PDIP Wajibkan Lagu ‘Bung Karno Bapak Marhaenisme’ untuk Perkuat Ideologi Kader

masbejo.com – DPP PDI Perjuangan (PDIP) resmi memperkenalkan lagu "Bung Karno Bapak Marhaenisme" sebagai bagian dari protokol wajib dalam agenda pembekalan ribuan anggota DPRD terpilih periode 2024-2029 di seluruh Indonesia.

Fakta Utama Peristiwa

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan mengambil langkah strategis dalam memperkuat fondasi ideologis para kadernya yang duduk di kursi legislatif. Dalam acara Pembekalan dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Anggota DPRD PDIP seluruh Indonesia masa bakti 2024-2029, sebuah lagu baru berjudul "Bung Karno Bapak Marhaenisme" resmi diperkenalkan.

Acara krusial ini berlangsung di Novotel Mangga Dua, Jakarta Utara, pada Sabtu (29/5/2026). Lagu tersebut tidak hanya diputar sebagai latar belakang, melainkan ditempatkan pada posisi terhormat di awal sesi protokoler kepartaian. Hal ini menandakan bahwa lagu tersebut kini menjadi bagian integral dari identitas resmi partai berlambang banteng moncong putih tersebut.

Langkah ini diambil di tengah momentum Bulan Bung Karno, sebuah periode yang selalu dimanfaatkan oleh PDIP untuk melakukan refleksi dan penguatan ajaran-ajaran Sang Proklamator. Dengan diperkenalkannya lagu ini, partai pimpinan Megawati Soekarnoputri tersebut menegaskan kembali arah perjuangannya yang berfokus pada pembelaan terhadap kaum Marhaen.

Kronologi atau Detail Kejadian

Prosesi pengenalan lagu "Bung Karno Bapak Marhaenisme" dilakukan secara khidmat di hadapan ratusan wakil rakyat tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Lagu ini diputar tepat saat sesi protokoler dimulai, menciptakan suasana emosional dan penuh semangat perjuangan di dalam ruangan aula Novotel Mangga Dua.

Lirik lagu tersebut mengandung pesan-pesan mobilisasi massa dan kesetiaan pada garis komando partai. Berikut adalah penggalan lirik yang menggema dalam ruangan tersebut:

"Rakyat Marhaen Majulah Bersatu, Membangun Dunia yang Baru. Satukanlah Gerak Langkahmu, Turut Komando yang Satu."

Lirik tersebut kemudian dilanjutkan dengan penghormatan tinggi kepada sosok Bung Karno:

Terkait:  Motor Hilang 1,5 Tahun di Bogor Akhirnya Kembali ke Pemilik

"Hiduplah Bung Karno Kita, Bapak Marhaenisme Jaya. Hiduplah Pemimpin Kita, Marhaenisme Pastilah Jaya."

Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat memimpin langsung upacara pembukaan tersebut. Ia didampingi oleh sejumlah fungsionaris teras DPP PDIP, di antaranya Andreas Hugo Pareira, Ribka Tjiptaning, Wiryanto Sukamdani, Darmadi Durianto, Yoseph Aryo Adhi Dharmo, Yuke Yurike, dan Sri Rahayu. Kehadiran para tokoh senior ini menunjukkan betapa pentingnya agenda Bimtek dan pengenalan lagu ideologis tersebut bagi masa depan partai.

Pernyataan atau Fakta Penting

Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat menegaskan bahwa pemutaran lagu ini memiliki makna mendalam yang melampaui sekadar seremoni pembukaan. Menurutnya, lagu ini adalah instrumen untuk membangkitkan kembali "ruh" perjuangan di dalam sanubari setiap kader, terutama mereka yang baru saja terpilih sebagai wakil rakyat.

"Lagu ini adalah pengingat bagi kita semua, terutama para wakil rakyat yang baru dilantik, bahwa esensi perjuangan PDI Perjuangan adalah memihak dan berjuang demi kepentingan rakyat kecil atau kaum Marhaen," tegas Djarot Saiful Hidayat di hadapan para peserta.

Lebih lanjut, Djarot menginstruksikan agar lagu "Bung Karno Bapak Marhaenisme" menjadi menu wajib dalam setiap kegiatan resmi partai. Ia memberikan apresiasi tinggi kepada para kader yang dengan kompak dan penuh penghayatan menyanyikan lagu tersebut untuk pertama kalinya secara massal.

"Dalam setiap acara dengan protokol kepartaian, lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme wajib kita nyanyikan," ujarnya dengan nada tegas. Instruksi ini berlaku bagi seluruh tingkatan struktur partai, mulai dari pusat hingga ke daerah-daerah.

Dampak atau Implikasi

Keputusan untuk mewajibkan lagu ini memiliki implikasi luas terhadap kedisiplinan ideologis kader PDIP. Dengan menekankan lirik "Turut Komando yang Satu", partai ini ingin memastikan bahwa seluruh anggota DPRD yang berjumlah sekitar 4.000 orang tetap tegak lurus terhadap instruksi partai dalam menjalankan fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan.

Terkait:  Pakar Soroti Green Policing Polda Riau Tekan Emisi dan Karhutla

Secara politis, langkah ini memperkuat posisi PDIP sebagai partai ideologis yang konsisten mengusung ajaran Marhaenisme di tengah dinamika politik nasional yang cair. Bagi para anggota DPRD yang baru dilantik, lagu ini menjadi "kompas moral" agar kebijakan-kebijakan yang mereka ambil di daerah masing-masing selalu berorientasi pada pemberdayaan rakyat kecil.

Selain itu, kewajiban menyanyikan lagu ini di setiap acara protokoler akan menciptakan keseragaman budaya organisasi di seluruh Indonesia. Hal ini diharapkan dapat mempererat soliditas internal partai, terutama dalam menghadapi tantangan politik di masa depan.

Konteks Tambahan

Penyelenggaraan Bimtek ini dilakukan secara masif dan terstruktur. Mengingat jumlah peserta yang mencapai 4.000 anggota DPRD, DPP PDIP membagi rangkaian acara ini ke dalam enam region utama untuk memastikan efektivitas penyampaian materi dan internalisasi nilai-nilai partai.

Enam region tersebut meliputi:

  1. Jakarta
  2. Denpasar
  3. Medan
  4. Palembang
  5. Makassar
  6. Papua

Pembagian wilayah ini menunjukkan jangkauan luas PDIP di seluruh penjuru nusantara. Setiap region akan mendapatkan materi pembekalan yang sama, termasuk kewajiban untuk membumikan lagu "Bung Karno Bapak Marhaenisme".

Momentum ini juga bertepatan dengan Bulan Bung Karno, yang secara historis selalu menjadi bulan penguatan ideologi bagi PDIP. Dengan mengintegrasikan lagu baru ini ke dalam kurikulum Bimtek, PDIP berupaya memastikan bahwa ajaran Marhaenisme tidak hanya berhenti sebagai slogan, tetapi benar-benar diimplementasikan dalam setiap kebijakan publik yang diambil oleh para wakil rakyatnya di daerah.

Kehadiran tokoh-tokoh seperti Ribka Tjiptaning yang dikenal vokal dalam isu-isu kerakyatan, serta Andreas Hugo Pareira yang merupakan politisi senior, memberikan bobot lebih pada acara ini. Mereka bertugas memastikan bahwa transisi kepemimpinan di tingkat legislatif daerah berjalan sesuai dengan rel ideologi partai yang telah ditetapkan sejak lama.