masbejo.com – Insiden kebakaran hebat melanda Gereja Katolik Stasi Santo Fransiskus di Kampung Pomako, Mimika, Papua Tengah, yang diduga dipicu oleh nyala lilin di area altar yang lupa dipadamkan. Meski tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, seluruh bangunan gereja yang bermaterial kayu ludes dilalap api dengan kerugian materi ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.
Fakta Utama Peristiwa
Peristiwa memilukan ini terjadi di Kampung Pomako LS RT 03, Distrik Mimika Timur, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Berdasarkan laporan yang diterima pada Kamis, 28 Mei 2026, api dengan cepat menghanguskan bangunan tempat ibadah tersebut hingga nyaris rata dengan tanah.
Kapolsek Kawasan Pelabuhan Pomako, Iptu Fits Gerald M Nalohy, mengonfirmasi bahwa api pertama kali terlihat muncul dari bagian dalam gedung gereja. Mengingat sebagian besar konstruksi bangunan terdiri dari bahan-bahan yang mudah terbakar, upaya pemadaman awal oleh warga setempat tidak membuahkan hasil maksimal.
Pihak kepolisian telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi mata serta pengurus gereja untuk memastikan penyebab pasti dari musibah ini. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, dugaan kuat mengarah pada faktor kelalaian manusia terkait penggunaan sarana ibadah.
Kronologi atau Detail Kejadian
Kronologi bermula ketika asap tebal mulai terlihat membubung tinggi dari dalam Gereja Katolik Stasi Santo Fransiskus. Saksi mata di lokasi kejadian melaporkan bahwa asap tersebut segera diikuti oleh kobaran api yang muncul dari bagian tengah gedung, tepatnya di area sekitar altar.
Kondisi cuaca saat kejadian turut memperburuk keadaan. Angin bertiup cukup kencang dari arah timur, yang membuat lidah api merambat dengan sangat agresif ke bagian atap dan dinding gereja. Struktur bangunan yang didominasi oleh kayu, papan, dan anyaman bambu membuat api mendapatkan "bahan bakar" yang cukup untuk membesar dalam waktu singkat.
Warga yang melihat kejadian tersebut langsung berteriak histeris dan memanggil penduduk sekitar untuk memberikan bantuan. Namun, upaya pemadaman secara mandiri menghadapi kendala besar. Saat kebakaran terjadi, kondisi air laut di Kampung Pomako sedang surut, sehingga warga kesulitan mendapatkan akses air dalam jumlah besar untuk menjinakkan api yang sudah terlanjur membesar.
Sebanyak empat unit mobil pemadam kebakaran akhirnya tiba di lokasi kejadian. Petugas pemadam kebakaran langsung bergerak cepat melakukan lokalisir api agar tidak merembet ke pemukiman warga di sekitarnya. Setelah berjuang melawan kobaran api, petugas akhirnya berhasil memadamkan sisa-sisa api, meskipun bangunan utama gereja sudah tidak dapat diselamatkan.
Pernyataan atau Fakta Penting
Dalam keterangannya, Iptu Fits Gerald M Nalohy menjelaskan bahwa berdasarkan informasi yang dihimpun dari pengurus gereja, penyebab utama kebakaran diduga berasal dari lilin yang dinyalakan di depan altar. Lilin tersebut digunakan oleh umat untuk berdoa, namun diduga kuat lupa dipadamkan setelah aktivitas ibadah selesai.
"Berdasarkan hasil pengumpulan informasi, pemeriksaan lokasi, dan keterangan dari warga serta pengurus gereja, disimpulkan bahwa penyebab utama kebakaran adalah lilin yang tidak dipadamkan dengan baik dan diletakkan di tempat yang tidak aman," ujar Fits dalam pernyataan resminya.
Pihak kepolisian juga memastikan bahwa dalam insiden ini tidak ada korban jiwa maupun luka-luka. Saat api mulai berkobar, kondisi di dalam gereja sedang sepi sehingga tidak ada umat yang terjebak di dalam bangunan. Fokus utama petugas saat ini adalah memastikan lokasi benar-benar aman dan melakukan pendataan lebih lanjut terkait kerugian yang dialami pihak gereja.
Dampak atau Implikasi
Dampak dari kebakaran ini sangat dirasakan oleh umat Katolik di Kampung Pomako. Kerugian materiil diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Angka ini mencakup kehilangan fisik bangunan gereja serta berbagai aset penting di dalamnya yang memiliki nilai religius tinggi.
Beberapa barang yang dilaporkan ludes terbakar antara lain:
- Meja altar yang menjadi pusat peribadatan.
- Seluruh kursi ibadah yang digunakan umat.
- Koleksi buku-buku lagu dan buku doa.
- Berbagai perlengkapan liturgi yang digunakan dalam upacara keagamaan.
Selain kerugian materi, dampak psikologis dan spiritual juga membayangi warga. Kehilangan tempat ibadah utama di kampung tersebut membuat aktivitas keagamaan rutin menjadi terhambat. Warga kini sangat berharap adanya bantuan dari pemerintah daerah maupun donatur untuk melakukan pembangunan kembali gedung gereja agar mereka dapat kembali beribadah dengan layak.
Konteks Tambahan
Kampung Pomako merupakan salah satu wilayah penting di Distrik Mimika Timur yang memiliki karakteristik wilayah pesisir. Ketergantungan warga terhadap pasang surut air laut dalam situasi darurat seperti kebakaran menjadi catatan penting bagi mitigasi bencana di masa depan di wilayah tersebut.
Kejadian ini juga menjadi pengingat bagi seluruh pengelola tempat ibadah mengenai pentingnya prosedur keamanan setelah aktivitas ibadah berakhir. Penggunaan lilin, lampu minyak, atau perangkat listrik di dalam bangunan bermaterial kayu memerlukan pengawasan ekstra ketat guna mencegah terjadinya insiden serupa.
Hingga berita ini diturunkan, garis polisi masih terpasang di lokasi kejadian untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut. Sementara itu, tokoh masyarakat dan pengurus gereja mulai berkoordinasi untuk mencari solusi jangka pendek terkait lokasi ibadah sementara bagi umat di Stasi Santo Fransiskus.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang tidak benar terkait penyebab kebakaran, serta mempercayakan sepenuhnya proses investigasi kepada pihak kepolisian. Fokus komunitas saat ini adalah gotong royong untuk membersihkan puing-puing dan merencanakan langkah pemulihan pascabencana.