Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia: Dudung hingga OSO Kenang Sosok Prajurit Sejati yang Cinta Rakyat

masbejo.com – Indonesia berduka atas berpulangnya mantan Menteri Pertahanan dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu, yang dikenal luas sebagai sosok prajurit tulen, pejuang profesional, dan pemimpin yang sangat mencintai rakyat.

Fakta Utama Peristiwa

Kabar duka menyelimuti tanah air setelah tokoh militer kharismatik, Ryamizard Ryacudu, dinyatakan meninggal dunia. Kepergian pria yang pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan periode 2014-2019 ini menyisakan kesedihan mendalam bagi keluarga besar TNI dan para tokoh nasional.

Sejumlah tokoh penting terpantau hadir melayat ke rumah duka yang berlokasi di kawasan Cikeas, Bogor, Jawa Barat, pada Minggu (31/5/2026). Di antara para pelayat, tampak Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Dudung Abdurachman, Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang (OSO), hingga mantan KSAL Laksamana TNI (Purn) Ade Supandi. Mereka hadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang dianggap sebagai guru dan teladan dalam dunia militer Indonesia.

Kronologi dan Suasana di Rumah Duka

Suasana di rumah duka di Cikeas berlangsung khidmat dan penuh haru. Para pelayat datang silih berganti sejak pagi hari untuk mendoakan almarhum. Dudung Abdurachman menceritakan bahwa dirinya memiliki kedekatan emosional yang sangat kuat dengan Ryamizard Ryacudu.

Dudung mengaku sering menjenguk almarhum selama masa sakitnya, baik saat dirawat di rumah sakit maupun ketika berada di kediaman pribadi. Kedekatan ini bukan sekadar hubungan atasan dan bawahan, melainkan hubungan antara murid dan mentor yang telah terjalin selama puluhan tahun.

Sementara itu, Oesman Sapta Odang atau yang akrab disapa OSO, mengaku sangat terkejut mendengar kabar duka ini. OSO yang baru saja tiba dari perjalanan luar kota di Kalimantan untuk merayakan Lebaran Haji, langsung menuju rumah duka begitu mendarat di Jakarta. Persahabatan mereka yang telah terjalin selama hampir 60 tahun membuat kepergian Ryamizard menjadi pukulan berat bagi tokoh asal Kalimantan Barat tersebut.

Terkait:  Gempa M 6 Guncang Hawaii, Getaran Kuat Terasa di Big Island

Pernyataan dan Kesaksian Tokoh Nasional

Sejumlah testimoni mengenai integritas dan dedikasi Ryamizard Ryacudu mengalir deras dari para tokoh yang hadir. Mereka sepakat bahwa almarhum adalah representasi nyata dari semboyan "TNI berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat."

Dudung Abdurachman mengenang Ryamizard sebagai pelopor kembalinya TNI ke jati dirinya. "Beliau yang menerapkan tentang bagaimana TNI harus kembali ke barak. Beliau prajurit sejati, prajurit tulen yang betul-betul profesional. Beliau tidak kenal menyerah dalam mengembangkan organisasi," ujar Dudung dengan nada bicara yang penuh rasa hormat.

Lebih lanjut, Dudung menceritakan pengalamannya saat bertugas sebagai Komandan Batalyon di Aceh ketika Ryamizard menjabat sebagai KSAD. Pesan yang paling membekas di hati Dudung adalah pendekatan humanis yang ditekankan oleh almarhum dalam menangani konflik.

"Beliau menyampaikan bahwa di Aceh itu bukan musuh kita. Pendekatannya harus manusiawi. Jangan ingin membunuh. Itulah yang saya pegang teguh," kenang Dudung. Ia juga menambahkan satu kalimat legendaris dari Ryamizard yang selalu diingat oleh seluruh jajaran TNI Angkatan Darat: "Tidak usah bicara pembinaan teritorial yang muluk-muluk, cukup satu saja: baik-baik dengan rakyat."

Dudung hingga OSO Kenang Sosok Ryamizard Prajurit Pemberani dan Cinta Rakyat

Di sisi lain, OSO mengenang sisi personal Ryamizard yang ia panggil dengan sapaan akrab "Mijar". Menurut OSO, keberanian Ryamizard sudah terlihat bahkan sebelum ia resmi menjadi tentara. "Waktu muda dia belum jadi tentara sudah pakai baju loreng dan bawa senjata. Memang pemberani sejak dulu," ungkap OSO.

Mantan KSAL Ade Supandi juga memberikan pandangannya dari sisi manajerial pertahanan. Menurut Ade, Ryamizard adalah senior yang sangat mengayomi dan memiliki kecerdasan luar biasa dalam mengelola sumber daya pertahanan negara, terutama di tengah keterbatasan anggaran.

Terkait:  Update Tragedi Tabrakan Argo Bromo vs KRL Bekasi: 5 Korban Masih Dirawat

"Beliau sangat mumpuni dalam mengatur pengelolaan pembiayaan pertahanan negara. Beliau mampu mengefisienkan dan mengoptimalkan kegiatan pertahanan meskipun dihadapkan pada tantangan anggaran yang terbatas," jelas Ade Supandi.

Dampak dan Implikasi Kehilangan Sosok Ryamizard

Kepergian Ryamizard Ryacudu merupakan kehilangan besar bagi sistem pertahanan Indonesia. Sebagai mantan Menteri Pertahanan, pemikiran-pemikirannya mengenai "Bela Negara" telah menjadi fondasi penting dalam memperkuat nasionalisme di kalangan warga sipil.

Gaya kepemimpinannya yang tegas namun tetap mengedepankan sisi kemanusiaan menjadi standar tinggi bagi generasi penerus di TNI. Prinsip "baik-baik dengan rakyat" yang ia gaungkan bukan sekadar slogan, melainkan doktrin yang berhasil menjaga stabilitas keamanan di berbagai daerah konflik tanpa harus mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan.

Bagi institusi TNI, Ryamizard adalah simbol profesionalisme. Komitmennya untuk membawa TNI "kembali ke barak" mempertegas posisi militer dalam sistem demokrasi Indonesia, di mana TNI fokus pada pertahanan negara dan menjauh dari politik praktis.

Konteks Tambahan: Jejak Langkah Sang Prajurit

Ryamizard Ryacudu lahir dari keluarga militer yang kuat. Ayahnya, Mayjen TNI (Purn) Musannif Ryacudu, adalah seorang tokoh militer yang juga dikenal dekat dengan rakyat. Darah pejuang ini mengalir deras dalam karier Ryamizard yang cemerlang.

Selama menjabat sebagai KSAD (2002-2005), ia dikenal sebagai jenderal lapangan yang tidak ragu untuk turun langsung meninjau kondisi prajuritnya di garis depan. Namanya semakin melambung saat ia dipercaya oleh Presiden Joko Widodo untuk menjabat sebagai Menteri Pertahanan pada periode pertama pemerintahannya.

Selama masa jabatannya sebagai Menhan, Ryamizard sangat vokal mengenai ancaman proxy war dan pentingnya kesadaran bela negara bagi seluruh lapisan masyarakat. Ia percaya bahwa kekuatan pertahanan sebuah negara tidak hanya terletak pada alutsista yang canggih, tetapi pada kemanunggalan TNI dengan rakyatnya.

Kini, sang prajurit pemberani itu telah beristirahat dengan tenang. Namun, pesan-pesan kesederhanaan, profesionalisme, dan kecintaannya pada rakyat akan terus hidup dan menjadi pedoman bagi setiap prajurit TNI yang menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selamat jalan, Jenderal. Dedikasimu untuk bangsa dan negara akan selalu tercatat dalam tinta emas sejarah Indonesia.