Tragedi Berdarah di Bekasi: Balita Tewas Ditusuk Paman ODGJ, Diduga Karena Putus Obat

masbejo.com – Sebuah peristiwa memilukan mengguncang warga Jatisampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat, setelah seorang balita berusia dua tahun ditemukan tewas mengenaskan dengan belasan luka tusuk yang diduga dilakukan oleh pamannya sendiri yang mengidap gangguan jiwa (ODGJ).

Fakta Utama Peristiwa

Kasus pembunuhan sadis ini menimpa seorang balita berinisial A (2). Korban ditemukan tidak bernyawa di dalam kamar kontrakan yang berlokasi di wilayah Jatisampurna, Kota Bekasi, pada Rabu malam, 27 Mei 2025. Terduga pelaku adalah paman kandung korban sendiri, seorang pemuda berinisial G (18), yang diketahui memiliki riwayat gangguan kejiwaan.

Kematian tragis ini pertama kali terungkap saat nenek korban, yang berinisial M, pulang ke rumah setelah seharian bekerja. Kondisi korban sangat memprihatinkan dengan luka tusuk di sekujur tubuh, sementara terduga pelaku juga ditemukan dalam kondisi kritis akibat mencoba mengakhiri hidupnya sendiri setelah melakukan aksi keji tersebut.

Pihak kepolisian dari Polres Metro Bekasi Kota telah mengamankan lokasi kejadian dan melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Saat ini, fokus utama petugas adalah memulihkan kondisi terduga pelaku agar dapat dimintai keterangan lebih lanjut guna mengungkap motif pasti di balik aksi brutal ini.

Kronologi Penemuan Jasad Korban

Peristiwa ini bermula dari kecurigaan nenek M saat pulang ke kontrakan sekitar pukul 22.00 WIB. Sehari-harinya, M bekerja berjualan bahan kue untuk menopang ekonomi keluarga. Ia biasanya berangkat pagi hari dan baru kembali ke rumah pada malam hari.

Setibanya di depan pintu kontrakan, M mendapati pintu dalam keadaan terkunci dari dalam. Merasa ada yang tidak beres, ia kemudian menggunakan kunci cadangan untuk masuk. Begitu pintu terbuka, pemandangan mengerikan tersaji di depan matanya.

Cucu kesayangannya, balita A, sudah tergeletak bersimbah darah di atas kasur. Di dekatnya, sang paman, G, juga terkapar dengan luka-luka di bagian dada dan wajah. Dalam kondisi panik dan syok yang luar biasa, nenek M sempat menemukan sebilah pisau di dekat tubuh korban. Secara refleks dan spontanitas karena rasa takut, ia sempat mencuci pisau tersebut sebelum akhirnya melaporkan kejadian itu kepada warga dan pihak berwajib.

Terkait:  Panduan Memilih Hewan Kurban Idul Adha 2026: Syarat dan Aturan Fikih

Detail Luka dan Kondisi Mengenaskan Korban

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal kepolisian, luka yang diderita korban sangat fatal dan menunjukkan tingkat kekerasan yang ekstrem. Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Andi Muhammad Iqbal, mengungkapkan bahwa korban mengalami belasan luka tusuk dan sayatan.

"Luka ditemukan di bagian kepala, wajah, badan, hingga selangkangan. Ada lebih dari sepuluh luka tusukan dan irisan," ujar Kompol Andi Muhammad Iqbal dalam keterangannya kepada media, Kamis (28/5/2025).

Salah satu detail yang paling menyayat hati adalah adanya luka sayatan lebar di bagian pipi korban yang sampai membuka rongga mulut. Selain itu, saat ditemukan, kondisi organ dalam korban dilaporkan sempat terurai akibat luka tusukan di bagian perut.

Sementara itu, terduga pelaku G ditemukan dengan luka tusuk di bagian dada serta luka di pipi kiri dan kanan. Polisi menduga kuat bahwa luka-luka pada tubuh G adalah upaya percobaan bunuh diri setelah ia menyadari perbuatannya terhadap sang keponakan.

Penyebab Diduga Akibat Putus Obat

Penyelidikan mendalam mengungkap fakta pilu mengenai latar belakang keluarga ini. Terduga pelaku G memang telah lama didiagnosis mengalami gangguan kejiwaan dan pernah menjalani perawatan di psikiater. Selama ini, G diwajibkan mengonsumsi obat-obatan penenang secara rutin untuk mengontrol emosi dan perilakunya.

Namun, faktor ekonomi menjadi kendala besar. Nenek M, yang menjadi tulang punggung keluarga, mengaku tidak memiliki biaya untuk menebus obat bagi anaknya tersebut dalam beberapa hari terakhir.

"Berdasarkan keterangan ibunya, pelaku memang ada gangguan kejiwaan dan rutin konsumsi obat. Namun, dua hari ini dia tidak konsumsi obat dikarenakan nenek korban tidak ada uang untuk membeli lagi obatnya," jelas Kompol Andi Muhammad Iqbal.

Kondisi putus obat ini diduga kuat menjadi pemicu kambuhnya gangguan jiwa pelaku secara agresif, yang kemudian berujung pada serangan fatal terhadap balita A.

Terkait:  Polisi Bongkar Prostitusi Anak di Karaoke Jakbar, 5 Orang Jadi Tersangka

Kedekatan Korban dengan Sang Nenek

Tragedi ini terasa semakin menyesakkan mengingat balita A telah diasuh oleh nenek M sejak masih sangat kecil. Diketahui, korban sudah tinggal bersama neneknya sejak usia dua minggu setelah dilahirkan.

Selama dua tahun terakhir, nenek M lah yang merawat, membesarkan, dan memenuhi kebutuhan hidup balita tersebut di tengah keterbatasan ekonomi. Di kontrakan sempit yang menyatu antara area dapur dan kamar itulah, sang nenek berjuang menghidupi cucu dan anaknya yang sakit, hingga akhirnya peristiwa berdarah ini menghancurkan segalanya.

Langkah Hukum dan Penanganan Medis

Hingga saat ini, status G masih sebagai terduga pelaku. Polisi belum bisa melakukan pemeriksaan secara formal karena kondisi kesehatan G yang masih kritis dan sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

"Kami masih menunggu kondisinya membaik. Saat ini sudah diberikan pengobatan oleh tim medis. Jika kondisinya sudah stabil, kami akan segera melanjutkan proses permintaan keterangan," tambah Kompol Andi.

Polisi juga telah mengamankan barang bukti berupa pisau yang sempat dicuci oleh nenek korban. Meskipun sempat dicuci, tim identifikasi tetap melakukan pemeriksaan forensik untuk memperkuat bukti-bukti di lapangan.

Dampak dan Konteks Sosial

Kasus ini menjadi pengingat keras bagi publik mengenai pentingnya pengawasan dan dukungan bagi penderita gangguan jiwa (ODGJ), terutama dari kalangan keluarga prasejahtera. Ketidakmampuan mengakses obat-obatan rutin bagi penderita gangguan jiwa berat dapat berakibat fatal, tidak hanya bagi penderita itu sendiri tetapi juga bagi orang-orang di sekitarnya.

Di sisi lain, peristiwa ini juga menyoroti beban berat yang dipikul oleh lansia seperti nenek M, yang harus bekerja keras sekaligus menjadi pengasuh bagi balita dan penderita gangguan jiwa secara bersamaan tanpa dukungan sistem sosial yang memadai.

Warga di sekitar lokasi kejadian di Jatisampurna mengaku terkejut dan tidak menyangka kejadian sekeji itu terjadi di lingkungan mereka. Saat ini, jenazah balita A telah dievakuasi untuk keperluan autopsi guna melengkapi berkas penyidikan kepolisian.

Pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi anggota keluarga yang memiliki riwayat gangguan jiwa dan segera melapor ke fasilitas kesehatan atau dinas sosial jika mengalami kendala dalam pengobatan, guna mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan di masa depan.