masbejo.com – Mantan Presiden Amerika Serikat Joe Biden melancarkan serangan verbal paling keras terhadap Presiden Donald Trump, dengan menyebut penggantinya itu sebagai sosok "pecundang" yang terjebak dalam narsisme akut serta melakukan praktik korupsi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Fakta Utama Peristiwa
Ketegangan politik di Amerika Serikat kembali memuncak setelah Joe Biden, Presiden ke-46 AS, menyampaikan pidato berapi-api dalam sebuah acara penggalangan dana untuk Partai Demokrat. Acara tersebut berlangsung di sebuah kasino di Maryland pada Sabtu malam, 27 Juni 2026.
Dalam pidato singkat namun padat yang berdurasi sekitar 10 menit tersebut, Joe Biden tidak menahan diri untuk membongkar apa yang ia sebut sebagai kegagalan moral dan kepemimpinan di bawah pemerintahan Donald Trump. Kritik ini muncul sekitar dua tahun setelah momen krusial pada pemilu 2024, di mana Joe Biden memutuskan mundur dari pencalonan setelah debat sengit melawan Donald Trump.
Pernyataan ini menandai salah satu kritik paling tajam dan personal yang pernah dilontarkan Joe Biden sejak ia meninggalkan Gedung Putih pada awal tahun 2025. Ia secara eksplisit menggambarkan Donald Trump bukan hanya sebagai lawan politik, melainkan sebagai ancaman terhadap integritas institusi kepresidenan.
Kronologi atau Detail Kejadian
Di hadapan para pendukung dan donatur Partai Demokrat, Joe Biden membeberkan sejumlah tindakan Donald Trump yang dianggapnya hanya bertujuan untuk memuaskan ego pribadi. Ia menyoroti beberapa proyek kontroversial di lingkungan pemerintahan yang dinilai tidak memiliki urgensi publik.
Salah satu poin yang ditekankan Joe Biden adalah dugaan perombakan fisik di Gedung Putih. Ia menyebut Donald Trump merobohkan Sayap Timur (East Wing) hanya demi membangun sebuah ballroom mewah. Tak hanya itu, Joe Biden juga menyinggung upaya pencantuman nama Donald Trump di Kennedy Center, sebuah pusat kebudayaan nasional yang sangat dihormati di Washington.
Kritik semakin tajam saat Joe Biden menceritakan detail mengenai pemeliharaan fasilitas negara. Ia menuduh Donald Trump membangun gapura untuk menghormati dirinya sendiri dan bahkan mempekerjakan tukang kolam renang pribadinya untuk memperbaiki Kolam Refleksi (Reflection Pool) yang ikonik di Washington.
"Wah! Benar-benar pecundang," cetus Joe Biden yang disambut riuh hadirin. Menurutnya, kondisi Kolam Refleksi saat ini mencerminkan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada sekadar inkompetensi, melainkan inti dari narsisme pemerintahan saat ini.
Pernyataan atau Fakta Penting
Fokus utama serangan Joe Biden beralih dari masalah ego ke masalah hukum dan etika yang lebih berat, yakni korupsi. Ia menegaskan bahwa apa yang terjadi di bawah kepemimpinan Donald Trump adalah korupsi yang dilakukan secara terang-terangan tanpa rasa malu.

"Yaitu korupsi, korupsi yang dilakukan secara terang-terangan dan tanpa rasa malu. Korupsi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah pemerintahan Amerika," tegas Joe Biden.
Selain isu korupsi, Joe Biden juga mengangkat isu sensitif terkait kerusuhan di Gedung Capitol pada 6 Januari 2021. Ia menyatakan kemarahan besarnya terhadap rencana Donald Trump yang ingin menggunakan uang wajib pajak untuk memberikan kompensasi kepada para pelaku pemberontakan tersebut.
Bagi Joe Biden, langkah tersebut adalah penghinaan terhadap hukum. Ia menegaskan bahwa para pelaku kerusuhan 6 Januari tidak pantas mendapatkan uang negara, melainkan hukuman penjara yang sangat lama. "Orang-orang ini tidak pantas mendapatkan kompensasi. Mereka pantas dijebloskan ke penjara untuk waktu yang sangat, sangat, sangat lama," imbuhnya dengan nada tinggi.
Dampak atau Implikasi
Serangan terbuka ini mencerminkan dinamika politik Amerika Serikat yang tetap terpolarisasi meskipun Joe Biden sudah tidak lagi menjabat. Langkah Joe Biden yang aktif menghadiri acara partai di Maryland, South Dakota, dan Delaware menunjukkan upayanya untuk tetap menjadi figur sentral dalam menggalang dukungan bagi Partai Demokrat di tengah masa jabatan kedua Donald Trump.
Namun, upaya ini dilakukan di tengah tantangan internal yang berat. Banyak anggota Partai Demokrat yang dilaporkan masih merasa kecewa dengan cara Joe Biden menangani situasi politik pada pemilu 2024 lalu. Kekecewaan ini berdampak langsung pada tingkat popularitas sang mantan presiden.
Berdasarkan jajak pendapat terbaru dari CNN yang dilaksanakan oleh SSRS, tingkat kepercayaan publik terhadap Joe Biden berada di titik nadir. Data menunjukkan hanya 30 persen warga AS yang memiliki pandangan positif terhadapnya. Angka ini tercatat sebagai yang terendah dibandingkan periode mana pun selama ia menjabat di Gedung Putih, yang menandakan adanya jurang pemisah antara retorika politiknya dengan persepsi publik saat ini.
Konteks Tambahan
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Donald Trump maupun juru bicara Gedung Putih terkait serangan verbal tersebut. Biasanya, Donald Trump dikenal cepat merespons kritik melalui platform media sosialnya, namun kali ini pihak kepresidenan tampak masih memilih untuk bungkam.
Situasi pasca-kepresidenan Joe Biden memang tergolong rumit. Meskipun ia terus berusaha memposisikan diri sebagai "penjaga demokrasi" dan pengkritik utama kebijakan Donald Trump, beban kekalahan politik di masa lalu dan rendahnya angka jajak pendapat menjadi hambatan besar.
Di sisi lain, manuver Joe Biden di berbagai negara bagian seperti Maryland dan Delaware dipandang sebagai strategi untuk memperkuat basis suara Partai Demokrat menjelang pemilihan paruh waktu atau agenda politik mendatang. Perseteruan antara dua tokoh besar ini diprediksi akan terus mewarnai panggung politik Amerika Serikat, mengingat sejarah rivalitas mereka yang panjang dan penuh ketegangan sejak debat capres beberapa tahun silam.