masbejo.com – Gedung Senat Filipina berubah menjadi medan ketegangan setelah rentetan tembakan meletus dalam upaya penangkapan Senator Ronald ‘Bato’ Dela Rosa oleh otoritas terkait perintah Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Insiden mencekam ini memaksa para senator bersembunyi dan jurnalis berlarian mencari perlindungan saat pasukan keamanan mengepung gedung legislatif tersebut.
Fakta Utama Peristiwa
Ketegangan di Manila mencapai puncaknya pada Rabu malam, 13 Mei 2026, ketika personel marinir dan kepolisian Filipina bergerak untuk mengeksekusi surat perintah penangkapan terhadap Ronald Dela Rosa. Mantan Kepala Kepolisian Nasional Filipina tersebut menjadi target utama ICC atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan selama periode berdarah perang narkoba era Rodrigo Duterte.
Sedikitnya 15 tembakan dilaporkan terdengar di dalam area gedung, memicu kepanikan massal. Otoritas keamanan mengonfirmasi bahwa satu orang tersangka telah diamankan di lantai dua gedung Senat tak lama setelah baku tembak terjadi. Meski situasi sangat genting, laporan terbaru menyatakan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Ronald Dela Rosa, yang dikenal sebagai tangan kanan mantan Presiden Duterte, dituduh bertanggung jawab atas ribuan kematian selama operasi anti-narkoba tahun 2016-2018. Penangkapan ini merupakan kelanjutan dari langkah agresif ICC setelah sebelumnya berhasil menangkap Rodrigo Duterte pada Maret tahun lalu.
Kronologi atau Detail Kejadian
Drama ini bermula ketika Dela Rosa muncul secara mengejutkan di Gedung Senat pada Senin, 11 Mei 2026. Sebelumnya, sang jenderal dilaporkan menghilang dari pantauan publik sejak November tahun lalu untuk menghindari kejaran agen internasional.
Pada Rabu malam, suasana berubah drastis saat pasukan bersenjata lengkap dengan perlengkapan pelindung mulai menaiki tangga gedung legislatif. Jurnalis Al Jazeera, Jamela Alindogan, melaporkan bahwa situasi menjadi kacau ketika tembakan mulai dilepaskan. Para awak media dan staf gedung terpaksa mundur dan mencari tempat perlindungan saat perintah evakuasi dikeluarkan.
Menteri Dalam Negeri Filipina, Juanito Victor Remulla, menjelaskan bahwa petugas keamanan Senat awalnya melepaskan tembakan peringatan ke arah sekelompok pria bersenjata tak dikenal yang mencoba merangsek masuk. Kelompok tersebut membalas dengan tembakan ke udara sebelum akhirnya melarikan diri dari lokasi kejadian.
Di tengah kekacauan tersebut, Dela Rosa bersama beberapa senator lainnya membentengi diri di dalam kantor mereka. Namun, dalam perkembangan terbaru yang mengejutkan, Presiden Senat Alan Peter Cayetano mengonfirmasi bahwa Dela Rosa telah berhasil meninggalkan gedung dan kini status keberadaannya kembali misterius.
Pernyataan atau Fakta Penting
Sebelum menghilang, Ronald Dela Rosa sempat mengunggah pesan emosional melalui video di media sosial. Ia meminta dukungan masyarakat agar tidak membiarkan warga Filipina diadili oleh pengadilan asing di Den Haag, Belanda.

"Saya memohon kepada Anda. Saya harap Anda dapat membantu saya. Jangan biarkan warga Filipina lainnya dibawa ke Den Haag," ujar Dela Rosa dalam unggahan video di Facebook.
Ia juga mendesak Presiden Ferdinand Marcos Jr. untuk memberikan perlindungan dan tidak menyerahkannya kepada ICC. Dela Rosa menegaskan bahwa dirinya setia melayani negara dan lebih memilih menghadapi proses hukum di dalam negeri daripada harus diterbangkan ke markas ICC.
Di sisi lain, pihak kepolisian telah mengamankan seorang tersangka pria di lokasi kejadian. Brigadir Jenderal Randulf Tuano menyatakan bahwa pihaknya menyita sejumlah amunisi dan tengah melakukan uji residu tembakan terhadap tersangka tersebut untuk mengungkap keterlibatannya dalam baku tembak di Senat.
Dampak atau Implikasi
Insiden ini menciptakan krisis politik dan keamanan baru di Filipina. Pelarian Dela Rosa dari gedung yang dijaga ketat menimbulkan pertanyaan besar mengenai integritas pengamanan di lembaga tinggi negara. Presiden Senat Alan Peter Cayetano bahkan harus menghadapi tuduhan miring bahwa dirinya membantu pelarian sang senator, meski hal tersebut dibantah keras dengan nada marah.
Secara internasional, peristiwa ini menunjukkan keseriusan ICC dalam mengejar aktor-aktor utama di balik perang narkoba Filipina. Dengan Rodrigo Duterte yang sudah lebih dulu mendekam di tahanan Den Haag, tekanan kini sepenuhnya mengarah pada sekutu-sekutu politiknya yang masih bertahan di Filipina.
Dampak psikologis juga dirasakan oleh publik dan para pejabat pemerintah. Baku tembak di jantung legislatif menandakan bahwa konflik hukum antara otoritas domestik dan internasional telah bergeser menjadi konfrontasi fisik yang membahayakan stabilitas nasional.
Konteks Tambahan
Untuk memahami urgensi penangkapan ini, perlu diingat kembali rekam jejak Ronald Dela Rosa. Sebagai arsitek utama "War on Drugs" di bawah komando Duterte, ia memimpin operasi yang menyebabkan kematian ribuan orang. Mayoritas korban adalah pengguna dan pengedar narkoba kelas teri, yang menurut organisasi hak asasi manusia, seringkali dieksekusi tanpa proses peradilan yang sah.
Filipina sendiri telah keluar dari keanggotaan ICC pada tahun 2019 atas perintah Duterte. Namun, ICC tetap memiliki yurisdiksi atas kejahatan yang dilakukan selama periode Filipina masih menjadi anggota, termasuk tahun-tahun awal perang narkoba yang mematikan tersebut.
Penangkapan Duterte pada Maret 2025 menjadi titik balik besar. Mantan presiden tersebut kini tengah menunggu persidangan di Belanda. Jika Dela Rosa berhasil ditangkap, ia akan menjadi pejabat tinggi kedua yang diseret ke pengadilan internasional, sebuah langkah yang akan melengkapi kepingan puzzle pertanggungjawaban atas salah satu periode paling kelam dalam sejarah modern Filipina.
Saat ini, otoritas Filipina masih melakukan penyelidikan intensif untuk melacak jejak pelarian Dela Rosa dan mengungkap siapa saja pihak yang membantu perlawanan bersenjata di Gedung Senat. Situasi di Manila tetap dalam status waspada tinggi seiring dengan pencarian besar-besaran terhadap sang jenderal yang kini menjadi buronan internasional.