Israel Culik 2 Lagi WNI di Kapal Kars-1, Total 9 Relawan Ditahan

masbejo.com – Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) melaporkan penambahan jumlah warga negara Indonesia (WNI) yang ditahan oleh tentara Israel dalam misi kemanusiaan menuju Gaza, Palestina. Dua relawan tambahan dari kapal Kasr-1 Sadabat dikonfirmasi telah diculik, sehingga total WNI yang kini berada dalam tahanan otoritas Israel mencapai 9 orang.

Fakta Utama Peristiwa

Ketegangan di perairan menuju Gaza kembali memuncak setelah tentara Israel melakukan intersepsi terhadap kapal Kasr-1 Sadabat. Dalam operasi tersebut, dua relawan asal Indonesia, yakni Asad Aras Muhammad dan Hendro Prasetyo, dilaporkan telah ditangkap dan dibawa oleh pihak militer Israel.

Kabar ini menambah daftar panjang relawan kemanusiaan internasional yang dicegat dalam misi Sumud Flotilla 2026. Dengan penangkapan terbaru ini, seluruh WNI yang tergabung dalam berbagai kapal di konvoi tersebut kini dinyatakan telah diculik atau ditahan oleh pihak Israel. Laporan ini dikonfirmasi langsung oleh Koordinator Media GPCI, Harfin Naqsyabandy, berdasarkan pantauan pusat komando di Turki.

Kronologi dan Detail Kejadian

Intersepsi terhadap kapal Kasr-1 Sadabat terjadi di tengah pelayaran misi kemanusiaan yang membawa bantuan medis dan logistik untuk warga Gaza. Menurut keterangan Harfin Naqsyabandy, kepastian mengenai penangkapan Asad dan Hendro didapat setelah munculnya pesan darurat atau sinyal SOS dari kedua relawan tersebut.

"Update Asad dan Hendro, konfirmasi intersep kapal Kasr-1 Sadabat. Total sembilan WNI diculik Israel," ujar Harfin dalam keterangan resminya kepada wartawan pada Rabu (20/5/2026).

Pemantauan intensif dilakukan melalui command center Global Solidarity Fleet (GSF) yang berbasis di Turki. Sinyal SOS yang keluar dari perangkat komunikasi relawan menjadi indikator kuat bahwa kapal telah dikuasai sepenuhnya oleh militer Israel dan para awak serta penumpang kehilangan kebebasan mereka. Penangkapan ini menandai bahwa tidak ada lagi relawan Indonesia dalam misi tersebut yang berada di luar jangkauan penahanan Israel.

Terkait:  Guru Ngaji di Puncak Bogor Diduga Lecehkan 5 Murid Laki-laki

Daftar Lengkap 9 WNI yang Ditahan Israel

Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh GPCI, berikut adalah identitas sembilan WNI yang saat ini berada dalam penahanan tentara Israel, beserta afiliasi lembaga dan kapal yang mereka tumpangi:

  1. Herman Budianto Sudarsono – Perwakilan GPCI dan Dompet Dhuafa, berada di kapal Zapyro.
  2. Ronggo Wirasanu – Perwakilan GPCI dan Dompet Dhuafa, berada di kapal Zapyro.
  3. Andi Angga Prasadewa – Perwakilan GPCI dan Rumah Zakat, berada di kapal Josef.
  4. Asad Aras Muhammad – Relawan Spirit of Aqso, berada di kapal Kasr-1.
  5. Hendro Prasetyo – Relawan SMART 171, berada di kapal Kasr-1.
  6. Bambang Noroyono – Jurnalis dari media Republika, berada di kapal BoraLize.
  7. Thoudy Badai Rifan Billah – Jurnalis dari media Republika, berada di kapal Ozgurluk.
  8. Andre Prasetyo Nugroho – Jurnalis dari media Tempo, berada di kapal Ozgurluk.
  9. Rahendro Herubowo – Tim Media GPCI dan jurnalis iNews, berada di kapal Ozgurluk.

Daftar ini menunjukkan bahwa pihak yang ditahan tidak hanya berasal dari kalangan aktivis kemanusiaan, tetapi juga jurnalis dari berbagai media nasional terkemuka di Indonesia yang sedang menjalankan tugas peliputan internasional.

Pernyataan dan Fakta Penting

Penahanan ini memicu kekhawatiran besar mengenai keselamatan para relawan dan jurnalis. Harfin Naqsyabandy menegaskan bahwa seluruh personel yang tergabung dalam misi Sumud Flotilla 2026 memiliki tujuan murni kemanusiaan. Penangkapan oleh militer Israel di perairan internasional dianggap sebagai tindakan yang melanggar hukum internasional dan menghambat bantuan kemanusiaan bagi warga sipil di Gaza.

Keterlibatan jurnalis dari Republika, Tempo, dan iNews juga menyoroti ancaman terhadap kebebasan pers global. Para jurnalis ini berada di sana untuk memberikan laporan faktual mengenai kondisi pengiriman bantuan, namun kini mereka justru menjadi bagian dari konflik penahanan tersebut.

Pihak GPCI terus berkoordinasi dengan jaringan internasional dan pemerintah terkait untuk memastikan kondisi kesehatan dan keamanan para WNI tersebut. Hingga saat ini, lokasi pasti penahanan kesembilan orang tersebut masih terus dipantau melalui jalur diplomatik dan jaringan relawan global.

Terkait:  DPR Ketatkan Efisiensi: Snack Rapat Dihapus, Lift Dibatasi 70%

Dampak dan Implikasi Internasional

Penculikan sembilan WNI ini diprediksi akan menimbulkan gelombang protes keras dari masyarakat Indonesia dan komunitas internasional. Sebagai negara yang secara konsisten mendukung kemerdekaan Palestina, tindakan Israel terhadap warga sipil Indonesia ini dapat memperkeruh hubungan diplomatik tidak langsung dan memicu tekanan publik terhadap organisasi internasional seperti PBB.

Secara operasional, misi Sumud Flotilla 2026 kini menghadapi hambatan besar. Dengan dikuasainya kapal-kapal utama seperti Zapyro, Josef, Kasr-1, BoraLize, dan Ozgurluk, distribusi bantuan logistik yang sangat dibutuhkan di Gaza dipastikan terhenti. Hal ini akan memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah kantong tersebut, di mana jutaan orang bergantung pada bantuan internasional.

Selain itu, insiden ini menjadi pengingat akan risiko tinggi yang dihadapi oleh pekerja kemanusiaan dan jurnalis di zona konflik. Penahanan jurnalis senior dari media nasional Indonesia juga menjadi perhatian serius bagi organisasi profesi wartawan di tanah air.

Konteks Tambahan: Misi Sumud Flotilla 2026

Misi Sumud Flotilla 2026 adalah upaya kolektif dari berbagai organisasi kemanusiaan dunia untuk menembus blokade Israel di Gaza. Nama "Sumud" sendiri diambil dari bahasa Arab yang berarti "keteguhan" atau "ketabahan", mencerminkan semangat para relawan untuk tetap membantu rakyat Palestina meskipun menghadapi risiko keamanan yang ekstrem.

Indonesia, melalui lembaga-lembaga seperti Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Spirit of Aqso, dan SMART 171, selalu menjadi kontributor aktif dalam misi-misi semacam ini. Kehadiran jurnalis dalam konvoi ini bertujuan untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas distribusi bantuan, serta melaporkan secara langsung situasi di lapangan kepada publik dunia.

Intersepsi oleh militer Israel terhadap kapal-kapal bantuan bukan pertama kalinya terjadi. Namun, penahanan serentak terhadap sembilan WNI dalam satu misi merupakan salah satu insiden terbesar yang melibatkan warga negara Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Publik kini menantikan langkah nyata dari pemerintah Indonesia dan otoritas internasional untuk mengupayakan pembebasan segera para relawan dan jurnalis tersebut.