masbejo.com – Menteri Pertahanan sementara pemerintahan Taliban, Mullah Muhammad Yaqoob, baru saja kembali dari Moskow dengan membawa kesepakatan militer strategis yang diklaim akan membuat Pakistan tidak lagi berani melancarkan serangan ke wilayah Afganistan.
Fakta Utama Peristiwa
Hubungan antara Afganistan di bawah kendali Taliban dan Rusia kini memasuki babak baru yang lebih konkret melalui penandatanganan perjanjian kerja sama militer-teknis. Fokus utama dari kesepakatan ini adalah pemeliharaan dan perbaikan sistem persenjataan buatan Rusia yang saat ini dikuasai oleh Taliban, termasuk armada helikopter dan pesawat tempur.
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya tensi diplomatik dan militer antara Kabul dan Islamabad. Mullah Muhammad Yaqoob menegaskan bahwa implementasi kesepakatan dengan Moskow akan segera dimulai, sebuah pernyataan yang dibaca banyak pihak sebagai gertakan langsung terhadap Pakistan yang belakangan sering melakukan serangan udara lintas batas.
Meskipun terlihat seperti aliansi pertahanan, kedua belah pihak secara hati-hati membingkai hubungan ini sebagai kerja sama pragmatis. Bagi Taliban, ini adalah soal kelangsungan alutsista; bagi Rusia, ini adalah upaya menjaga stabilitas di halaman belakang mereka dari ancaman terorisme transnasional.
Kronologi atau Detail Kejadian
Kunjungan Mullah Muhammad Yaqoob ke Moskow pekan lalu menjadi titik balik penting. Setibanya di Kabul, ia langsung mengeluarkan pernyataan keras yang merujuk pada perjanjian militer-teknis tersebut. Ia menyatakan bahwa jiran yang selama ini bersitegang dengan mereka, yakni Pakistan, tidak akan lagi memiliki keberanian untuk menyerang Afganistan dalam waktu dekat.
Secara teknis, kerja sama ini sangat krusial bagi Taliban. Sebagian besar kekuatan udara Afganistan saat ini bergantung pada helikopter Mi-17 buatan Rusia. Ironisnya, helikopter-helikopter ini dulunya dibeli oleh Amerika Serikat dan NATO untuk membangun angkatan udara pemerintah Afganistan sebelumnya karena pilot lokal sudah terbiasa dengan teknologi Soviet.
Selain peralatan peninggalan NATO, Taliban juga masih memiliki simpanan senjata dari era invasi Soviet tahun 1979. Tanpa dukungan teknis dan suku cadang dari Rusia, aset-aset militer bernilai jutaan dolar ini terancam menjadi besi tua yang tidak bisa dioperasikan.
Pernyataan atau Fakta Penting
Utusan khusus Rusia untuk Afganistan, Zamir Kabulov, mengonfirmasi bahwa prioritas saat ini adalah memulihkan sistem persenjataan yang sudah ada. Namun, ia juga membuka pintu bagi potensi kontrak pertahanan baru di masa depan. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Sekretaris Dewan Keamanan Rusia, Sergei Shoigu, yang secara tegas menolak kehadiran pangkalan militer Amerika Serikat atau NATO di kawasan tersebut.

Mantan menteri Afganistan, Abas Basir, memberikan analisis mendalam bahwa hubungan ini murni berbasis kepentingan. "Ini bukan aliansi ideologis. Rusia melihat Taliban sebagai ‘penyangga keamanan’ untuk membendung kelompok Islamic State Khorasan (ISKP) agar tidak merembet ke Asia Tengah dan mengancam keamanan domestik Rusia," ujarnya.
Di sisi lain, analis keamanan Besmillah Taban mengingatkan bahwa ada unsur propaganda dalam pengumuman ini. Taliban membutuhkan narasi kemenangan diplomatik untuk meningkatkan moral internal mereka setelah beberapa kali dipojokkan oleh serangan udara Pakistan. Namun, Rusia sendiri tampak bergerak cepat meredam ekspektasi dengan menekankan bahwa kerja sama ini masih bersifat terbatas pada aspek teknis.
Dampak atau Implikasi
Kerja sama ini memiliki dampak multidimensi yang signifikan bagi stabilitas kawasan:
- Legitimasi Politik: Meski belum diakui secara universal, kedekatan dengan kekuatan besar seperti Rusia memberikan legitimasi politik bagi pemerintahan Taliban di tingkat regional.
- Keseimbangan Kekuatan: Dengan jaminan pemeliharaan senjata dari Rusia, kemampuan deteren (penangkalan) Taliban terhadap Pakistan meningkat secara drastis.
- Ketahanan Ekonomi: Selain senjata, hubungan ini membuka keran impor energi dan gandum dari Rusia, yang sangat dibutuhkan Afganistan di tengah sanksi ekonomi Barat.
- Keamanan Regional: Rusia berharap kerja sama ini dapat menekan peredaran narkotika dan aktivitas kelompok militan seperti ISKP yang menjadi musuh bersama bagi Taliban dan Moskow.
Namun, ketergantungan pada Rusia juga membawa risiko. Jika Moskow memutuskan untuk membatasi dukungan, kemampuan militer Taliban bisa lumpuh seketika karena sulitnya mendapatkan suku cadang alternatif untuk alutsista peninggalan Soviet.
Konteks Tambahan
Sejarah mencatat hubungan yang sangat kompleks antara kedua entitas ini. Pada tahun 1979, Uni Soviet menginvasi Afganistan, memicu perang satu dekade yang menghancurkan negara tersebut. Kini, beberapa dekade kemudian, Moskow justru menjadi mitra strategis bagi kelompok yang secara historis berakar dari perlawanan terhadap pengaruh asing.
Pergeseran geopolitik global turut mempercepat kedekatan ini. Di tengah tekanan berat akibat perang di Ukraina, Rusia berupaya mengamankan pengaruhnya di Asia Tengah. Afganistan yang berbatasan langsung dengan negara-negara bekas Uni Soviet menjadi koridor keamanan yang tidak boleh diabaikan oleh Vladimir Putin.
Peneliti hubungan internasional, Idrees Rahmani, menyebut Afganistan saat ini berada di tengah "pusaran angin" rivalitas kekuatan global. Tanpa ekonomi domestik yang mandiri, Kabul terpaksa bermanuver di antara kepentingan Rusia, Cina, dan Amerika Serikat demi menjaga stabilitas rezimnya.
Langkah Taliban mendekati Rusia juga merupakan sinyal kepada Washington. Dengan menyebut bahwa mereka juga terbuka bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk merawat sisa-sisa senjata NATO, Taliban sedang memainkan kartu diplomasi dua kaki untuk melihat siapa yang bisa memberikan keuntungan paling nyata bagi kelangsungan kekuasaan mereka di Kabul.