Kunci Jawaban Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMP Kelas 7 halaman 11 Definisi Al-Qur’an Menurut Para Ulama

masbejo.com-berikut ini Kunci Jawaban Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMP Kelas 7 halaman 11 Definisi Al-Qur’an Menurut Para Ulama.

Aktivitas 1.6

Dengan teman sekelompok, cari definisi Al-Qur’an menurut para ulama. Jawaban ditulis pada buku tugas dan ditampilkan di kelas!

Jawaban:

Definisi Al-Qur’an Menurut Para Ulama
Menurut Badruddin al-Zarkayi dalam al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an dan juga menurut Jalaluddin al-Suyuthi dalam al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, ada perbedaan pendapat mengenai asal usul atau akar kata dari al-Qura’n. Sebagian ulama berpendapat kata al-Qur’an tidak memiliki akar kata, ia merupakan nama khusus yang disematkan untuk menyebut Kalam Allah Swt.

Namun sebagian lain memandang kata al-Qur’an berasal dari kata al-qaraa (القرى) yang artinya mengumpulkan (al-jam’u). Makna “mengumpulkan” ini berdasarkan keyakinan bahwa al-Quran mengumpulkan intisari dari kitab-kitab suci terdahulu.

Berbeda dengan al-Zarkasyi maupun al-Suyuthi, Abdul Azhim al-Zarqani dalam bukunya Manahil al-‘Irfan berpandangan bahwa kata al-Qur’an berakar dari kata qara’a yang artinya “membaca”. Bila merujuk makna ini, maka al-Qur’an berarti “bacaan” atau “yang dibaca” (maqru’). Al-Zarqani melandaskan pendapat ini pada Q.S al-Qiyamah ayat 17-18:

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ () فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

“Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu.”

Al-Quran didefinisikan dari segi terminologi menurut penjelasan Muhammad ‘Abid al-Jabiri dari sekian definisi yang diuraikan sebagai berikut:

القرآن هو كلام الله تعالى المنزل على خاتم أنبيائه محمد المكتوب في المصحف المنقؤل إلينا بالتواتر المتعبد بتلاوته المتحدى بإعجاءه

“Al-Qur’an adalah Kalam Allah Swt yang diturunkan kepada penghujung para Nabi, Muhammad Saw, ditulis dalam mushaf, ditransmisikan secara mutawatir, menjadi ibadah dengan membacanya, dan menjadi penentang/penguat dengan kemukjizatannya.”

Baca Juga :  Jawaban Ayo Berlatih Halaman 190 Pembakaran Tak Sempurna IPA SMA Kelas 10 Kurikulum Merdeka

Pembahasan satu per satu definisi yang sekiranya tidak dapat langsung dipahami di atas.

1. Yang ditulis dalam mushaf, maksudnya apa? Selain dihafal dalam memori para sahabat, sejak awal al-Quran telah diperintahkan oleh Nabi Muhammad Saw untuk dituliskan melalui berbagai media: pelepah kurma, tulang unta, dan sebagainya. Ini menegaskan bahwa al-Qur’an secara historis telah dijaga keotentikannya bahkan segera setelah wahyu diterima Nabi Saw.

Kemudian segera setelah Nabi Saw wafat, para sahabat bersepakat untuk mengumpulkan al-Quran ke dalam satu mushaf. Untuk penjelasan lebih detail soal sejarah penulisan al-Qur’an baik dari segi tulisannya (khat) hingga sekarang bisa dicetak, diterbitkan, ada lembaga tashih yang ikut menjaga kemurnian al-Quran dan lain sebagainya akan dibahas pada topik tersendiri.

2. Ditransmisikan secara mutawatir. Istilah Mutawatir lebih akrab dikenal dalam dunia periwayatan hadis. Secara harfiah mutawatir berarti “berturut-turut atau beruntun”, tetapi dalam ilmu hadis istilah ini merujuk pada kriteria kuantitas periwayat hadis yang menandakan sebuah hadis diriwayatkan oleh banyak periwayat. Setidaknya ada empat kriteria menurut Mahmud Thahhan ketika sebuah riwayat dinyatakan mutawatir. Pertama jumlah perawi minimal 10 orang. Kedua jumlah minimal tersebut harus terpenuhi dari setiap generasi periwayat. Ketiga, dengan banyaknya jumlah tersebut sehingga mustahil bagi para periwayat untuk bersepakat bohong. Keempat para perawi menyaksikan langsung dengan panca indera proses transmisinya.

Al-Quran sudah dapat dipastikan sebagai kitab suci yang mutawatir. Karena sejak awal masa kenabian ia telah menjadi fokus utama Nabi Muhammad Saw beserta para sahabat. Mereka mencatat, menghafal, mengajarkan, dan mempraktikkan ajaran al-Qur’an. Dari generasi ke genarsi al-Qur’an terus diajarkan dan dihafal sehingga tidak ada sejarawan yang menyangkal keotentikannya.

Baca Juga :  Jawaban amati dan deskripsikan kerusakan lingkungan yang terjadi di sekitar kalian

3. Menjadi ibadah ketika membacanya. Pada poin inilah al-Quran dibedakan dengan hadis qudsi. Meskipun sama-sama diyakini sebagai wahyu Allah secara verbal, al-Qur’an merupakan Firman Allah Swt yang dikhususkan dan menjadi ibadah bagi umat muslim ketika membacanya. Ibadah ini berkait kelindan dengan pahala yang dapat diraih oleh umat muslim terlepas dari paham dan tidaknya mereka dengan apa yang dibaca. Ada banyak riwayat hadis sahih yang menerangkan keutamaan membaca al-Qru’an, satu di antara yang paling populer adalah riwayat dari Ibnu Mas’ud:

عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Dari ‘Abdullah ibn Mas‘ud, ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lâm mîm satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lâm satu huruf, dan mîm satu huruf,” (HR. At-Tirmidzi).

4. Al-Qur’an didefinisikan sebagai penentang dengan kemukjizatannya. Inilah yang paling menonjol dalam al-Quran ketika pertama kali ia diwahyukan terutama saat dihadapkan pada orang-orang kafir Quraisy. Kebiasaan Arab yang sangat menghormati syair dan nilai sastra yang tinggi, tidak dapat mengalahkan kesusastraan al-Qur’an yang begitu indah dan penuh dengan nilai moral yang luhur. Tidak ada seorang pun penyair Arab yang mampu menandingi kehebatan dan keagungan bahasa al-Qur’an. Terdapat ayat al-Qur’an yang menantang secara terbuka para penyair untuk membuat semacam al-Qur’an, tetapi mereka tidak mampu. Satu di antaranya Allah berfirman:

Baca Juga :  Kunci Jawaban PAI Kelas 4 Halaman 86 Intisari Cerita Perjalanan ke Madinah

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

“Katakanlah, sungguh jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.”

 

Demikian pembahasan Kunci Jawaban Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMP Kelas 7 halaman 11 Definisi Al-Qur’an Menurut Para Ulama. Semoga bermanfaat.