Iran-AS Segera Teken Perjanjian Damai, Menlu Araghchi Waspadai Sabotase Israel

masbejo.com – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa draf kesepakatan damai dengan Amerika Serikat (AS) telah memasuki tahap final dan siap ditandatangani secara digital dalam waktu dekat, meski ia memperingatkan adanya potensi sabotase dari pihak Israel.

Fakta Utama Peristiwa

Ketegangan geopolitik antara Teheran dan Washington yang telah memuncak sejak awal tahun ini tampaknya mulai menemui titik terang. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa nota kesepahaman yang bertujuan mengakhiri konflik bersenjata dengan Amerika Serikat sudah hampir rampung.

Perjanjian yang dikenal dengan nama ‘Nota Kesepahaman Islamabad’ atau Islamabad Memorandum of Understanding ini direncanakan akan ditandatangani dalam hitungan hari. Menariknya, prosesi penandatanganan tidak akan dilakukan melalui pertemuan tatap muka langsung, melainkan melalui mekanisme jarak jauh secara digital.

Langkah ini diambil sebagai respons cepat untuk meredakan situasi di kawasan yang sempat memanas sejak pecahnya perang pada 28 Februari lalu. Abbas Araghchi menegaskan bahwa pengumuman resmi akan segera dilakukan begitu kedua belah pihak membubuhkan tanda tangan elektronik mereka pada dokumen tersebut.

Kronologi dan Detail Kesepakatan

Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel ini telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir, memicu kekhawatiran akan stabilitas ekonomi global. Titik balik terjadi ketika Presiden AS, Donald Trump, pada Kamis (11/6), secara mengejutkan mengumumkan pembatalan rencana serangan militer terhadap Iran.

Donald Trump mengklaim bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang sudah di depan mata. Pernyataan ini diperkuat oleh Abbas Araghchi yang menyebutkan bahwa kerangka kerja perdamaian "belum pernah sedekat ini sebelumnya."

Terkait:  Prabowo Jadi Inspektur Upacara Harlah Pancasila, BPIP Undang Seluruh Mantan Presiden

Adapun poin-poin krusial dalam draf perjanjian tersebut meliputi:

  1. Pengakhiran blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang telah berlangsung sejak 13 April.
  2. Pengaturan baru mengenai pengelolaan Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.
  3. Mekanisme pengawasan dan transparansi aktivitas maritim di kawasan Teluk.

Abbas Araghchi sengaja masih merahasiakan detail teknis lainnya untuk menghindari risiko kegagalan sebelum dokumen resmi diteken. Ia menekankan bahwa kerahasiaan ini penting agar proses diplomasi tidak terganggu oleh intervensi pihak luar.

Pernyataan Penting Menlu Iran

Dalam wawancara eksklusif dengan televisi pemerintah yang dikutip dari AFP pada Sabtu (13/6/2026), Abbas Araghchi memberikan gambaran mengenai prosedur formalitas yang akan ditempuh.

"Segera setelah tahap akhir negosiasi kami selesai, perjanjian ini akan ditandatangani dan diumumkan. Penandatanganan awalnya akan dilakukan secara digital. Masing-masing pihak akan menandatangani dari jarak jauh," ujar Abbas Araghchi.

Ia juga memberikan peringatan keras mengenai adanya pihak-pihak yang tidak menginginkan perdamaian ini terwujud. Secara spesifik, Iran menunjuk Israel sebagai aktor utama yang berpotensi melakukan sabotase terhadap proses rekonsiliasi ini.

"Saya harus jujur mengatakan bahwa perjanjian ini memiliki musuh, yang terpenting adalah rezim Zionis (Israel), yang mencari dalih untuk menggagalkannya," tegasnya.

Dampak dan Implikasi Geopolitik

Jika perjanjian ini benar-benar ditandatangani, dampak paling signifikan adalah pembukaan kembali akses perdagangan Iran ke pasar global. Blokade angkatan laut yang diberlakukan Amerika Serikat sejak 13 April telah melumpuhkan ekonomi Iran dan mengganggu rantai pasok energi dunia.

Terkait:  Kasus Dugaan Penyekapan oleh Hercules: Anak Penulis Ahmad Bahar Dicecar 47 Pertanyaan

"Blokade angkatan laut harus dicabut sepenuhnya. Itulah poin pertama yang disebutkan dalam perjanjian," kata Abbas Araghchi.

Selain itu, status Selat Hormuz akan mengalami perubahan fundamental. Sejak perang pecah pada 28 Februari, Iran memegang kendali penuh atas selat tersebut dan mewajibkan setiap kapal mendapatkan izin dari angkatan bersenjatanya.

Dalam kesepakatan baru ini, Iran menyatakan bahwa pengelolaan Selat Hormuz tidak akan kembali ke status quo lama. Saat ini, Teheran dilaporkan tengah melakukan diskusi intensif dengan Oman untuk merumuskan tata kelola baru di jalur pelayaran vital tersebut. Selat Hormuz tetap diposisikan oleh Iran sebagai "instrumen pencegahan utama" dalam strategi pertahanan mereka.

Konteks Tambahan: Isu Nuklir dan Masa Depan

Salah satu ganjalan terbesar dalam hubungan IranAS selama ini adalah program nuklir. Dalam Nota Kesepahaman Islamabad, isu sensitif ini tidak diabaikan namun diberikan ruang khusus untuk dibahas lebih lanjut.

Abbas Araghchi menjelaskan bahwa rincian mengenai persediaan uranium yang diperkaya tinggi akan dibahas dalam periode 60 hari setelah penandatanganan kerangka kerja perdamaian. Ini menunjukkan adanya pendekatan bertahap (step-by-step approach) untuk membangun kembali kepercayaan antar kedua negara.

Posisi Iran tetap teguh bahwa material nuklir yang telah diperkaya hanya akan diproses atau diencerkan di dalam wilayah Iran, bukan dikirim ke luar negeri sebagaimana tuntutan beberapa pihak di Washington sebelumnya.

Keberhasilan kesepakatan ini akan sangat bergantung pada kemampuan kedua belah pihak untuk menahan diri dari provokasi militer di lapangan, terutama di tengah ancaman sabotase yang dikhawatirkan oleh Teheran. Dunia kini menunggu apakah tanda tangan digital dalam beberapa hari ke depan akan benar-benar mengakhiri salah satu konflik paling berbahaya di dekade ini.