Ringkasan Peristiwa
PT Pertamina (Persero) telah menyediakan akses air bersih bagi ribuan warga di Papua dan penyintas bencana di Sumatra, mengatasi krisis air yang sebelumnya mengandalkan sumber tidak layak konsumsi. Inisiatif ini, yang bertepatan dengan Hari Air Sedunia, menyoroti peran BUMN dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di daerah terpencil dan terdampak bencana, sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Program ini secara langsung meningkatkan kualitas hidup dan martabat kemanusiaan bagi lebih dari 21.000 jiwa, mengurangi ketergantungan pada air tercemar dan memperkuat ketahanan komunitas.
Latar Belakang dan Konteks
Selama bertahun-tahun, ribuan warga Kampung Tambat di Merauke, Papua, harus bergantung pada tampungan air hujan atau sumur manual dengan air berbau belerang yang berisiko kesehatan. Kepala Kampung Tambat, Samuel Heremba, mengenang masa-masa sulit tersebut, di mana air sumur tidak aman untuk digunakan. Kondisi serupa, namun dalam balutan duka berbeda, dirasakan para penyintas bencana di Sumatra. Banjir dan lumpur sempat merenggut akses air bersih, menyisakan keputusasaan bagi warga yang terpaksa menyaring air parit yang keruh, bahkan disebut ‘air cappuccino’ karena warnanya yang cokelat pekat.
Kronologi Kejadian
Merespons kondisi kritis tersebut, Pertamina melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bergerak cepat. Pada awal tahun 2026, Pertamina membangun tujuh titik sumur bor di Merauke dan Jayapura, dilengkapi dengan reservoir penampungan dan fasilitas penyaringan. Fasilitas ini kini melayani 4.585 jiwa yang sebelumnya kesulitan mengakses air layak konsumsi.
Di wilayah bencana Sumatra, Pertamina membangun 25 sumur baru, mereaktivasi 43 sumur warga yang terdampak, serta menyalurkan 5 juta liter air bersih melalui truk tangki. Langkah ini menjadi napas baru bagi lebih dari 17.000 jiwa penerima manfaat di wilayah tersebut, dengan bantuan air mulai masuk sekitar dua minggu setelah kejadian bencana.
Poin Penting
- Pertamina membangun 7 titik sumur bor dilengkapi filter dan pipa aliran di Merauke serta Jayapura, melayani 4.585 jiwa.
- Di Sumatra, 25 sumur baru dibangun, 43 sumur direaktivasi, dan 5 juta liter air disalurkan melalui truk tangki, menjangkau lebih dari 17.000 jiwa.
- Total lebih dari 21.000 jiwa di Papua dan Sumatra menerima manfaat langsung dari program air bersih ini.
- Inisiatif ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).
Dampak dan Implikasi
Program penyediaan fasilitas air bersih ini secara signifikan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di daerah terpencil dan terdampak bencana. Bagi warga Kampung Tambat, kekhawatiran terhadap kandungan belerang atau kesulitan air saat musim kemarau kini meluruh, dengan akses air yang jauh lebih bersih dan penampungan yang memadai. Di Sumatra, bantuan air bersih ini sangat membantu para penyintas untuk menata kembali hidup mereka setelah bencana. Inisiatif ini juga memperkuat ketangguhan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim, seperti kekeringan dan bencana alam, sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan.
Pernyataan Resmi
Samuel Heremba, Kepala Kampung Tambat, dalam keterangan tertulis pada 24 Maret 2026, menyatakan, "Dulu kami sangat mengandalkan tampungan air hujan. Ada sumur, tapi airnya mengandung belerang, kurang aman untuk digunakan." Ia menambahkan, "Kini masyarakat tidak lagi khawatir terhadap kandungan belerang atau kesulitan air saat musim kemarau. Airnya sudah jauh lebih bersih dan penampungannya sangat cukup."
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan, "Bagi Pertamina, inisiatif air bersih ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik, melainkan upaya menjaga martabat kemanusiaan di wilayah yang paling membutuhkan. Program ini menjadi jembatan harapan agar warga di pelosok Papua hingga penyintas bencana di Sumatra bisa mulai menata hidup kembali dengan layak."
Yanti, salah seorang penyintas bencana Sumatra, mengungkapkan, "Sangat membantu sekali air bersih ini. Sebelumnya kami pakai air parit. Begitu bantuan air ini masuk sekitar dua minggu setelah kejadian, kami benar-benar terbantu."
Perkembangan Selanjutnya
Pertamina menyatakan akan terus berkomitmen dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui program-program serupa di masa mendatang, meskipun detail mengenai rencana spesifik belum dirinci.