Hantavirus Terdeteksi di Jawa Timur, Dinkes Ungkap Kronologi Temuan

masbejo.com – Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur mengonfirmasi temuan satu kasus Hantavirus yang menyerang seorang warga pada awal tahun 2026. Meski sempat menjalani perawatan intensif di RSUD dr Soetomo, pasien tersebut kini dinyatakan telah sembuh total dan tidak ditemukan penyebaran kasus baru di wilayah tersebut.

Fakta Utama Peristiwa

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, dr Erwin Ashta Triyono, memberikan pernyataan resmi terkait munculnya kasus Hantavirus di wilayahnya. Berdasarkan data yang dihimpun dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kasus ini sebenarnya terdeteksi pada Januari 2026.

Temuan ini menjadi perhatian serius mengingat Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui hewan ke manusia, khususnya melalui tikus. Meskipun kasus ini baru mencuat ke publik belakangan ini, dr Erwin memastikan bahwa kondisi di lapangan saat ini sudah terkendali.

Pasien yang terinfeksi dilaporkan merupakan seorang dewasa. Identitas detail dan asal daerah pasien tidak dirinci secara spesifik, namun dipastikan bahwa penanganan medis dilakukan secara maksimal di salah satu rumah sakit rujukan utama di Jawa Timur, yakni RSUD dr Soetomo, Surabaya.

Kronologi atau Detail Kejadian

Munculnya diagnosis Hantavirus ini bermula dari kecurigaan medis terhadap gejala yang dialami pasien. Pada awalnya, pasien tersebut didiagnosis menderita Leptospirosis, atau yang populer dikenal sebagai penyakit kencing tikus.

Gejala klinis yang ditunjukkan pasien meliputi demam tinggi dan kondisi kuning (ikterus) pada kulit serta mata. Karena gejala yang cukup berat dan menyerupai infeksi bakteri Leptospira, pihak medis awalnya fokus pada penanganan infeksi zoonosis tersebut.

Namun, atas dorongan dan koordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dilakukan pemeriksaan penunjang yang lebih mendalam. Mengingat gejala demam dan gangguan fungsi hati (kuning) juga bisa menjadi indikasi virus lain, sampel pasien kemudian diuji khusus untuk Hantavirus.

Terkait:  Polisi Usut Penemuan Jasad Wanita Tinggal Tulang di Depok

Hasil uji laboratorium menunjukkan hasil positif Hantavirus. Temuan ini sempat mengejutkan karena Hantavirus bukan merupakan kasus yang sering dilaporkan secara masif di wilayah Jawa Timur. Beruntung, respons medis yang cepat membuat pasien berhasil melewati masa kritis.

Pernyataan atau Fakta Penting

Dalam keterangannya di RS Ibu dan Anak IBI Surabaya, Rabu (13/5/2026), dr Erwin Ashta Triyono menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan namun tetap harus waspada. Ia menggarisbawahi bahwa kunci utama menghadapi penyakit ini adalah kebersihan lingkungan.

"Kalau data dari Kemenkes ada satu pasien bulan Januari. Tapi pasiennya sudah baikan, sudah sembuh," ujar dr Erwin. Ia juga menambahkan bahwa hingga saat ini, laporan dari pusat menunjukkan tidak ada lagi tambahan kasus baru setelah temuan di awal tahun tersebut.

Terkait mekanisme penularan, dr Erwin menjelaskan bahwa Hantavirus sangat bergantung pada keberadaan tikus di lingkungan manusia. Penularan terjadi melalui kontak dengan produk-produk yang telah terkontaminasi oleh ekskresi tikus, seperti urine, kotoran, atau air liur hewan pengerat tersebut.

Hingga saat ini, ilmu pengetahuan medis masih menyatakan bahwa penularan utama adalah dari hewan ke manusia. "Pokoknya jangan sampai kita terkontaminasi atau kontak dengan produk-produk yang terkontaminasi oleh tikus. Itu yang lebih banyak. Meskipun belum terdeteksi ya antara penularan manusia ke manusia," urainya lebih lanjut.

Dampak atau Implikasi

Temuan satu kasus Hantavirus ini memberikan implikasi penting bagi sistem surveilans kesehatan di Jawa Timur. Hal ini membuktikan bahwa sistem deteksi dini yang didorong oleh Kemenkes berjalan dengan baik, sehingga penyakit yang jarang terdeteksi pun bisa teridentifikasi.

Bagi masyarakat, kasus ini menjadi pengingat keras akan bahaya penyakit yang dibawa oleh tikus. Selain Leptospirosis yang sudah umum terjadi saat musim hujan atau banjir, Hantavirus kini menjadi ancaman nyata yang harus diantisipasi melalui pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Terkait:  Polisi Tangkap Perampok Pembunuh Pensiunan JICT di Bekasi

Pihak rumah sakit dan tenaga medis di seluruh Jawa Timur kini diharapkan lebih jeli dalam melihat gejala pasien yang memiliki riwayat kontak dengan lingkungan tidak higienis. Diagnosis banding antara Leptospirosis dan Hantavirus menjadi krusial karena keduanya memiliki vektor yang sama, yakni tikus, namun memerlukan penanganan yang berbeda pada tingkat lanjut.

Konteks Tambahan

Hantavirus sendiri merupakan kelompok virus yang dapat menyebabkan berbagai sindrom penyakit pada manusia. Secara global, infeksi Hantavirus sering dikaitkan dengan dua kondisi medis utama: Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru, dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang fungsi ginjal.

Dalam kasus di Jawa Timur, gejala kuning yang dialami pasien menunjukkan adanya gangguan pada fungsi organ dalam, yang sering kali tumpang tindih dengan gejala Leptospirosis. Bakteri Leptospira berbentuk spiral (spiroset) memang sering ditemukan pada air yang terkontaminasi urine tikus, terutama di daerah padat penduduk atau wilayah yang sering tergenang air.

Kesamaan vektor (tikus) antara Hantavirus dan Leptospirosis menuntut strategi pengendalian hama yang lebih agresif di tingkat rumah tangga. Masyarakat diimbau untuk:

  1. Menutup rapat tempat penyimpanan makanan agar tidak dijangkau tikus.
  2. Membersihkan area rumah yang berpotensi menjadi sarang tikus dengan cairan disinfektan.
  3. Menggunakan sarung tangan dan pelindung saat membersihkan area yang dicurigai terdapat kotoran tikus.
  4. Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam mendadak setelah melakukan aktivitas di lingkungan yang kotor.

Dengan sembuhnya pasien di RSUD dr Soetomo dan tidak adanya laporan kasus baru, Dinas Kesehatan Jawa Timur menyatakan status saat ini masih dalam tahap pemantauan rutin tanpa perlu penetapan status darurat. Fokus utama pemerintah saat ini adalah edukasi pencegahan agar kasus serupa tidak terulang kembali di masa mendatang.