Menhan Pakistan Sebut Israel Kutukan Kemanusiaan dan Negara Kanker

masbejo.com – Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, melontarkan kecaman luar biasa keras terhadap Israel dengan menyebut negara tersebut sebagai "kutukan bagi umat manusia" dan "negara kanker". Pernyataan tajam ini muncul di tengah eskalasi serangan militer Israel ke Lebanon yang terus memakan korban jiwa, meskipun upaya diplomasi internasional sedang diupayakan di Islamabad.

Fakta Utama Peristiwa

Ketegangan diplomatik di tingkat global kembali memanas setelah Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, mengeluarkan pernyataan kontroversial melalui media sosial X. Asif secara terbuka mengutuk tindakan militer Israel di Lebanon sebagai bentuk genosida yang tidak berperikemanusiaan.

Kecaman ini bukan sekadar retorika politik biasa. Pernyataan tersebut keluar tepat saat Pakistan sedang memainkan peran krusial sebagai mediator dalam perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Di saat Islamabad berupaya mendinginkan suasana, Israel justru meningkatkan intensitas serangannya di wilayah Lebanon yang menjadi basis kelompok Hizbullah.

Asif menegaskan bahwa Israel telah melampaui batas-batas kemanusiaan. Ia menyoroti bagaimana pertumpahan darah yang bermula di Gaza, kemudian merembet ke Iran, kini telah meluas secara brutal ke Lebanon. Bagi pemerintah Pakistan, tindakan Israel adalah penghalang utama bagi terciptanya stabilitas di kawasan Timur Tengah.

Kronologi dan Eskalasi di Lebanon

Situasi di lapangan menunjukkan kontradiksi yang tajam antara upaya meja perundingan dan realitas di medan tempur. Sejak Rabu (8/4/2026), militer Israel dilaporkan telah meningkatkan serangan udara secara masif di berbagai wilayah Lebanon.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Anadolu Agency, serangan udara dalam beberapa hari terakhir telah menewaskan sedikitnya 303 orang dan menyebabkan 1.150 orang lainnya luka-luka. Angka korban sipil yang terus meroket inilah yang memicu kemarahan besar dari pihak Pakistan.

Terkait:  Mendagri: Inflasi 3 Provinsi Terdampak Bencana di Sumatera Membaik

Ironisnya, eskalasi ini terjadi tepat setelah adanya pengumuman mengenai kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran pada Selasa (7/4/2026). Pakistan dan Iran menegaskan bahwa kesepakatan tersebut seharusnya mencakup penghentian permusuhan di Lebanon. Namun, Israel secara sepihak membantah hal tersebut dan terus melanjutkan operasi militernya.

Pernyataan Keras Khawaja Muhammad Asif

Dalam unggahannya yang viral, Khawaja Muhammad Asif tidak ragu menggunakan diksi yang sangat keras untuk menggambarkan posisi Israel di mata dunia internasional. Ia menyebut Israel sebagai entitas "jahat" yang dipaksakan berdiri di atas tanah Palestina.

"Israel itu jahat dan kutukan bagi umat manusia. Sementara perundingan damai sedang berlangsung di Islamabad, genosida sedang dilakukan di Lebanon," tulis Asif dengan nada geram.

Lebih jauh, ia menggambarkan Israel sebagai "negara kanker" yang secara paksa ditanamkan di jantung dunia Arab. Asif juga melontarkan pernyataan emosional terhadap pihak-pihak yang membidani kelahiran negara Israel di masa lalu.

"Saya berharap dan berdoa agar orang-orang yang menciptakan negara kanker ini di tanah Palestina, yang bertujuan untuk menyingkirkan orang-orang Yahudi di Eropa, terbakar di neraka," tegasnya. Pernyataan ini mencerminkan rasa frustrasi mendalam Pakistan terhadap ketidakmampuan komunitas internasional menghentikan agresi Israel.

Sikap Keras Benjamin Netanyahu

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tetap menunjukkan sikap tidak kompromi. Melalui pesan video resmi, Netanyahu menegaskan bahwa tidak akan ada gencatan senjata untuk wilayah Lebanon dalam waktu dekat.

Netanyahu menetapkan tiga syarat mutlak sebelum Israel bersedia menghentikan serangannya:

  1. Keamanan penduduk di wilayah utara Israel harus dipulihkan sepenuhnya.
  2. Kelompok Hizbullah harus dilucuti senjatanya.
  3. Tercapainya kesepakatan perdamaian yang permanen.

"Tidak ada gencatan senjata di Lebanon hingga keamanan dipulihkan bagi para penduduk di utara, Hizbullah dilucuti senjatanya, dan kesepakatan perdamaian tercapai," ujar Netanyahu. Ia mengklaim bahwa posisi kuat Israel saat ini justru akan membawa transformasi dalam hubungan diplomatik di masa depan, meskipun klaim ini ditentang keras oleh banyak negara Muslim.

Terkait:  Prabowo Tawarkan Mediasi Konflik Timur Tengah, Iran Sambut

Diplomasi di Balik Layar: Negosiasi Washington

Meskipun retorika perang terus berkobar, jalur diplomasi tidak sepenuhnya tertutup. Netanyahu dikabarkan telah menginstruksikan pejabat Tel Aviv untuk memulai negosiasi langsung dengan pemerintah Beirut.

Amerika Serikat dijadwalkan akan menjadi tuan rumah bagi negosiasi langsung ini pada pekan depan di gedung Departemen Luar Negeri, Washington DC. Pertemuan ini dianggap sangat krusial untuk mencegah perang regional yang lebih luas.

Beberapa tokoh kunci yang akan hadir dalam pertemuan di Washington antara lain:

  • Yechiel Leiter: Duta Besar Israel untuk AS.
  • Nada Hamadeh-Moawad: Duta Besar Lebanon untuk AS.
  • Michel Issa: Duta Besar AS untuk Lebanon yang bertindak sebagai mediator.

Namun, media lokal Israel, Channel 14, melaporkan bahwa negosiasi ini kemungkinan besar akan berlangsung "di bawah serangan". Artinya, Israel tidak akan menghentikan pemboman di Lebanon selatan meskipun delegasi mereka sedang duduk di meja perundingan.

Dampak dan Konteks Geopolitik

Kritik tajam dari Pakistan ini menandai babak baru dalam ketegangan hubungan antara negara-negara mayoritas Muslim dengan Israel. Sebagai negara dengan kekuatan nuklir, posisi Pakistan yang sangat vokal dapat memengaruhi opini publik di dunia Islam dan menekan Amerika Serikat untuk bertindak lebih tegas terhadap sekutunya, Israel.

Ketidakjelasan mengenai cakupan gencatan senjata antara AS dan Iran juga menciptakan kebingungan diplomatik. Jika Israel terus menyerang Lebanon, ada risiko besar bahwa Iran akan merasa dikhianati dalam kesepakatan tersebut, yang pada gilirannya dapat memicu balasan langsung dari Teheran.

Krisis kemanusiaan di Lebanon kini menjadi perhatian utama dunia. Dengan ratusan korban jiwa dalam hitungan hari, tekanan internasional terhadap Israel diperkirakan akan terus meningkat menjelang pertemuan di Washington. Dunia kini menunggu apakah diplomasi di Amerika Serikat mampu meredam "kutukan" perang yang disebut oleh Menhan Pakistan, atau justru kawasan tersebut akan semakin tenggelam dalam kehancuran yang lebih dalam.