Kisah Nirin: Dari Kuli Pakan Jadi Juragan Ayam Petelur Berkat KUR BRI

masbejo.com – Nirin Samsudin (47), seorang pria asal Kampung Cisaat, Desa Kertarahayu, Setu, Kabupaten Bekasi, berhasil mengubah garis hidupnya dari seorang kuli pengangkut pakan menjadi pengusaha ayam petelur sukses dengan omzet puluhan juta rupiah berkat dukungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI.

Fakta Utama Peristiwa

Keberhasilan Nirin Samsudin dalam mengelola usaha ayam petelur kini menjadi inspirasi bagi warga di Kabupaten Bekasi. Memulai usaha dari titik nol pada tahun 2020, Nirin kini mengelola sedikitnya 1.000 ekor ayam petelur yang produktif menghasilkan puluhan kilogram telur setiap harinya.

Tidak hanya sukses secara finansial pribadi dengan keuntungan bersih mencapai Rp14 juta per bulan dari penjualan telur, Nirin juga bertransformasi menjadi penggerak ekonomi lokal. Ia kini menjadi pemasok pakan bagi peternak lain di wilayahnya, yang memberikan tambahan penghasilan sekitar Rp12 juta per bulan. Total keuntungan yang diraupnya menembus angka Rp26 juta per bulan, sebuah pencapaian fantastis bagi UMKM di tingkat desa.

Dukungan permodalan dari BRI melalui skema KUR menjadi katalisator utama ekspansi usahanya. Dari yang semula hanya memiliki kapasitas terbatas, kini Nirin mampu mengelola operasional besar yang juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja lokal dan penyediaan pupuk organik bagi petani sekitar.

Kronologi dan Detail Perjalanan Usaha

Perjalanan Nirin tidaklah instan. Sebelum menjadi juragan, ia adalah pekerja harian yang bertugas mengangkut karung-karung pakan ayam. Dari rutinitas memanggul pakan inilah, Nirin jeli melihat peluang. Ia mengamati pola kerja para peternak dan menghitung potensi keuntungan dari bisnis telur yang permintaannya tidak pernah surut.

Pada tahun 2020, di tengah situasi ekonomi yang menantang, Nirin memberanikan diri memulai. Tanpa modal di tangan, ia memutar otak dan mencari pinjaman awal sebesar Rp60 juta dari relasi untuk membangun kandang pertama dan mengisi 700 ekor ayam. Dalam waktu dua tahun, berkat kedisiplinan dan kerja keras, utang modal awal tersebut berhasil dilunasi.

Terkait:  Ketua KPK Bongkar Rahasia Markus: Tak Sakti, Hanya Modal Info Ordal
Dari Modal Nol, Nirin Dibantu BRI Kini Jadi Penggerak Usaha Ayam Petelur

Ambisi Nirin untuk berkembang membawanya ke BRI Unit Setu. Ia mengajukan pinjaman KUR BRI sebesar Rp100 juta dengan tenor tiga tahun. Dana segar ini digunakan untuk memperluas kandang dan menambah populasi ayam menjadi 1.000 ekor. Setelah pinjaman pertama lunas, pada tahun 2024, Nirin kembali dipercaya mendapatkan kucuran dana Rp100 juta untuk renovasi infrastruktur kandang dan peremajaan bibit ayam dari Tangerang.

Pernyataan dan Fakta Operasional

Dalam kesehariannya, Nirin mengungkapkan bahwa manajemen produksi adalah kunci. Dari 1.000 ekor ayam, ia mampu memanen sekitar 55 hingga 57 kilogram telur per hari. Strategi pemasarannya pun sangat efisien; ia tidak perlu mencari pembeli ke pasar jauh, karena warga dan pemilik warung sembako di Desa Kertarahayu datang langsung ke rumahnya.

"Telurnya itu tidak pernah menumpuk, selalu laku. Warung-warung di sini sudah jadi pelanggan tetap," ujar Nirin Samsudin saat menjelaskan perputaran barangnya yang sangat cepat.

Namun, Nirin juga menekankan bahwa biaya operasional bisnis ini cukup besar. Untuk pakan saja, ia harus merogoh kocek hingga Rp19 juta per bulan, ditambah biaya operasional lainnya sekitar Rp2 juta. Ayam petelur yang dibelinya biasanya berusia 13 minggu dan mulai berproduksi satu bulan kemudian dengan masa produktif hingga 2 tahun.

Menariknya, Nirin juga memanfaatkan nilai sisa dari usahanya. Ayam yang sudah melewati masa produktif (afkir) dijual dengan harga Rp50.000 hingga Rp60.000 per ekor, terutama saat momentum Lebaran di mana permintaan daging ayam melonjak tajam. Selain itu, kotoran ayam diolah menjadi pupuk yang dijual seharga Rp10.000 per karung kepada petani padi setempat.

Terkait:  Sindikat Love Scamming Solo Baru Rugikan Rp 41 M, DPR: Usut Tuntas!

Dampak dan Implikasi Ekonomi Lokal

Keberhasilan Nirin menciptakan efek domino di Kampung Cisaat. Sebagai pionir usaha ayam petelur di wilayah tersebut, ia kini membina sekitar tujuh lokasi peternakan baru milik warga sekitar. Total populasi ayam di bawah binaannya kini mencapai 8.000 ekor.

Nirin memegang prinsip kepercayaan dalam berbisnis. Ia tidak hanya memberikan edukasi cara beternak, tetapi juga menjamin ketersediaan pakan dengan harga yang stabil. Bahkan, saat harga pakan di pabrik naik, Nirin sering kali memilih untuk tidak menaikkan harga jual kepada pelanggan peternaknya demi menjaga keberlangsungan usaha bersama.

Dari Modal Nol, Nirin Dibantu BRI Kini Jadi Penggerak Usaha Ayam Petelur

"Bagi saya yang penting pelanggan tidak mengeluh. Lebih baik ambil untung sedikit yang penting sama-sama enak dan usaha warga tetap jalan," tegasnya. Prinsip inilah yang membuat ekosistem peternakan di Desa Kertarahayu tumbuh solid.

Konteks Tambahan: Peran Perbankan dalam UMKM

Kisah Nirin menjadi bukti nyata efektivitas program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dalam mendorong pelaku usaha mikro naik kelas. Kepala BRI Unit Setu Bekasi, Setia Adi, menyatakan bahwa pihaknya berkomitmen penuh menjadi agen pembangunan ekonomi kerakyatan.

Menurut Adi, peran BRI tidak hanya berhenti pada pemberian pinjaman modal. Melalui peran Mantri BRI (petugas lapangan), bank melakukan pembinaan rutin minimal dua kali sebulan untuk memastikan usaha nasabah berjalan sehat dan mampu berkembang.

"Kami ingin nasabah UMKM seperti Pak Nirin ini bisa naik kelas. Kami memberikan akses pembiayaan yang mudah, murah, dan tepat sasaran," kata Setia Adi.

Keberhasilan ini mempertegas posisi Kabupaten Bekasi bukan hanya sebagai kawasan industri manufaktur besar, tetapi juga memiliki potensi ekonomi agribisnis yang kuat di level pedesaan jika didukung dengan akses permodalan dan pendampingan yang tepat. Nirin Samsudin telah membuktikan bahwa dengan keberanian, kepercayaan, dan dukungan perbankan, modal nol bisa berubah menjadi aset yang menggerakkan ekonomi satu desa.