Sri Lanka Pulangkan Awak Kapal Iran Korban Serangan AS

Ringkasan Peristiwa

Sebanyak 22 awak kapal perang Iran, IRIS Dena, telah dipulangkan dari rumah sakit di Sri Lanka setelah kapal mereka tenggelam akibat ditorpedo oleh kapal selam Amerika Serikat (AS) di lepas pantai Sri Lanka pada Rabu (4/3). Insiden ini menyebabkan puluhan korban jiwa dan orang hilang, dengan 10 awak lainnya masih menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Karapitiya, Galle.

Peristiwa ini menjadi sorotan global mengingat terjadi di tengah meluasnya konflik yang dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran. Tenggelamnya IRIS Dena menandai serangan militer pertama yang terjadi jauh di luar kawasan Timur Tengah sejak perang tersebut dimulai seminggu sebelumnya. Sri Lanka kini menghadapi dinamika geopolitik kompleks, berupaya menavigasi situasi ini sesuai hukum internasional dan kemanusiaan.

Latar Belakang dan Konteks

Tenggelamnya kapal perang IRIS Dena terjadi saat ketegangan di Timur Tengah memuncak. Perang yang dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel sejak akhir pekan terus meluas di kawasan tersebut, menciptakan dampak yang terasa hingga ke Samudra Hindia. Insiden ini menjadi indikasi pertama perluasan konflik militer ke wilayah yang lebih jauh dari pusat ketegangan tradisional.

Selain IRIS Dena, kapal kedua Iran, IRIS Bushehr, dengan 219 pelaut, juga diizinkan memasuki perairan Sri Lanka setelah insiden tersebut. Kehadiran dua kapal perang Iran di perairan Sri Lanka, salah satunya menjadi korban serangan militer, menempatkan negara kepulauan tersebut dalam posisi yang sensitif di panggung internasional.

Kronologi Kejadian

Kapal perang Iran, IRIS Dena, tenggelam di lepas pantai Sri Lanka pada Rabu (4/3) waktu setempat setelah ditorpedo oleh kapal selam AS. Angkatan Laut Sri Lanka segera melakukan operasi penyelamatan, berhasil menyelamatkan sekitar 32 tentara Iran yang sebagian besar mengalami luka-luka. Para korban selamat kemudian dirawat di Rumah Sakit Karapitiya di kota pelabuhan Galle.

Terkait:  Omzet Takjil Benhil Anjlok, Pedagang Keluhkan Cuaca dan Sepi

Pada Minggu (8/3/2026), 22 awak kapal yang berhasil diselamatkan dan telah pulih dipulangkan dari rumah sakit dan dibawa ke sebuah resor pantai di distrik yang sama. Sementara itu, 10 awak lainnya masih memerlukan perawatan medis. Angkatan Laut Sri Lanka telah mengakhiri pencarian korban, dengan perkiraan resmi Sri Lanka menyebutkan lebih dari 60 orang masih hilang. Laporan sebelumnya juga menyebutkan 61 tentara lainnya masih hilang. Jenazah 84 warga Iran yang ditemukan dari Samudra Hindia juga berada di rumah sakit tersebut, sementara laporan lain menyebutkan sedikitnya 87 jenazah tentara Iran telah dievakuasi.

Awak kapal IRIS Bushehr yang berjumlah 219 orang telah dipindahkan ke kamp Angkatan Laut Sri Lanka di Welisara, tepat di utara ibu kota Kolombo. Kapal Bushehr sendiri telah diambil alih oleh angkatan laut Sri Lanka dan rencananya akan dibawa ke pelabuhan Trincomalee di timur laut. Namun, pemindahan ini tertunda akibat kerusakan mesin serta masalah teknis dan administratif lainnya.

Poin Penting

  • Kapal perang Iran IRIS Dena tenggelam di lepas pantai Sri Lanka akibat torpedo kapal selam AS pada Rabu (4/3).
  • Sebanyak 22 awak kapal Iran telah dipulangkan dari rumah sakit Sri Lanka, sementara 10 lainnya masih dirawat.
  • Lebih dari 60 orang diperkirakan hilang, dan puluhan jenazah telah ditemukan.
  • Insiden ini terjadi di tengah meluasnya konflik AS-Israel dengan Iran, menandai serangan militer pertama di luar Timur Tengah.
  • Kapal Iran kedua, IRIS Bushehr, dengan 219 pelaut, juga berada di perairan Sri Lanka dan telah diambil alih oleh angkatan laut setempat.

Dampak dan Implikasi

Insiden tenggelamnya IRIS Dena memiliki dampak signifikan pada beberapa tingkatan. Secara kemanusiaan, banyaknya korban jiwa dan orang hilang menimbulkan kebutuhan mendesak akan penanganan medis, identifikasi jenazah, dan proses repatriasi. Secara geopolitik, serangan ini memperluas jangkauan konflik AS-Iran ke Samudra Hindia, meningkatkan ketegangan di jalur pelayaran internasional yang vital.

Terkait:  Serangan Iran Rusak Pabrik Desalinasi Bahrain, Tiga Warga Terluka

Bagi Sri Lanka, insiden ini menghadirkan tantangan diplomatik dan logistik. Negara tersebut harus menyeimbangkan hubungan internasionalnya, terutama dengan AS dan Iran, sambil tetap mematuhi prinsip-prinsip hukum humaniter internasional dalam penanganan korban selamat dan jenazah. Peran Sri Lanka dalam menyediakan tempat perlindungan bagi pelaut Iran dan mengelola kapal yang rusak juga menyoroti urgensi penegakan hukum maritim internasional di tengah krisis.

Pernyataan Resmi

Pihak berwenang Sri Lanka membantah klaim bahwa mereka berada di bawah tekanan dari Washington untuk menghentikan kepulangan warga Iran. Sri Lanka menegaskan akan sepenuhnya berpedoman pada hukum internasional dan undang-undang domestiknya sendiri dalam menangani situasi ini. Otoritas Sri Lanka menyatakan bahwa para korban selamat dari kapal Dena ditangani sesuai dengan hukum humaniter internasional dan telah menghubungi Komite Palang Merah Internasional (ICRC) untuk meminta bantuan.

Angkatan Laut Sri Lanka juga telah mengumumkan penghentian pencarian untuk para korban kapal tersebut.

Perkembangan Selanjutnya

Saat ini, 10 awak kapal Iran masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Karapitiya. Nasib lebih dari 60 orang yang masih hilang setelah Angkatan Laut Sri Lanka mengakhiri pencarian belum ada kepastian. Sementara itu, kapal IRIS Bushehr yang telah diambil alih oleh Angkatan Laut Sri Lanka masih menunggu pemindahan ke pelabuhan Trincomalee. Pemindahan ini tertunda karena kerusakan mesin dan masalah teknis serta administratif lainnya yang masih dalam pendalaman.