Ringkasan Peristiwa
Sinyal Super El Nino atau ‘Godzilla El Nino’ memicu kekhawatiran serius akan potensi kekeringan panjang dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dahsyat di Indonesia. Fenomena ini diprediksi dapat mengulang skala bencana karhutla seperti yang terjadi pada tahun 1997-1998. Pakar Institut Pertanian Bogor (IPB), Bambang Hero Saharjo, mengingatkan bahwa kondisi pemanasan suhu permukaan laut Samudra Pasifik tropis yang mencapai 2,7°C di atas rata-rata ini persis seperti pemicu karhutla masif yang menghanguskan 10-11 juta hektare lahan dan menewaskan 500 jiwa kala itu. Ancaman ini menuntut perhatian ekstra serius dan langkah proaktif dari pemerintah serta seluruh elemen masyarakat untuk mencegah kabut asap melumpuhkan wilayah nusantara dan dampak lingkungan serta kesehatan yang lebih luas.
Latar Belakang dan Konteks
Istilah ‘Super El Nino’ merujuk pada fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis yang mencapai setidaknya 2,7°C di atas rata-rata. Kondisi ini memicu pergeseran sirkulasi atmosfer global yang berujung pada cuaca ekstrem, termasuk kekeringan panjang di sebagian besar wilayah Indonesia. Bambang Hero Saharjo menegaskan bahwa situasi ini sangat mirip dengan kondisi yang mendahului karhutla dahsyat pada 1997-1998, yang menyebabkan kerugian ekologis dan korban jiwa yang signifikan.
Berdasarkan studi terbaru yang dimuat dalam Nature Communications pada tahun 2025, peringatan dini dan langkah proaktif menjadi kunci mutlak dalam menghadapi ancaman Super El Nino. Studi tersebut menggarisbawahi urgensi mitigasi komprehensif untuk mencegah terulangnya bencana serupa.
Kronologi Kejadian
Peringatan mengenai potensi karhutla dahsyat ini disampaikan oleh Bambang Hero Saharjo saat meninjau lokasi karhutla bersama Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan di Bengkalis, Riau, pada Jumat (3/4/2026). Dalam peninjauan tersebut, Bambang menyoroti kondisi tinggi muka air parit yang mencapai lebih dari 40 centimeter. Ia menjelaskan bahwa kondisi aman seharusnya kurang dari 40 centimeter, mengindikasikan tingkat kekeringan yang mengkhawatirkan.
Bambang juga memperingatkan bahwa fenomena Super El Nino ini berpotensi menimbulkan karhutla yang semakin dahsyat. Ia menekankan bahwa kondisi akan "makin ke sana itu akan makin dahsyat, makin kering dan kita kekurangan air," menyoroti eskalasi risiko seiring berjalannya waktu.
Poin Penting
- Mitigasi Komprehensif: Diperlukan mitigasi yang lebih komprehensif dan proaktif dalam menghadapi ancaman Super El Nino.
- Fokus Pengawasan: Prioritas pengawasan harus difokuskan pada wilayah rawan tradisional seperti Sumatera dan Kalimantan, serta Nusa Tenggara dan provinsi lain yang segera memasuki musim kemarau.
- Green Policing: Program Green Policing yang diinisiasi oleh Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, melalui aksi masif penanaman pohon, dinilai sebagai langkah strategis yang dapat mencegah karhutla yang lebih buruk dan menekan emisi gas rumah kaca.
- Penanganan Kolaboratif: Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan menekankan pentingnya sinergi lintas instansi, melibatkan Polda Riau, Kodam Tuanku Tambusai, Pemerintah Daerah, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga BPBD, untuk penanganan karhutla yang tidak bisa dilakukan secara parsial. Pencarian titik api harus dilakukan secara strategis dan sistematis untuk mencegah perluasan api.
Dampak dan Implikasi
Ancaman Super El Nino membawa implikasi serius terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat. Potensi kekeringan panjang akan meningkatkan risiko karhutla yang lebih dahsyat, mengancam keanekaragaman hayati, dan menyebabkan kabut asap yang berdampak buruk pada kesehatan publik serta aktivitas ekonomi. Jika langkah penanaman pohon tidak diimbangi, emisi gas rumah kaca yang dilepaskan dari karhutla akan semakin memperparah perubahan iklim. Selain itu, fenomena ini juga berpotensi menyebabkan kekurangan air bersih di berbagai wilayah.
Pernyataan Resmi
Bambang Hero Saharjo, pakar IPB, menyatakan, "Dengan kondisi 2,7°C ini, ini persis kejadiannya seperti kejadian kebakaran 1997-1998, di mana lahan yang terbakar 10-11 juta hektare dan yang meninggal itu 500 jiwa." Ia menambahkan, "Karena makin ke sana itu akan makin dahsyat, makin kering dan kita kekurangan air."
Mengenai upaya mitigasi, Bambang mengapresiasi, "Polda Riau sudah melakukan Green Policing, penanaman pohon dan sebagainya. Karena apa, kebakaran yang terjadi ini harus diimbangi juga dengan penanaman pohon. Kalau ini tidak dilakukan, maka emisi yang sudah kita hitung itu harus direvisi lagi." Ia melanjutkan, "Karena emisi gas rumah kaca yang kita lepaskan itu harus dikendalikan dengan penanaman dan Kapolda Riau telah melakukan itu, meskipun kelihatannya ‘main-main’ tanam…tanam…tanam, tetapi kalau kita lihat secara scientific, itulah cara untuk menekan emisi gas rumah kaca."
Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan menegaskan komitmen kolaboratif, "Kami hadir untuk memberikan motivasi dan dorongan. Upaya pemadaman ini adalah komitmen bersama yang melibatkan Polda Riau, Kodam Tuanku Tambusai, Pemerintah Daerah, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga BPBD." Ia juga menjelaskan strategi penanganan, "Kita bergerak bersama mencari titik api secara strategis, tujuannya agar tidak terjadi rembetan di tempat lain."
Perkembangan Selanjutnya
Upaya mitigasi dan penanganan karhutla secara kolaboratif akan terus ditingkatkan, terutama di wilayah-wilayah rawan, seiring dengan ancaman Super El Nino yang diprediksi akan semakin menguat. Pemerintah dan lembaga terkait diharapkan terus memperkuat sistem peringatan dini dan implementasi langkah proaktif untuk meminimalkan dampak kekeringan dan karhutla di seluruh wilayah Indonesia.