibas: Santri Harus Kuasai Teknologi dan Jadi Motor Ekonomi Bangsa

masbejo.com – Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono, yang akrab disapa Ibas, mendorong pondok pesantren untuk bertransformasi menjadi pusat keunggulan yang tidak hanya fokus pada pendidikan akhlak, tetapi juga penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) mutakhir. Dalam kunjungannya ke Trenggalek, Ibas menegaskan bahwa santri masa kini tidak boleh tertinggal dalam arus digitalisasi agar mampu bersaing di kancah global.

Fakta Utama Peristiwa

Pernyataan strategis ini disampaikan oleh Ibas saat menggelar silaturahmi dengan para kiai, pengurus, dan pimpinan pondok pesantren di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Agenda ini merupakan bagian dari Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan dengan tema besar ‘Bersatu Dalam Ukhuwah, Maju Sejahtera Bangun Bangsa’.

Sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Ibas menyoroti peran strategis pesantren dalam menghadapi dinamika dunia yang berubah sangat cepat. Ia menilai pesantren memiliki tanggung jawab ganda: menjaga nilai-nilai keislaman dan moralitas, sekaligus mencetak generasi yang adaptif terhadap tantangan geopolitik serta geoekonomi dunia.

Detail Tantangan Global dan Digitalisasi

Dalam orasinya, Ibas memaparkan bahwa dunia saat ini sedang berada dalam fase perubahan yang luar biasa cepat. Perkembangan teknologi digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendasar yang harus dikuasai oleh elemen bangsa, termasuk para santri.

"Dunia bergerak sangat cepat. Ada tantangan geopolitik, geoekonomi, perkembangan digitalisasi, hingga perubahan teknologi yang luar biasa. Karena itu, santri juga perlu memahami perkembangan dunia agar bisa menjadi generasi yang bijak, siap bersaing, tetapi tetap memiliki nilai dan jati diri," ujar Ibas di hadapan para tokoh agama dan santri.

Terkait:  Tol Jakarta-Cikampek Macet, Contraflow 5 Km Diberlakukan Pagi Ini

Ia menekankan bahwa pemahaman terhadap isu-isu global akan memberikan arah bagi generasi muda Indonesia. Tanpa penguasaan teknologi dan pemahaman strategi global, dikhawatirkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia hanya akan menjadi penonton di tengah persaingan internasional yang kian ketat.

Keseimbangan Antara Akhlak dan IPTEK

Meskipun mendorong penguasaan teknologi secara masif, Ibas memberikan catatan penting mengenai karakter. Baginya, kepintaran tanpa adab adalah sebuah kerugian. Pesantren harus tetap menjadi benteng terakhir dalam menjaga etika, rasa hormat, dan kasih sayang antar sesama.

"Ilmu yang tinggi harus diiringi akhlak yang baik. Pendidikan tidak hanya soal kepintaran, tetapi juga tentang adab, etika, rasa hormat, dan kasih sayang kepada sesama," tegas Anggota DPR RI dari Dapil Jawa Timur VII tersebut.

Ia berharap lingkungan pesantren terus menjadi ruang pendidikan yang aman dan penuh keteladanan. Dengan begitu, santri yang lulus tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga memiliki empati tinggi dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Implementasi UU Pesantren dan Kemandirian Ekonomi

Salah satu poin krusial yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah optimalisasi Undang-Undang Pesantren. Menurut Ibas, regulasi ini telah memberikan payung hukum yang kuat bagi pesantren untuk berkembang lebih luas, tidak hanya sebagai pusat dakwah, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi umat.

Ibas mendorong lahirnya kreativitas dan inovasi dari dalam pesantren. Ia ingin melihat santri-santri Indonesia tumbuh menjadi pribadi yang produktif dan mampu menciptakan peluang kerja baru melalui unit-unit usaha mandiri.

Terkait:  Antusiasme Tari Kecak Picu 'War Tiket' di TMII

"Kita ingin santri-santri kita juga tumbuh menjadi generasi yang produktif dan mandiri. Kreativitas harus terus dikembangkan supaya lahir engine-engine ekonomi baru dari pesantren dan masyarakat," katanya.

Dengan adanya UU Pesantren, lembaga pendidikan berbasis agama ini diharapkan bisa menjadi pusat pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan warga di sekitar lingkungan pesantren.

Isu Pelayanan Haji dan Kesejahteraan Masyarakat

Selain membahas pendidikan dan ekonomi, Ibas juga menyentuh isu yang sangat dekat dengan umat Islam, yakni pelayanan ibadah haji. Ia memastikan bahwa pihaknya di parlemen terus mengawal agar biaya haji tetap terjangkau dan rasional bagi masyarakat luas.

Ia menjelaskan peran penting Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) dalam memberikan subsidi agar biaya yang dibayarkan jamaah tidak terlalu membebani. "Kami terus mengawal agar biaya haji tetap dalam batas kepatutan. Kami juga terus mendorong agar pelayanan jamaah semakin baik dan waktu tunggu haji dapat dipersingkat," jelasnya.

Hal ini menjadi bagian dari komitmennya untuk terus memperjuangkan aspirasi masyarakat daerah di tingkat pusat, mencakup aspek pendidikan, kesejahteraan, hingga pelayanan keagamaan.

Sinergi Lintas Sektor untuk Kemajuan Bangsa

Menutup rangkaian kegiatannya, Ibas mengajak seluruh elemen, mulai dari pimpinan pesantren, pemerintah, hingga masyarakat umum untuk memperkuat kolaborasi. Ia meyakini bahwa kemajuan sebuah daerah hanya bisa dicapai jika ada sinergi yang kuat antara wakil rakyat dan konstituennya.

Apresiasi juga datang dari tokoh agama setempat, Kiai Haji Imron Rosyidi dari Pondok Pesantren Ar Rosyidiah. Ia menilai perhatian pemerintah dan wakil rakyat terhadap pesantren sangat penting untuk memastikan pembangunan tidak hanya menyentuh aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga penguatan moral dan kualitas manusia Indonesia secara utuh.

Sinergi ini diharapkan menjadi modal utama dalam membangun bangsa yang lebih sejahtera, di mana pesantren tetap menjadi cahaya bagi umat dalam menjaga akhlak sekaligus menjadi garda terdepan dalam penguasaan ilmu pengetahuan.