IHSG Merah, M Qodari Kelakar Soal Saran ‘Serok’ Purbaya Yudhi Sadewa: Beliau Bukan Trader

masbejo.com – Ketua Bakom RI M Qodari melontarkan kelakar menanggapi saran Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang meminta investor melakukan aksi "serok" saham di tengah kondisi IHSG yang sedang anjlok, sembari menekankan pentingnya disiplin bagi para pelaku pasar.

Fakta Utama Peristiwa

Kondisi pasar modal Indonesia yang tengah mengalami tekanan menjadi sorotan dalam acara peluncuran buku ‘Presiden Solusi’ yang digelar di Jakarta Selatan, pada Senin, 8 Juni 2026. Dalam kesempatan tersebut, M Qodari memberikan pandangannya mengenai dinamika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang belakangan ini terus menunjukkan tren negatif atau berada di zona merah.

Di tengah kekhawatiran para investor ritel, Qodari justru menanggapi situasi ini dengan santai. Ia menyoroti perbedaan sudut pandang antara seorang pejabat publik yang melihat ekonomi secara makro dengan realitas yang dihadapi oleh para trader harian di lantai bursa. Fokus utamanya adalah bagaimana seorang investor harus tetap tenang dan memiliki strategi keluar (exit strategy) yang jelas.

Kronologi atau Detail Kejadian

Perbincangan mengenai saham ini bermula ketika Qodari ditanya mengenai strategi menghadapi IHSG yang sedang terpuruk. Alih-alih ikut panik, Qodari mengungkapkan bahwa dirinya sudah lebih dulu mengamankan keuntungan dari portofolio pribadinya sebelum pasar terkoreksi lebih dalam.

"Pertama kita jangan kalau main saham jangan lihat IHSG secara keseluruhan, kita pegang emiten. Emiten saya waktu itu sudah cuan jadi saya sudah check out duluan," ujar Qodari sembari tertawa di hadapan para tamu undangan di Jakarta Selatan.

Ia menjelaskan bahwa pergerakan indeks secara agregat seringkali tidak mencerminkan performa setiap emiten secara individu. Oleh karena itu, pemilihan saham yang tepat atau stock picking menjadi kunci utama untuk tetap meraih profit meskipun kondisi pasar secara umum sedang tidak bersahabat.

Terkait:  Skandal Korupsi Makan Bergizi: Sony Sonjaya Siap Bongkar 26 Nama Elite

Pernyataan atau Fakta Penting

Dalam sesi tersebut, Qodari memberikan edukasi singkat mengenai psikologi trading. Menurutnya, musuh terbesar seorang trader bukanlah pasar, melainkan emosi dan ego pribadi yang seringkali mengaburkan logika saat mengambil keputusan.

"Karena memang kita tuh harus ngukur juga kalau kita mau trading, kita harus punya target di angka berapa. Masalah kita itu biasanya di emosi, di psikologi, ‘ah kayaknya nanti naik lagi’, nah gitu nggak boleh, harus disiplin," tegas Qodari.

Ia membagikan tips praktis mengenai batasan keuntungan yang sehat bagi seorang trader. Menurutnya, ketika sebuah saham sudah mencapai target kenaikan tertentu, seorang investor harus berani mengambil keputusan untuk menjualnya demi mengamankan modal dan keuntungan.

"Kalau target sudah tercapai misalnya 35%, 40%, out kita," jelasnya lebih lanjut mengenai pentingnya kedisiplinan dalam mengeksekusi rencana trading.

Puncak dari pernyataannya adalah ketika ia menyinggung saran dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang sebelumnya sempat mengajak publik untuk membeli saham saat harga sedang jatuh. Dengan nada bercanda, Qodari menyebut bahwa latar belakang Purbaya sebagai birokrat tentu berbeda dengan praktisi pasar.

"Pak Purbaya itu Menteri Keuangan, bukan trader. Iya, makanya saya kasih tahu sekarang, lihat makronya tapi juga lihat emitennya," tutur Qodari kembali diiringi tawa.

Dampak atau Implikasi

Kelakar Qodari ini memberikan gambaran nyata tentang adanya jurang perbedaan antara kebijakan makroekonomi dan strategi teknis di lapangan. Bagi publik, pernyataan ini menjadi pengingat bahwa saran dari pejabat negara mengenai investasi harus disaring kembali dengan profil risiko masing-masing individu.

Terkait:  Trump Semprot Netanyahu 'Gila', AS Klaim Kemajuan Perundingan Israel-Lebanon

Implikasi dari situasi ini menunjukkan bahwa:

  1. Investor ritel perlu memiliki kemandirian dalam melakukan analisis teknikal maupun fundamental emiten.
  2. Disiplin terhadap trading plan jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti tren "serok bawah" atau buy on weakness.
  3. Psikologi massa di pasar modal sangat dipengaruhi oleh pernyataan tokoh publik, namun eksekusi akhir tetap berada di tangan investor.

Pesan Qodari secara tidak langsung memperingatkan bahwa strategi "serok" tanpa perhitungan target yang matang bisa menjadi bumerang jika pasar tidak segera berbalik arah (rebound) sesuai ekspektasi.

Konteks Tambahan

Pernyataan Qodari ini merupakan respons atas komentar yang disampaikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa beberapa waktu sebelumnya. Pada Senin, 18 Mei 2026, di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Purbaya menyatakan optimismenya terhadap pasar modal Indonesia meskipun IHSG sedang melemah cukup dalam.

Saat itu, Purbaya menilai bahwa penurunan harga saham merupakan peluang emas bagi investor untuk masuk ke pasar karena banyak harga emiten yang sudah tergolong murah secara valuasi.

"Jadi, teman-teman nggak usah khawatir, investor pasar saham kalau saya bilang jangan takut serok ke bawah sekarang. Kalau saya lihat teknikalnya, sehari dua hari udah balik. Jadi, jangan lupa beli saham," kata Purbaya kala itu.

Keyakinan Purbaya didasarkan pada analisis teknikal yang memprediksi pemulihan cepat dalam waktu singkat. Namun, realitas pasar yang tetap merah hingga bulan Juni memicu munculnya diskusi dan kelakar dari berbagai pihak, termasuk M Qodari, mengenai efektivitas strategi tersebut bagi para trader aktif.

Kini, para pelaku pasar dihadapkan pada dua pilihan: mengikuti optimisme makro pemerintah untuk terus mengakumulasi saham, atau mengikuti saran disiplin ketat ala trader seperti yang disampaikan oleh Qodari untuk menjaga likuiditas di tengah ketidakpastian global.