masbejo.com – Kepolisian Daerah Sumatera Selatan (Polda Sumsel) memberikan pengawalan khusus dalam proses pemulangan jenazah Muhamad Tahrul Hubaidi (31), korban kecelakaan maut Bus ALS, dari wilayah Sumatera Selatan menuju kampung halamannya di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, pada Sabtu dini hari.
Fakta Utama Peristiwa
Tragedi kecelakaan lalu lintas yang melibatkan Bus ALS dan sebuah truk tangki di Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), kembali memakan korban jiwa. Muhamad Tahrul Hubaidi, salah satu penumpang yang sempat bertahan dalam masa kritis, akhirnya dinyatakan meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif.
Korban merupakan warga asli Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, yang sedang dalam perjalanan saat insiden maut itu terjadi. Luka berat yang dialami almarhum membuat tim medis di RSUD Rupit bekerja keras melakukan penanganan darurat, namun takdir berkata lain. Kepergian almarhum menambah duka mendalam bagi keluarga besar korban dan menjadi perhatian serius jajaran kepolisian setempat.
Sebagai bentuk penghormatan dan pelayanan kemanusiaan, Polda Sumsel memastikan seluruh proses pemulangan jenazah, mulai dari pemulasaran hingga perjalanan lintas provinsi, mendapatkan pengawalan ketat guna menjamin kelancaran dan keamanan hingga sampai ke rumah duka.
Kronologi dan Detail Proses Pemulasaran
Setelah dinyatakan meninggal dunia oleh pihak rumah sakit, jenazah Muhamad Tahrul Hubaidi segera dipindahkan dari RSUD Rupit menuju Rumah Sakit Siti Aisyah Lubuk Linggau. Proses ini dilakukan untuk tahap pemulasaran jenazah yang lebih lengkap.
Tiba di Lubuk Linggau sekitar pukul 18.35 WIB, jenazah langsung ditangani oleh petugas untuk dimandikan, dikafani, dan dimasukkan ke dalam peti jenazah sesuai dengan protokol kesehatan dan keagamaan. Langkah ini dilakukan dengan penuh khidmat sebelum jenazah melanjutkan perjalanan panjang menuju Pulau Jawa.
Dari Lubuk Linggau, ambulans yang membawa jenazah tidak langsung menuju Tegal, melainkan diarahkan terlebih dahulu ke RS Bhayangkara Polda Sumsel di Palembang. Persinggahan ini bertujuan untuk melengkapi seluruh administrasi dan dokumen kepolisian yang diperlukan, mengingat status almarhum sebagai korban kecelakaan lalu lintas yang memerlukan legalitas formal untuk proses asuransi maupun keperluan hukum lainnya.
Pengawalan Estafet Lintas Kabupaten
Salah satu poin krusial dalam pemulangan ini adalah sistem pengawalan estafet yang diterapkan oleh jajaran Satlantas Polda Sumsel. Mengingat jarak tempuh yang sangat jauh dan medan jalan lintas Sumatera yang menantang, kepolisian tidak ingin mengambil risiko terhadap keamanan iring-iringan jenazah.
Sekitar pukul 20.00 WIB, perjalanan dari Lubuk Linggau menuju Palembang dimulai. Pengawalan dilakukan secara bergantian oleh personel Satlantas di setiap wilayah hukum yang dilintasi. Rute panjang ini mencakup:
- Kabupaten Musi Rawas Utara
- Kota Lubuk Linggau
- Kabupaten Musi Rawas
- Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI)
- Kabupaten Muara Enim
- Kota Prabumulih
- Hingga akhirnya tiba di RS Bhayangkara Palembang.
Sistem estafet ini memastikan bahwa setiap unit pengawal memahami medan di wilayahnya masing-masing, sehingga ambulans dapat melaju dengan kecepatan yang stabil namun tetap aman. Koordinasi antar-Polres di jajaran Polda Sumsel ini menunjukkan kesigapan Polri dalam merespons musibah yang menimpa warga.
Pernyataan Resmi dan Empati Polri
Kapolres Musi Rawas Utara, Kombes Rendy Surya Aditama, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas meninggalnya almarhum. Ia menegaskan bahwa pihak kepolisian berupaya semaksimal mungkin untuk membantu meringankan beban keluarga korban.
"Kami turut berduka cita atas meninggalnya Almarhum Muhamad Tahrul Hubaidi. Semoga almarhum husnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, serta keikhlasan menghadapi musibah ini," ujar Kombes Rendy Surya Aditama dalam keterangan resminya.
Senada dengan hal tersebut, Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Nandang Mu’min Wijaya menekankan bahwa tindakan ini adalah wujud nyata dari pelayanan kemanusiaan. Menurutnya, Polri tidak hanya bertugas dalam penegakan hukum, tetapi juga harus hadir sebagai pelindung dan pelayan masyarakat di saat-saat sulit.
"Polda Sumsel bersama jajaran berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada keluarga korban, mulai dari penanganan medis, proses administrasi hingga pengawalan pemulangan jenazah ke daerah asal. Ini merupakan bentuk empati dan tanggung jawab kemanusiaan kami agar seluruh proses berjalan aman, lancar, dan memberikan ketenangan bagi keluarga," tegas Kombes Nandang Mu’min Wijaya.
Dampak dan Implikasi Pelayanan Publik
Langkah Polda Sumsel dalam mengawal jenazah korban kecelakaan hingga ke luar provinsi memberikan dampak positif terhadap persepsi publik mengenai kinerja kepolisian. Pelayanan yang melampaui tugas rutin ini menunjukkan sisi humanis Polri yang sering kali luput dari perhatian.
Bagi keluarga korban di Tegal, kepastian bahwa jenazah anggota keluarga mereka dikawal oleh aparat memberikan rasa tenang di tengah duka yang menyelimuti. Proses administrasi yang dibantu sepenuhnya di RS Bhayangkara juga memangkas birokrasi yang biasanya menyulitkan warga sipil dalam situasi darurat.
Sekitar pukul 03.00 WIB pada Sabtu dini hari, 9 Mei 2026, jenazah akhirnya diberangkatkan dari Palembang menuju Kabupaten Tegal. Perjalanan ini menyeberangi Selat Sunda dan melintasi jalur tol Trans-Jawa, dengan harapan almarhum dapat segera dimakamkan di tanah kelahirannya sesuai permintaan pihak keluarga.
Konteks Tambahan: Keamanan Jalur Lintas Sumatera
Kecelakaan yang melibatkan Bus ALS (Antar Lintas Sumatera) ini kembali menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan di jalur lintas Sumatera. Jalur di wilayah Musi Rawas Utara dikenal memiliki karakteristik jalan yang lurus namun rawan titik lelah bagi pengemudi.
Insiden antara bus penumpang dan truk tangki sering kali berakibat fatal karena perbedaan massa kendaraan yang besar. Polda Sumsel terus mengimbau kepada para penyedia jasa transportasi umum untuk memastikan kondisi fisik pengemudi dalam keadaan prima dan kendaraan layak jalan guna mencegah terulangnya tragedi serupa.
Dengan selesainya proses pengawalan ini, Polda Sumsel memberikan apresiasi kepada seluruh personel yang terlibat dalam pengawalan estafet. Sinergi lintas wilayah ini menjadi bukti bahwa koordinasi yang baik dapat memberikan pelayanan publik yang cepat, tepat, dan bermartabat, bahkan dalam situasi penuh duka sekalipun.