Keragaman Agama

Jawaban bagaimana sebaiknya menjaga kebinekaan dalam beragama

Berikut jawaban bagaimana sebaiknya menjaga kebinekaan dalam beragama. Sebelum kami uraikan contoh jawaban pada pertanyaan diatas. Kita akan ulas terlebih dahulu materi yang terkait pada pertanyaan diatas.

 

Keragaman Budaya

Kalian tentu tahu keragaman budaya berhubungan dengan keragaman suku. Semakin banyak suku di suatu negara, semakin banyak budaya yang dimilikinya. Itulah yang terjadi di Indonesia yang memiliki ratusan suku yang berbeda. Maka budayanya pun sangat banyak atau beragam.

Banyak hal yang dapat dimasukkan sebagai budaya. Mulai dari kesenian daerah, tradisi dan upacara, aristektur rumah, peralatan rumah tangga serta kerja, hingga adat istiadat sehari-hari. Keragaman budaya yang mudah dikenali antara lain adalah kesenian, arsitektur, hingga tradisi dan upacara.

Lagu Daerah

Salah satu bentuk kesenian daerah yang mudah ditandai adalah seni suara serta musik. Setiap daerah memiliki lagu daerahnya masing-masing. Maka di Indonesia terdapat ratusan lagu daerah yang kalau dipelajari tidak akan segera habis.

Beberapa lagu daerah bahkan terkenal secara nasional. Beberapa lagu daerah dari Sumatra sangat terkenal. Di antaranya adalah Bungong Jeumpa dari Aceh, Sinanggar Tulo dari Tapanuli, Kampung Nan Jauh di Mato dari Minang hingga Lancang Kuning dari Melayu.

Lagu-lagu daerah dari Pulau Jawa antara lain adalah lagu Kicir-Kicir dari Betawi, Bubuy Bulan dari Sunda, Lir Ilir dari Jawa, hingga Tanduk Majeng dari Madura. Dari Kalimantan dikenal lagu Ampar-Ampar Pisang, dari Bali lagu Janger, dari Nusa Tenggara antara lain lagu Bolelebo.

Sementara itu lagu daerah dari Sulawesi seperti lagu Angin Mamiri dari daerah Bugis dan lagu O Ina Ni Keke dari Minahasa juga sangat terkenal. Orang Indonesia umumnya juga mengenal lagu Ambon Manise dari Ambon, serta Yamko Rambe Yamko dari Papua.

Beriringan dengan lagu daerah, terdapat alat-alat musik tradisional. Ada alat musik gordang dan serunai di Sumatra, angklung di Jawa Barat, gamelan di Jawa dan Bali, sape’ di Kalimantan, kolintang di Sulawesi, sasando di Nusa Tenggara, hingga tifa di Papua dan Maluku.

Tarian Daerah

Kesenian daerah yang juga banyak ragamnya adalah tarian. Salah satu tarian daerah di Indonesia yang paling terkenal di dunia adalah tari Saman dari Aceh. Inilah tari yang dipilih untuk acara pembukaan pesta olahraga Asian Games 2018. Tari itu dilakukan oleh 1.600 siswa SMA di Jakarta, dan disiarkan secara langsung ke seluruh negara Asia.

Masih terdapat ratusan tari daerah lainnya di Indonesia. Yang terkenal antara lain adalah Tor-tor dari Batak, Serampang Dua Belas dari Melayu, Tari Piring dari Minang, Jaipong dari Sunda, Serimpi dari Jawa, Pendet dari Bali, Ajat Temui Datai dari Kalimantan, Pakarena dari Sulawesi, Cakalele dari Maluku, hingga Tari Cendrawasih dari Papua.

Baca Juga :  Jawaban tuliskan apa contoh nyata yang kalian lakukan sehari-hari untuk a) norma ketuhanan, b) norma kemanusiaan, c) norma persatuan, d) norma kerakyatan, dan e) norma keadilan sosial

Selain itu, Papua juga menyumbang lagu dan tari Sajojo. Ini salah satu tarian yang sangat sering dipakai untuk senam pagi bersama-sama di seluruh Indonesia. Tari daerah lain yang juga terkenal untuk dipakai senam pagi adalah lagu dan tari Maumere dari Nusa Tenggara.

Tradisi dan Upacara

Sangat banyak tradisi dan upacara di Indonesia, mulai dari Papua hingga Aceh. Salah satu upacara yang terkenal di Papua adalah upacara bakar batu. Seluruh warga berkumpul untuk bersyukur atau mengikat perdamaian dengan berpesta bersama. Makanannya dimasak menggunakan batu yang dibakar.

Di daerah lain upacara kematian juga mengundang perhatian masyarakat. Suku Dayak mengenal upacara Tiwah, masyarakat Bali melakukan upacara pembakaran mayat yang disebut Ngaben. Sedangkan Suku Toraja di Sulawesi melakukan upacara Rambu Solo untuk mengantarkan jenazah. Jenazah bukan dikubur tapi disimpan dalam gua di dinding tebing yang tinggi.

Di Madura ada tradisi balapan sapi yang disebut Karapan, sedangkan masyarakat di Sumatra mengenal budaya balap perahu di sungai dalam tradisi Pacu Jalur. Di Pulau Nias ada tradisi berabad-abad berupa lompat batu. Sedangkan di Kalimantan, tepatnya di Banjarmasin terdapat pasar terapung. Seluruh pedagang berjualan di sungai menggunakan perahu masing-masing.

Banyak pula tradisi yang juga menarik seperti tradisi Bambu Gila di Maluku, mencari cacing laut dalam tradisi Bau Nyale di Lombok, upacara Pasola di Sumba, Kesodo di masyarakat Tengger Jawa Timur, Sekaten di Solo dan Yogya, hingga upacara Tabuik di Minang. Semua itu menunjukkan kekayaan budaya Indonesia yang tiada taranya.

Rumah dan Kampung Adat

Keragaman rumah serta kampung adat juga menunjukkan kebinekaan Indonesia. Rumah adat di tiga pulau besar yakni Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi umumnya merupakan rumah panggung. Lantainya tidak di tanah, melainkan berupa panggung dari kayu untuk berjaga-jaga dari ancaman banjir dan kemungkinan serangan binatang buas.

Di Sumatra rumah adat Krong Bade, Rumah Bolon, Rumah Gadang, dan Rumah Limas semuanya berupa rumah panggung dengan tiang tinggi. Begitu pula Rumah Panjang, Rumah Betang, Rumah Lamin dan Rumah Banjar di Kalimantan. Di Sulawesi, rumah Balla dan Rumah Walewangko juga merupakan rumah panggung.

Di beberapa daerah, terdapat rumah adat dengan tiang pendek seperti di Maluku, Sunda, hingga Nusa Tenggara. Sedangkan rumah adat berlantai di tanah terdapat di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Di antaranya adalah rumah Joglo di Jawa, rumah Bali, Bale Tani di Lombok hingga rumah Sasadu di Maluku.

Rumah adat berlantai di tanah di Papua berwujud rumah Honai serta Ebeai di kawasan pegunungan. Rumah tanpa jendela tersebut beratap bulat dari jerami atau rumbia buat menahan hawa dingin. Bahan atap semacam itu juga dipakai untuk rumah adat di Nusa Tenggara seperti Rumah Musalaki serta Mbaru Niang.

Rumah ada Mbaru Niang beratap kerucut meninggi, antara lain terdapat di kampung adat Wae Rebo Flores. Kampung adat lain yang terkenal adalah Kampung Naga Jawa Barat, Desa Sade Lombok, Bawomataluo Nias, Ragi Hotang Pulau Samosir, hingga Kete Kesu di Toraja.

Di Kete Kesu terdapat rumah adat yang menarik perhatian banyak wisatawan, yaitu Rumah Tongkonan. Atapnya meniru bentuk tanduk kerbau. Atap rumah adat yang juga meniru bentuk tanduk kerbau lainnya adalah Rumah Gadang Minang. Sedangkan tanduk-tanduk kerbau sebenarnya dipakai buat penghias rumah rumah adat Sumba.

Baca Juga :  Jawaban Salinlah kembali paragraf tentang sejarah Museum Ambarawa berikut ini dalam buku kalian dengan penggunaan huruf kapital yang tepat

Keragaman Agama

Di bagian awal bab ini sudah dikisahkan adanya masjid dan gereja yang berdiri berdampingan dan umatnya saling bekerja sama satu dengan yang lain. Hal tersebut merupakan salah satu ciri dari bangsa Indonesia yang memiliki keragaman dalam hal agama. Dibanding banyak bangsa lain di dunia, masyarakat Indonesia dikenal relijius atau mementingkan agama dalam kehidupan.

Keragaman dalam beragama di Indonesia ditandai dengan adanya enam agama resmi yang diakui negara. Setiap pemeluk agama menjalankan keyakinan dengan melakukan ibadah sesuai ajaran agama masing masing. Meskipun berbeda agamanya, masyarakat tetap saling menghargai dan menghormati satu sama lain.

Dengan beragama secara benar akan membuat setiap orang menjadi pribadi yang baik dalam menjalankan kehidupan sehari. Agama akan menenteramkan jiwa dan membuat kehidupan masyarakat menjadi damai, apapun keyakinan agama yang dianutnya. Hal tersebut merupakan keadaan yang patut disyukuri.

1. Islam

Sebagian besar penduduk di Indonesia memeluk agama Islam. Agama ini mulai masuk ke Nusantara pada Abad ke-7 dan berkembang pesat mulai Abad ke-13 dibawa oleh para pedagang dari Arab, India, dan China. Tuhan dalam ajaran Islam adalah Allah. Ajarannya disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Umat Islam wajib beribadah shalat lima kali sehari. Al-Qur’an menjadi kitab sucinya.

2. Kristen Protestan

Agama Kristen Protestan mulai berkembang setelah kedatangan bangsa-bangsa Eropa, terutama Belanda dan Inggris, sekitar Abad ke-17. Tuhannya adalah Allah, Bunda Maria, dan Yesus Kristus sebagai tiga yang tunggal atau Trinitas. Injil menjadi kitab sucinya. Umat Kristen Protestan wajib beribadah setiap akhir pekan di gereja masing-masing.

3. Katolik

Agama Katolik mulai berkembang bersama dengan kedatangan bangsa Spanyol dan Portugis di Abad ke-16. Tuhannya sama dengan Kristen Protes tan, yakni Trinitas Allah, Bunda Maria, dan Yesus Kristus. Kitab sucinya juga Injil. Dengan peribadatan tersendiri berbeda dengan Protestan, umat Katolik wajib beribadah setiap akhir pekan di gereja Katolik.

4. Hindu

Agama Hindu mulai berkembang sekitar abad ke-5, bersamaan dengan masuknya pengaruh budaya India yang mengenal dewa-dewa. Ajaran-ajarannya ditulis dalam Kitab Weda. Di Indonesia, agama ini berkembang sebagai Hindu Bali. Tuhannya adalah Sang Hyang Widiwasa. Umat Hindu wajib beribadah mengikuti upacara-upacara keagamaannya.

5. Buddha

Agama Buddha mulai berkembang di abad ke-8 di masa Kerajaan Sriwijaya di Sumatra, dan Syailendra di Jawa yang membangun Candi Borobodur. Selanjutnya dikembangkan oleh para biksu Tiongkok. Agama Buddha didasarkan pada ajaran Sidharta Buddha Gautama, menggunakan Kitab Tripitaka. Umat Buddha wajib beribadah di vihara masing-masing.

6. Konghucu

Agama Konghucu mulai berkembang sekitar abad ke-13 hingga abad ke-19 bersama dengan kedatangan bangsa Tiongkok. Agama ini didasarkan pada ajaran Konfusius dan berkembang pesat di Kawasan Pecinan seperti Singkawang Kalimantan, Bangka Belitung, hingga Lasem di Jawa. Umat Konghucu wajib beribadah di klenteng masing-masing.

 

Siswa Aktif

Buatkan kelompok masing-masing sekitar 5 (lima) siswa. Usahakan ada yang beragama berbeda di setiap kelompok.

1. Diskusikan, bagaimana sebaiknya menjaga kebinekaan dalam beragama? Apa yang perlu dilakukan untuk menjaga keberagaman tersebut? Tuliskan hasil diskusinya di kertas. Semakin besar kertas (seperti karton manila) dan tulisannya lebih baik. Sampaikan hasil diskusi bersama itu di depan kelas.

Jawaban :

Menjaga kebhinekaan dalam beragama bisa dilakukan dengan cara menjunjung sikap toleransi terhadap sesama umat beragama. Yang perlu dilakukan untuk menjaga keberagaman tersebut adalah dengan tidak memaksa orang lain untuk mengikuti agama kita.

2. Selanjutnya, cari kisah keagamaan yang menarik buatmu sesuai dengan keyakinan agamamu. Misalnya, kisah mengapa Nabi Muhammad mendapat gelar Al Amin, kisah kenaikan Isa Al Masih, dan lain-lain. Ceritakan kisah itu di kelompok masing-masing. Pilih satu kisah yang paling menarik di kelompok, ceritakan di depan kelas.

Jawaban:

Peristiwa Isra Miraj

Menurut Syekh Muhammad Khudori dalam Nur al-Yaqin fi Sirat Sayyidil Mursalin, menjelaskan hal yang memicu terjadinya peristiwa Isra dan Miraj yaitu, sebagai bentuk tasliyah (hiburan) yang Allah SWT berikan kepada Kekasihnya (Nabi Muhammad) karena ditinggal oleh dua orang tercintanya yaitu Khadijah Sang Istri dan Abu Thalib Sang Paman.

Peristiwa ini tepatnya terjadi pada tahun ke – 11 dari kenabian (Nabi SAW saat itu berumur 51 tahun) atau biasa disebut dengan ‘amul huzn (Tahun Kesedihan). Nabi Muhammad Pergi dari Masjidil Haram menuju Masjid Al-Aqsha menggunakan Buraq, ketika telah sampai di Masjid Al-Aqsha Nabi terlebih dahulu shalat dua rakaat bersama seluruh nabi dan rasul terdahulu beserta malaikat-malaikat yang diimami beliau sendiri.

Ketika telah selesai, Nabi Muhammad diajak naik oleh malaikat Jibril ke langit pertama, di sana Beliau disambut manusia pertama yaitu Nabi Adam alaihissalam beliau mengucapkan salam kepada Nabi dan malaikat Jibril. Kemudian di langit kedua Rasulullah Muhammad SAW disambut oleh Nabi Yahya dan Nabi Isa alaihimassalam. Saat di langit ketiga Nabi SAW sisambut Nabi Yusuf alaihissalam.

Selanjutnya di langit keempat Rasulullah Muhammad SAW disambut manusia yang pertama kali menulis menggunakan pena dan menjahit pakaian yaitu Nabi Idris alaihissalam. Pada saat di langit kelima Rasulullah SAW disambut oleh Nabi Harun alaihissalam, di langit keenam Beliau disambut oleh Nabi Musa alaihissalam.

Dan di langit ke tujuh beliau disambut oleh Nabi Ibrahim alaihissalam yang sedang bersandar di Baitul Ma’mur, suatu tempat di langit ketujuh yang setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat. Ketika telah sampai di langit ketujuh, Nabi SAW ingin naik satu tingkatan langit lagi.

Akan tetapi malaikat Jibril tidak bisa mengantarkan lebih dari batasan itu karena nantinya ia akan terbakar oleh Nur nya Allah SWT yang sangat terang. Lalu naiklah Nabi Muhammad ke Sidratul Muntaha dan di sanalah Allah SWT mewajibkan sholat lima puluh waktu dalam sehari semalam kepada umat Muhammad.

Ketika Nabi SAW baru turun sampai di langit keenam bertemulah dengan Nabi Musa beliau menanyakan, “Apa yang Tuhanmu wajibkan kepada umatmu?” Nabi Muhammad menjawab, “Sholat lima puluh waktu dalam sehari semalam.” “Kembalilah dan minta keringanan kepada tuhanmu, karena sungguh umatmu tidak akan sanggup melakukannya” kata Nabi Musa . Kemudian kembalilah Nabi Muhammad menemui Allah SWT untuk meminta keringanan sampai berkali-kali sehingga sholat lima puluh waktu tersebut menjadi lima waktu dalam sehari semalam.

Ketika telah selesai menerima perintah shalat, Nabi Muhammad kembali menunggangi Buraqnya untuk pulang ke Makkah diantar dengan Malaikat Jibril. “Menurut sebuah kisah saking cepatnya Buraq, ketika Nabi Muhammad SAW pulang konon katanya tempat tidur nabi masih terasa hangat.” (Abi Rachman/ Nashih).