Ringkasan Peristiwa
Iran menghadapi kekosongan kepemimpinan setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Situasi ini memicu pencarian mendesak untuk pengganti yang akan memimpin rezim ulama tersebut. Kematian Khamenei, yang telah memerintah selama hampir empat dekade, menciptakan tantangan signifikan bagi stabilitas politik Iran, terutama karena tidak ada penerus resmi yang diumumkan sebelumnya. Majelis Pakar, sebuah badan yang terdiri dari 88 ulama senior, kini memiliki tugas krusial untuk memilih pemimpin baru, sebuah proses yang hanya pernah terjadi sekali sejak Revolusi Islam 1979.
Latar Belakang dan Konteks
Ayatollah Ali Khamenei telah memimpin Iran dengan tangan besi selama hampir empat dekade, sejak terpilih secara tergesa-gesa setelah kematian Ayatollah Ruhollah Khomeini lebih dari tiga dekade lalu. Selama masa kepemimpinannya, ia tidak pernah secara resmi mengumumkan penerus, meninggalkan rezim ulama dalam situasi genting pasca-kematiannya. Majelis Pakar, yang beranggotakan 88 ulama senior, adalah satu-satunya badan yang berwenang memilih pemimpin tertinggi. Tugas ini hanya pernah mereka lakukan sekali sebelumnya, yaitu saat memilih Khamenei sendiri. Pemerintah Iran berupaya cepat untuk menunjukkan stabilitas di republik tersebut di tengah tantangan ini.

Kronologi Kejadian
Serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan terjadi pada Sabtu, 28 Februari 2026, dengan asap mengepul terlihat di langit Teheran. Menyusul peristiwa tersebut, pemerintah Iran segera membentuk dewan beranggotakan tiga orang yang terdiri dari presiden negara, kepala kehakiman, dan salah satu ahli hukum Dewan Penjaga Konstitusi. Dewan ini akan mengambil alih semua tugas kepemimpinan sementara. Para anggota Majelis Pakar juga disebut segera berkumpul untuk membahas calon-calon yang mungkin sebelum menunjuk pengganti Khamenei.
Poin Penting
- Kualifikasi Pemimpin Baru: Konstitusi Iran menetapkan bahwa pemimpin baru harus seorang laki-laki, ulama dengan kompetensi politik, otoritas moral, dan loyalitas kepada Republik Islam. Majelis Pakar dapat menafsirkan aturan ini untuk mengecualikan ulama reformis yang mendukung kebebasan sosial yang lebih besar dan keterlibatan dengan dunia luar.
- Kandidat Potensial:
- Mojtaba Khamenei (56): Putra kedua Khamenei, dikenal memiliki pengaruh signifikan di balik layar dan hubungan kuat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) serta pasukan paramiliter sukarelawan Basij. Namun, suksesi dari ayah ke anak tidak disukai dalam kalangan ulama Syiah, dan ia bukan ulama berpangkat tinggi. Ia dikenai sanksi oleh AS pada 2019.
- Alireza Arafi (67): Ulama terkemuka dan orang kepercayaan Khamenei, menjabat sebagai wakil ketua Majelis Pakar dan anggota Dewan Penjaga. Ia juga kepala sistem seminari Iran, mahir dalam teknologi, serta fasih berbahasa Arab dan Inggris. Namun, ia tidak dikenal sebagai tokoh politik berpengaruh.
- Mohammad Mehdi Mirbagheri (60): Ulama garis keras dan anggota Majelis Pakar, mewakili sayap paling konservatif. Ia sangat menentang Barat dan memimpin Akademi Ilmu-Ilmu Islam di Qom.
- Hassan Khomeini (50): Cucu dari pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang memberinya legitimasi religius. Ia dikenal kurang garis keras dibandingkan banyak rekan-rekannya dan dilarang mencalonkan diri untuk Majelis Pakar pada 2016.
- Hashem Hosseini Bushehri (60-an): Ulama senior yang terkait erat dengan lembaga-lembaga yang mengelola suksesi, khususnya Majelis Pakar, di mana ia menjabat sebagai wakil ketua pertama. Ia disebut dekat dengan Khamenei tetapi memiliki profil rendah di dalam negeri.
- Skenario Lain: Aljazeera melaporkan bahwa Ali Khamenei, sebelum kematiannya, telah memberikan empat nama, namun belum ada informasi siapa saja nama-nama tersebut. Skenario lain ialah adanya dewan yang terdiri dari empat orang untuk menjalankan negara sampai pemimpin baru terpilih.
Dampak dan Implikasi
Proses suksesi ini memiliki implikasi politik yang mendalam bagi Iran, baik di dalam negeri maupun di panggung internasional. Pemerintah Iran berupaya keras untuk menunjukkan stabilitas di tengah kekosongan kepemimpinan. Namun, ketidakpastian ini diperparah oleh ancaman Presiden AS Donald Trump yang bersumpah pengeboman yang menargetkan rezim tersebut akan berlanjut, menimbulkan pertanyaan apakah Majelis Pakar berani mengadakan pertemuan terbuka dalam kondisi tersebut. Pemilihan pemimpin baru akan menentukan arah kebijakan Iran ke depan, termasuk hubungannya dengan dunia luar dan reformasi internal.
Pernyataan Resmi
Belum ada pernyataan resmi yang dirinci mengenai detail serangan yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei atau proses pemilihan pemimpin baru secara spesifik. Namun, pemerintah Iran telah mengumumkan pembentukan dewan sementara ber