masbejo.com – Ketegangan politik antara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan PDI Perjuangan (PDIP) kembali memanas menyusul pernyataan tajam terkait status keanggotaan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi). Ketua DPP PSI, Bestari Barus, melontarkan serangan balik terhadap politisi PDIP, Guntur Romli, dengan menyebut bahwa narasi pemecatan yang didengungkan pihak Banteng merupakan cerminan rasa sakit hati yang mendalam karena ditinggalkan oleh sosok yang selama ini menjadi magnet elektoral utama mereka.
Fakta Utama Peristiwa
Konfrontasi verbal ini bermula dari pernyataan Guntur Romli yang mengoreksi narasi bahwa Jokowi keluar dari PDIP. Menurut Guntur, Jokowi sebenarnya telah dipecat secara resmi oleh PDIP pada Desember 2024, bersama dengan Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution. Menanggapi hal tersebut, Bestari Barus menilai pernyataan tersebut tidak layak keluar dari kader partai yang mengklaim diri sebagai partai besar dengan pendidikan politik yang matang.
Bestari menegaskan bahwa publik saat ini tengah menilai kualitas narasi yang disampaikan oleh PDIP. Ia menganggap tudingan-tudingan miring terhadap Jokowi hanyalah luapan emosi akibat kehilangan figur sentral yang kini justru terlihat semakin dekat dengan PSI.
Kronologi dan Detail Kejadian
Perselisihan ini mencuat ke publik pada Minggu (14/6/2026), ketika Bestari Barus memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Guntur Romli. Sebelumnya, Guntur merespons rencana PSI yang ingin menyematkan jaket partai kepada Jokowi sebagai simbol kehormatan. Guntur menegaskan bahwa status Jokowi bukan lagi urusan PDIP karena proses pemecatan sudah dilakukan akibat pelanggaran konstitusional dan AD/ART partai.
Namun, PSI melihat sudut pandang yang berbeda. Bestari Barus menyatakan bahwa masyarakat justru merasa lega dan bahagia melihat Jokowi tidak lagi berada di bawah naungan PDIP. Ia menyinggung bagaimana perlakuan PDIP terhadap Jokowi selama ini yang dianggap kurang menghormati marwah seorang pemimpin negara, seperti menjadikannya objek swafoto hingga narasi "petugas partai" yang kerap merendahkan.
Pernyataan dan Fakta Penting
Dalam keterangannya, Bestari Barus tidak ragu menggunakan diksi yang keras untuk menggambarkan situasi di internal PDIP. Ia menyebut rasa sakit hati PDIP telah menumpuk dan terpelihara di dalam hati para kadernya.
"Rasa sakit ditinggal oleh Pak Jokowi itu memang sangat mendalam dan terpelihara, bertumpuk-tumpuk di dalam hati mereka. Perlu pendidikan pendewasaan kembali itu di kurikulum partai, supaya bisa lebih menata diri lebih dewasa dalam berpolitik," ujar Bestari Barus.
Lebih lanjut, Bestari melabeli pernyataan Guntur Romli sebagai "sampah" yang tidak berbobot. Ia menekankan bahwa PSI tidak akan ambil pusing dengan status pemecatan tersebut karena yang terpenting adalah bagaimana rakyat melihat sosok Jokowi.
Di sisi lain, Guntur Romli sebelumnya sempat menyentil posisi Jokowi di PSI dengan istilah "jongos partai". Ia membandingkan istilah "petugas partai" di PDIP yang menurutnya bekerja untuk kepentingan rakyat, dengan posisi Jokowi di PSI yang ia tuding hanya bekerja untuk kepentingan elektoral partai semata. Guntur bahkan menyebut tindakan Jokowi masuk ke partai lain sebagai aksi "menjilat ludah sendiri" terkait penolakan istilah petugas partai di masa lalu.
Dampak atau Implikasi Politik
Eskalasi konflik antara PSI dan PDIP ini diprediksi akan memperlebar jarak komunikasi antara kedua partai di level nasional. Bagi PSI, membela Jokowi adalah langkah strategis untuk memperkuat basis massa "Jokowisme" yang masih sangat besar di Indonesia. Dengan memposisikan diri sebagai "rumah yang nyaman" bagi Jokowi, PSI berharap dapat menyerap limpahan elektoral dari para pendukung setia mantan Wali Kota Solo tersebut.
Sementara bagi PDIP, ketegasan mengenai status pemecatan Jokowi, Gibran, dan Bobby merupakan upaya untuk menjaga disiplin organisasi dan menunjukkan bahwa tidak ada individu yang lebih besar dari partai. Namun, risiko dari narasi keras ini adalah potensi alienasi terhadap pemilih moderat yang masih mengagumi sosok Jokowi.
Konteks Tambahan: Hubungan yang Retak
Hubungan antara Jokowi dan PDIP mulai retak secara signifikan menjelang Pilpres 2024, terutama ketika putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto. Langkah ini dianggap sebagai pembangkangan politik oleh PDIP yang saat itu mengusung pasangan Ganjar Pranowo–Mahfud MD.
Sejak saat itu, serangkaian pemecatan dilakukan terhadap anggota keluarga Jokowi yang memegang jabatan publik. Bobby Nasution, menantu Jokowi, juga mengalami nasib serupa di Medan. PSI, yang sejak awal mendeklarasikan diri sebagai partai tegak lurus bersama Jokowi, memanfaatkan momentum ini untuk menarik Jokowi ke dalam lingkaran mereka, termasuk dengan memberikan "jaket kehormatan" yang kini menjadi pemantik perdebatan baru.
Dengan tensi yang terus meningkat, publik kini menanti apakah Jokowi akan secara resmi memegang posisi struktural di PSI atau tetap berada di luar sistem kepartaian namun tetap menjadi mentor politik bagi partai berlambang mawar tersebut. Satu hal yang pasti, narasi "sakit hati" vs "pemecatan" ini akan terus menjadi bumbu panas dalam dinamika politik nasional menuju kontestasi berikutnya.
Keyword Utama: Jokowi, PDIP, PSI, Bestari Barus, Guntur Romli, Pemecatan Jokowi, Konflik Politik.
LSI Keywords: Petugas Partai, Jongos Partai, Gibran Rakabuming Raka, Bobby Nasution, Jaket PSI, Pendidikan Politik, AD/ART Partai.