Kisah Haru Mak Painah: Lansia Surakarta Besarkan Anak dari Jual Bunga Makam

masbejo.com – Mak Painah (73), seorang lansia tangguh di Kelurahan Pucangsawit, Kota Surakarta, membuktikan bahwa kasih sayang tidak mengenal batas darah dengan membesarkan anak asuhnya, Aditya Herlambang, meski hanya mengandalkan penghasilan dari berjualan bunga kamboja dan membersihkan makam.

Fakta Utama Peristiwa

Di tengah hiruk-pikuk Kota Surakarta, tepatnya di sebuah rumah sederhana di wilayah Pucangsawit, hidup seorang perempuan senja bernama Mak Painah. Di usianya yang telah menginjak 73 tahun, ia masih harus bergelut dengan kerasnya hidup demi masa depan seorang remaja bernama Aditya Herlambang.

Mak Painah bukanlah ibu kandung Aditya. Namun, ikatan batin di antara keduanya melampaui hubungan biologis. Sejak suaminya meninggal dunia, Mak Painah berjuang sendirian sebagai orang tua tunggal bagi Aditya yang ia asuh sejak masih bayi.

Pekerjaan sehari-harinya jauh dari kata mewah. Setiap pagi, ia melangkahkan kaki menuju area pemakaman setempat. Di sana, ia memungut bunga kamboja yang gugur dan menawarkan jasa membersihkan makam kepada para peziarah yang datang. Dari tetesan keringat di area nisan itulah, Aditya bisa tumbuh dan mengenyam pendidikan.

Kronologi atau Detail Kejadian

Kisah ini bermula belasan tahun silam ketika Aditya masih bayi. Awalnya, orang tua kandung Aditya hanya menitipkan sang bayi sebentar kepada Mak Painah. Namun, waktu berlalu dan orang tua kandungnya tak kunjung kembali untuk menjemput.

Alih-alih menyerahkan anak tersebut ke panti asuhan, Mak Painah memilih untuk memeluk tanggung jawab tersebut. Ia memutuskan untuk merawat Aditya dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Sejak saat itu, Aditya menjadi pusat semesta bagi Mak Painah.

Terkait:  PDIP Desak Kasus Andrie Yunus Disidangkan di Peradilan Umum

Penghasilan Mak Painah dari sektor informal ini sangat tidak menentu. Ada hari-hari di mana ia membawa pulang uang yang cukup untuk makan, namun tak jarang ia harus gigit jari. Dalam keterangannya, terungkap bahwa seringkali penghasilannya dalam sehari tidak mencapai Rp 10.000.

"Kadang hanya cukup untuk makan hari itu saja. Kadang lebih sedikit lagi," ungkapnya menggambarkan betapa tipisnya margin bertahan hidup yang ia jalani setiap hari di Surakarta.

Pernyataan atau Fakta Penting

Momen paling krusial dalam perjalanan hidup mereka terjadi saat Aditya lulus dari jenjang SMP. Mak Painah sempat didera kecemasan luar biasa mengenai kelanjutan pendidikan anak asuhnya tersebut. Sebagai seorang lansia dengan pendapatan di bawah garis kemiskinan, biaya SMA tampak seperti gunung yang mustahil didaki.

"Waktu itu saya benar-benar takut dia tidak bisa sekolah lagi karena saya tidak punya biaya," ujar Mak Painah dalam keterangan tertulis yang dirilis oleh Kementerian Sosial, Kamis (28/5/2026).

Ketakutan itu akhirnya sirna saat kabar baik datang. Aditya dinyatakan diterima di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 17 Surakarta. Yang lebih melegakan, sekolah tersebut memberikan fasilitas pendidikan tanpa biaya alias gratis.

"Alhamdulillah saya senang sekali. Sampai nangis karena dia bisa sekolah tanpa biaya, gratis," tuturnya dengan nada haru. Bagi Mak Painah, pendidikan adalah satu-satunya jalan bagi Aditya untuk memutus rantai kemiskinan yang selama ini membelenggu mereka.

Dampak atau Implikasi

Keberlangsungan hidup Mak Painah dan Aditya tidak lepas dari intervensi jaring pengaman sosial yang disediakan pemerintah. Sebagai warga yang masuk dalam kategori rentan, Mak Painah tercatat sebagai penerima manfaat dari berbagai program bantuan sosial.

Terkait:  Libur Idul Adha 2026: Ragunan, Monas, dan TMII Diserbu Ribuan Wisatawan

Berdasarkan data Kementerian Sosial, Mak Painah merupakan penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Memasuki tahun 2025, ia juga berhak menerima bantuan sembako serta bantuan Yatim Piatu (YAPI). Bantuan-bantuan ini menjadi bantalan ekonomi yang sangat krusial, mengingat usia Mak Painah yang sudah tidak lagi produktif secara fisik.

Dukungan pemerintah ini memberikan ruang bagi Mak Painah untuk sedikit bernapas lega. Fokusnya kini bukan lagi sekadar mencari sesuap nasi untuk hari ini, melainkan memastikan Aditya menyelesaikan sekolahnya dengan baik. Kehadiran negara dalam bentuk bantuan tunai dan sembako terbukti menjadi faktor penentu stabilitas hidup keluarga kecil ini di Pucangsawit.

Konteks Tambahan

Kisah Mak Painah adalah potret nyata dari fenomena lansia tangguh di Indonesia yang masih memikul beban domestik di usia senja. Di Kota Surakarta, kasus seperti ini menyoroti pentingnya validitas data kemiskinan agar bantuan seperti PKH dan YAPI tepat sasaran.

SRMA 17 Surakarta, tempat Aditya menimba ilmu, juga menjadi simbol pentingnya akses pendidikan inklusif bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu. Tanpa adanya skema sekolah gratis, anak-anak seperti Aditya berisiko besar putus sekolah dan kehilangan masa depan.

Bagi Mak Painah, Aditya adalah alasan utamanya untuk tetap membuka mata setiap pagi dan berjalan menuju makam. Harapannya sangat sederhana namun mendalam: ia ingin melihat anak yang ia besarkan dari hasil memungut bunga kamboja itu sukses dan memiliki kehidupan yang jauh lebih layak darinya.

"Saya ingin melihat Aditya tumbuh besar, sekolahnya selesai, dan hidupnya lebih baik dari saya," pungkas Mak Painah menutup ceritanya.

Kisah ini menjadi pengingat bagi publik bahwa di balik nisan-nisan sunyi di pemakaman Surakarta, ada perjuangan seorang ibu yang tak kenal lelah merajut asa demi masa depan generasi penerus bangsa.