masbejo.com – Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka selama Amerika Serikat (AS) masih melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan di negaranya. Langkah ini diambil sebagai respons atas kebijakan Donald Trump yang tetap mempertahankan kehadiran militer di jalur laut meskipun status gencatan senjata telah diperpanjang.
Fakta Utama Peristiwa
Ketegangan di kawasan Teluk kembali memuncak setelah pemerintah Iran secara resmi menyatakan penutupan Selat Hormuz akan terus berlanjut. Keputusan ini merupakan reaksi langsung terhadap tindakan angkatan laut Amerika Serikat yang masih memblokade akses ke pelabuhan-pelabuhan utama Iran.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa pembukaan kembali jalur pelayaran vital tersebut mustahil dilakukan selama tekanan militer AS di laut masih berlangsung. Pihak Teheran menilai tindakan Washington sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan yang telah dibicarakan sebelumnya.
Situasi ini menempatkan stabilitas energi global dalam risiko besar, mengingat Selat Hormuz adalah jalur distribusi minyak paling strategis di dunia. Tanpa adanya pelonggaran blokade dari pihak AS, Iran memastikan bahwa gerbang laut tersebut akan tetap terkunci bagi lalu lintas internasional yang terafiliasi dengan kepentingan tertentu.
Kronologi dan Detail Ketegangan
Konflik terbaru ini bermula ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran pada Rabu (22/4/2026). Namun, pengumuman tersebut membawa syarat yang berat bagi Teheran. Trump menginstruksikan militer AS untuk tetap siaga dan melanjutkan blokade pelabuhan.
Gencatan senjata yang awalnya dimulai pada 7 April tersebut seharusnya berakhir pada pekan ini. Meski Trump menyatakan perpanjangan kali ini tidak memiliki batas waktu (indefinite), ia menegaskan bahwa tekanan ekonomi dan militer melalui blokade laut tidak akan dikendurkan sampai ada proposal baru dari pihak Iran.
Di sisi lain, Iran melihat kebijakan Trump sebagai standar ganda. Di satu sisi AS menawarkan gencatan senjata, namun di sisi lain mereka mencekik urat nadi ekonomi Iran melalui pengepungan pelabuhan. Hal inilah yang memicu Mohammad Bagher Ghalibaf untuk mengeluarkan pernyataan keras melalui media sosial X.
Pernyataan Keras Teheran
Dalam pernyataannya, Mohammad Bagher Ghalibaf menekankan bahwa makna dari sebuah gencatan senjata adalah penghentian total segala bentuk agresi, termasuk blokade ekonomi dan militer. Ia menyebut tindakan AS sebagai "pelanggaran terang-terangan".
"Gencatan senjata lengkap hanya memiliki arti jika tidak dilanggar melalui blokade angkatan laut (AS). Membuka kembali Selat Hormuz tidak mungkin di tengah pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata," tegas Ghalibaf.
Teheran memandang bahwa Selat Hormuz adalah kartu truf terakhir mereka untuk memaksa Amerika Serikat mundur. Dengan menutup selat tersebut, Iran memberikan pesan kuat bahwa mereka tidak akan tunduk pada tekanan sepihak yang dilakukan oleh pemerintahan Trump.
Posisi Amerika Serikat dan Peran Pakistan
Presiden Donald Trump memiliki pandangan berbeda mengenai situasi internal di Teheran. Menurutnya, pemerintahan Iran saat ini sedang mengalami perpecahan internal yang hebat. Hal ini, menurut Trump, menjadi alasan mengapa negosiasi berjalan lambat dan tidak menentu.
Trump mengungkapkan bahwa keputusan untuk menunda serangan lebih lanjut ke wilayah Iran juga didasari oleh permintaan dari pihak ketiga. Nama Marsekal Lapangan Asim Munir dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan muncul sebagai mediator dalam konflik ini.
"Atas permintaan Marsekal Lapangan Asim Munir, dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan, kami telah diminta untuk menunda serangan kami terhadap negara Iran sampai para pemimpin dan perwakilan mereka dapat mengajukan proposal yang terpadu," ujar Trump sebagaimana dilansir dari Al Jazeera.
AS saat ini dalam posisi menunggu perwakilan Iran untuk hadir dalam negosiasi lanjutan yang direncanakan berlangsung di Pakistan. Namun, dengan syarat blokade yang tetap berjalan, posisi tawar kedua belah pihak tampak masih sangat berjauhan.
Dampak dan Implikasi Global
Penutupan Selat Hormuz memiliki dampak yang sangat luas bagi dunia internasional. Sebagai jalur transit bagi sepertiga dari total pengiriman minyak mentah dunia lewat laut, gangguan di wilayah ini dipastikan akan memicu lonjakan harga energi global.
Secara geopolitik, keterlibatan Pakistan sebagai mediator menunjukkan bahwa konflik ini bukan lagi sekadar urusan bilateral antara Washington dan Teheran, melainkan sudah menjadi krisis regional yang melibatkan kekuatan nuklir di Asia Selatan.
Jika Iran tetap pada pendiriannya untuk mengunci Selat Hormuz, maka tekanan terhadap rantai pasok global akan semakin berat. Di sisi lain, jika AS tidak mencabut blokade pelabuhan, maka gencatan senjata yang diumumkan Trump hanya akan menjadi status formal tanpa kedamaian yang nyata di lapangan.
Konteks Tambahan: Signifikansi Selat Hormuz
Untuk memahami mengapa Iran begitu gigih mempertahankan penutupan ini, perlu dilihat nilai strategis dari Selat Hormuz. Jalur sempit yang memisahkan Iran dan Oman ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.
Bagi Iran, mengontrol Selat Hormuz adalah bentuk pertahanan kedaulatan sekaligus senjata diplomasi. Dengan memblokade jalur ini, mereka mampu memberikan tekanan balik terhadap sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh negara-negara Barat.
Sementara itu, bagi Amerika Serikat, mempertahankan blokade pelabuhan Iran adalah strategi untuk memastikan Teheran tidak memiliki kemampuan finansial untuk mendanai aktivitas militer atau program nuklirnya. Namun, strategi "tekanan maksimum" ini kini berbenturan dengan realitas penutupan jalur pelayaran internasional yang juga merugikan sekutu-sekutu AS di kawasan tersebut.
Kini, mata dunia tertuju pada pertemuan yang akan datang di Pakistan. Apakah diplomasi yang dimotori oleh Asim Munir dan Shehbaz Sharif mampu melunakkan ego kedua negara, ataukah Selat Hormuz akan tetap menjadi titik api yang siap meledak kapan saja di tahun 2026 ini.