Masjid Gedhe Mataram

Jawaban bagaimana sikap kepemimpinan dari Sultan Agung

Berikut jawaban bagaimana sikap kepemimpinan dari Sultan Agung. Sebelum kami uraikan contoh jawaban pada pertanyaan diatas. Kita akan ulas terlebih dahulu materi yang terkait pada pertanyaan diatas.

 

Mataram: Pewaris Supremasi Nusantara dari Jawa Bagian Selatan

Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senapati mengangkat dirinya sendiri menjadi Sultan Mataram. Beliau menunjukan kekuatan Mataram dengan menyerang Surabaya pada tahun 1586. Sebagian wilayah di Pulau Jawa bagian tengah dan timur berhasil ditaklukkan oleh Mataram. Berikutnya beliau memindahkan perhatian ke Pulau Jawa bagian barat. Pada tahun 1595 M Cirebon dan Galuh dapat dikuasai.

Penembahan Senapati wafat pada tahun 1601 dan dimakamkan di Kotagede. Penggantinya adalah Mas Jolang atau Panembahan Seda ing Krapyak. Mas Jolang sibuk meredam pemberontakan-pemberontakan. Demak dan Ponorogo memberontak tetapi segera dapat diatasi. Mas Jolang menduduki Mojokerto, Gresik, dan membakar desa sekitar Surabaya. Mas Jolang wafat pada tahun 1613 dan diganti oleh Adipati Martapura.

Adipati Martapura selalu sakit-sakitan dan tidak mampu menjalankan pemerintahan. Beliau diganti oleh saudaranya Raden Rangsang yang ternyata adalah seseorang yang tegas dan kuat. Di bawah pemerintahannya (1613-1645) sosok yang dikenal dengan sebutan Sultan Agung ini, Mataram mengalami kejayaan. Pada masa Sultan Agung, Mataram meneruskan ekspansi sampai ke Banten tetapi mendapatkan hambatan di Batavia yang dikuasai oleh Belanda. Pada tahun 1628, Sultan Agung melancarkan serangan terhadap Batavia. Pengganti Sultan Agung, yaitu Amangkurat I hingga Pakubuwono II, tidak begitu kuat dan banyak merugikan rakyat dengan perjanjian antara Mataram dan Belanda.

Mataram semakin terdesak dengan perjanjian yang terus dilakukan dengan Belanda. Banyak ketidakpuasan muncul di dalam keluarga raja dan banyak terjadi suksesi di antara mereka. Akhirnya, melalui perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 Mataram pecah menjadi dua kerajaan yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Selanjutnya, dua kerajaan tersebut kembali terpecah. Kasunanan Surakarta terpecah menjadi Kadipaten Mangkunegaran sedangkan Kasultanan Yogyakarta terpecah menjadi Kadipaten Pakualaman.

Baca Juga :  Jawaban Aktivitas 1.7 Halaman 19 IPA Kelas 10 Kurikulum Merdeka

 

Lembar Aktivitas 13 Aktivitas Individu

Bagaimana sikap kepemimpinan dari Sultan Agung?

Jawaban : Sikap kepemimpinan Sultan Agung ialah memiliki keinginan dan semangat tinggi, pantang menyerah, berani mengambil resiko, konsisten pada prinsip, dan tegas terhadap keputusan.