Kisah Deny Kurniawan: ‘Manusia Got’ Bekasi yang Bertaruh Nyawa Demi Gelar Sarjana Sang Anak

masbejo.com – Di balik pekatnya lumpur dan aroma menyengat selokan di kawasan Bintara, Bekasi, sosok Deny Kurniawan (49) mempertaruhkan nyawa setiap hari masuk ke gorong-gorong sempit demi memastikan dapur tetap mengepul dan pendidikan anaknya tuntas hingga jenjang sarjana.

Fakta Utama Peristiwa

Deny Kurniawan, atau yang akrab disapa Kang Deny, adalah potret nyata kegigihan pekerja sektor informal di pinggiran Jakarta. Pria berusia 49 tahun ini menjalani profesi yang jarang dilirik, bahkan dihindari banyak orang: pembersih selokan dan gorong-gorong manual. Tanpa peralatan canggih, ia menyelam ke dalam air hitam pekat yang dipenuhi limbah domestik, sampah plastik, hingga tumpukan sterofoam yang mengendap.

Pekerjaan ini bukan sekadar mencari nafkah, melainkan bentuk tanggung jawab total seorang kepala keluarga. Di tengah keterbatasan ekonomi, Kang Deny membuktikan bahwa pekerjaan kasar di dasar selokan mampu mengantarkan anak sulungnya meraih gelar Sarjana. Baginya, rasa malu dan gengsi telah lama ia kubur di dasar lumpur, berganti dengan kebanggaan melihat anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik dari dirinya.

Kronologi dan Perjalanan Hidup

Perjalanan hidup Kang Deny menuju dasar selokan Bekasi merupakan rangkaian peristiwa pahit yang bermula dari guncangan ekonomi. Berasal dari Bogor, ia memutuskan merantau ke Bekasi pada tahun 2010 setelah terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari sebuah perusahaan manufaktur. Kehilangan pekerjaan tetap memaksanya memutar otak untuk bertahan hidup di kota patriot.

Ia sempat menyambung hidup dengan menjadi tukang becak. Namun, roda nasib kembali mengujinya. Pada tahun 2018, kehadiran transportasi daring (ojek online) mulai menggerus penghasilannya secara signifikan. Puncaknya terjadi pada tahun 2020 saat pandemi COVID-19 melanda. Pelanggan setianya, yang mayoritas adalah lansia, banyak yang meninggal dunia atau tidak lagi keluar rumah karena pembatasan sosial.

Terkait:  Perbedaan Kalender Syawal 2026 Tetapkan Dua Batas Akhir Puasa

Dalam kondisi terjepit dan tanpa pilihan, Kang Deny mulai memberanikan diri mengambil pekerjaan membersihkan drainase warga yang tersumbat. Dari satu panggilan ke panggilan lain, ia akhirnya dikenal sebagai spesialis pembersih gorong-gorong yang paling berani menembus sumbatan di ruang-ruang sempit bawah tanah.

Detail Pekerjaan dan Risiko Nyawa

Bekerja di dalam gorong-gorong berukuran 1,5 meter bukan tanpa risiko. Kang Deny harus berhadapan dengan berbagai ancaman yang bisa merenggut nyawanya kapan saja. Di dalam kegelapan selokan, ia kerap menjumpai hewan berbisa seperti ular dan biawak. Belum lagi ancaman fisik dari benda-benda tajam yang tersembunyi di balik lumpur, seperti pecahan kaca, paku, hingga tusuk sate.

Untuk melindungi dirinya, Kang Deny memiliki protokol keselamatan yang unik namun sederhana. Sebelum terjun ke dalam air hitam, ia melumuri sekujur tubuhnya dengan minyak tanah atau oli bekas. Hal ini dilakukan secara otodidak untuk meminimalisir rasa gatal dan mencegah infeksi kulit akibat bakteri jahat di air limbah. Meski begitu, luka akibat benda tajam, kutu air, dan infeksi kulit tetap menjadi "teman" akrabnya di awal-awal menekuni profesi ini.

Kang Deny dan Perjuangan di Dasar Selokan Kota

Setiap kali turun, ia hanya mengandalkan sepatu boot dan tenaga ekstra untuk mendorong tumpukan lumpur serta sampah yang mengeras. Wajahnya yang sering berlumuran lumpur hitam pekat membuatnya dijuluki oleh warga sekitar sebagai "Manusia Got".

Pernyataan dan Fakta Penting

Di balik sosoknya yang berlumuran lumpur, Kang Deny adalah pribadi yang memiliki kesadaran lingkungan tinggi. Ia seringkali merasa miris melihat jenis sampah yang ia temukan di dasar selokan. Menurutnya, penyebab utama banjir di wilayahnya bukan sekadar curah hujan, melainkan perilaku masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan.

"Sampah sterofoam dan plastik itu yang paling sering bikin mampet," ungkapnya saat menunjukkan temuan sampah di dasar selokan. Ia tak bosan mengingatkan warga agar lebih peduli terhadap sistem drainase di lingkungan mereka sendiri.

Terkait:  Utang Rp25 Juta Picu Penculikan Keluarga di Jombang

Selain menjadi pembersih selokan, Kang Deny juga bekerja sebagai karyawan toko yang bertugas mengantarkan pesanan ke rumah-rumah warga. Dedikasinya yang luar biasa membuat warga Bintara sangat menghormatinya. Ia dikenal sebagai sosok yang paling sigap atau "Unit Reaksi Cepat" lingkungan. Tak hanya soal selokan, saat pandemi melanda, ia bahkan terlibat aktif membantu proses pemulasaran jenazah warga yang terpapar virus.

Dampak dan Implikasi Sosial

Kisah Kang Deny memberikan dampak psikologis yang kuat bagi warga di sekitarnya. Kehadirannya bukan hanya membantu secara teknis dalam mencegah banjir, tetapi juga menjadi pengingat tentang nilai sebuah perjuangan. Keberhasilannya menyekolahkan anak hingga menjadi Sarjana dari hasil membersihkan got menjadi tamparan bagi narasi yang menyebut bahwa kemiskinan adalah penghalang pendidikan.

Secara sosial, sosok seperti Kang Deny mengisi celah yang seringkali luput dari perhatian pemerintah daerah. Di saat infrastruktur drainase kota mengalami kendala, individu-individu seperti inilah yang menjadi garda terdepan dalam penanganan darurat di tingkat akar rumput.

Konteks Tambahan: Realita Pekerja Informal

Fenomena Kang Deny mencerminkan realita kerasnya pasar kerja bagi kelompok usia di atas 45 tahun di Indonesia. Setelah terkena PHK, akses untuk kembali ke sektor formal hampir tertutup rapat, sehingga memaksa mereka masuk ke sektor informal yang berisiko tinggi tanpa jaminan kesehatan atau keselamatan kerja yang memadai.

Namun, di tengah kerasnya hidup, Kang Deny memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Ia memilih untuk bersyukur dan menjadikan setiap tetap lumpur yang menempel di tubuhnya sebagai saksi bisu perjuangan seorang ayah. Kini, di usianya yang hampir menginjak kepala lima, keinginannya sederhana: terus diberikan kesehatan agar bisa tetap menafkahi keluarga dan melihat anak-anaknya hidup lebih layak.

Kisah ini menjadi pengingat bagi publik bahwa di bawah kaki kita, di dasar selokan yang gelap dan bau, ada orang-orang hebat yang sedang bertaruh nyawa demi menjaga kota tetap kering dan keluarga mereka tetap hidup.