Varian baru COVID-19 bernama ‘Cicada’ (BA.3.2) kini menjadi perhatian global karena potensi dominasinya, terutama di Inggris, dan kekhawatiran akan lebih banyak menyerang anak-anak. Varian ini memiliki kemampuan tinggi untuk menghindari sistem kekebalan tubuh, meningkatkan risiko infeksi di tengah masyarakat.
Para ahli memperingatkan bahwa ‘Cicada’ membawa sekitar 75 mutasi pada protein lonjakan, memungkinkannya masuk ke sel tubuh dengan lebih mudah dan menyebar lebih cepat dibandingkan varian sebelumnya. Kondisi ini menimbulkan urgensi untuk memahami karakteristik dan dampaknya terhadap kesehatan publik, khususnya pada kelompok rentan.
Meskipun belum ada bukti menyebabkan penyakit yang lebih parah, peningkatan cepat kasus infeksi varian ‘Cicada’ berpotensi memicu lonjakan pasien berat. Terutama jika mencapai individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah atau lansia.
Ringkasan Kondisi / Isu Kesehatan
Varian ‘Cicada’ atau BA.3.2 merupakan turunan dari varian Omicron yang pertama kali muncul pada tahun 2021. Varian ini disebut memiliki kemampuan tinggi dalam menghindari sistem kekebalan tubuh yang telah terbentuk sebelumnya. Dengan sekitar 75 mutasi pada protein lonjakan, virus ini dapat masuk ke dalam sel tubuh dengan lebih efisien, menjadikannya lebih mudah menyebar dibandingkan varian COVID-19 sebelumnya.
Latar Belakang dan Konteks
Varian ‘Cicada’ sempat terdeteksi di Afrika Selatan pada tahun 2024 sebelum menghilang, lalu kembali menyebar secara global. Para ahli menduga mutasi dalam jumlah besar terjadi karena virus berkembang di tubuh satu pasien dengan sistem imun lemah dalam waktu lama, seperti pada orang dengan HIV atau pasien kanker. Saat ini, varian ‘Cicada’ telah terdeteksi di sekitar 25 negara dan juga ditemukan dalam sistem air limbah di berbagai wilayah di Amerika Serikat.
Gejala atau Kronologi Kejadian
Gejala varian COVID-19 ‘Cicada’ disebut tidak jauh berbeda dari varian Corona lainnya. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), sebagian pasien juga mengalami gangguan pencernaan seperti mual dan diare. Meski penyebarannya lebih cepat, sampai saat ini belum ada bukti bahwa varian ini menyebabkan penyakit yang lebih parah. Namun, peningkatan jumlah kasus tetap berpotensi membuat angka pasien berat ikut naik.
Faktor Risiko atau Penyebab
Profesor Ravi Gupta dari University of Cambridge mengindikasikan bahwa varian ‘Cicada’ mungkin lebih sering menginfeksi anak-anak kecil, terutama yang belum memiliki kekebalan terhadap COVID-19. Anak-anak sering terinfeksi, dan hal ini mungkin berkaitan dengan fakta bahwa mereka belum pernah mendapatkan vaksin COVID-19. Masalah utamanya adalah infeksi ini menyebar dengan cepat, yang pada akhirnya akan menyerang seseorang yang rentan.
Dampak bagi Kesehatan
Kelompok rentan seperti lansia dan orang dengan sistem imun lemah tetap berada pada risiko terbesar terhadap komplikasi serius akibat infeksi varian ‘Cicada’. Meskipun demikian, vaksinasi masih memberikan perlindungan terhadap gejala berat. Peningkatan kasus infeksi yang cepat, meskipun tidak secara langsung menyebabkan penyakit yang lebih parah, dapat membebani sistem kesehatan jika jumlah pasien yang membutuhkan perawatan meningkat.
Pernyataan Resmi
Profesor Ravi Gupta dari University of Cambridge menyatakan, "Ini berbeda dari virus (COVID-19) yang telah kita hadapi selama dua tahun terakhir." Ia juga menambahkan, "BA.3.2 sedang menjalani pengujian saat ini. Kami telah menelitinya dalam hal penghindaran kekebalan dan kekebalan yang kita semua miliki." Prof. Gupta menegaskan bahwa vaksin seharusnya dapat mencegah beberapa komplikasi paling parah pada sebagian besar orang, terutama bagi kelompok rentan. Data dari CDC menunjukkan, pada periode November 2025 hingga Januari 2026, varian BA.3.2 menyumbang sekitar 30 persen kasus COVID-19 yang ditemukan di Denmark, Jerman, dan Belanda.
Perkembangan Selanjutnya
Varian ‘Cicada’ sudah terdeteksi di Inggris dan jumlahnya terus meningkat, dengan prediksi akan menjadi varian dominan di negara tersebut. Para ahli terus melakukan pengujian dan penelitian terhadap varian ini, khususnya terkait kemampuan penghindaran kekebalan tubuh. Meskipun telah terdeteksi di banyak negara, belum terlihat lonjakan total kasus secara signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pemantauan ketat terhadap penyebaran dan karakteristik varian ini masih terus dilakukan secara global.