Trump Semprot Netanyahu ‘Gila’, AS Klaim Kemajuan Perundingan Israel-Lebanon

masbejo.com – Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) melaporkan adanya kemajuan signifikan dalam perundingan damai antara Israel dan Lebanon, meski diwarnai ketegangan diplomatik tingkat tinggi antara Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Fakta Utama Peristiwa

Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Luar Negeri mengonfirmasi bahwa pembicaraan antara Israel dan Lebanon kini berada di jalur yang positif. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, menyatakan bahwa kemajuan terus berlanjut baik di jalur politik maupun keamanan. Fokus utama dari perundingan ini adalah mencapai kesepakatan komprehensif yang bertujuan memulihkan kedaulatan Lebanon sekaligus menjamin keamanan nasional Israel.

Langkah diplomasi ini diambil sebagai upaya untuk memutus rantai kegagalan kebijakan di kawasan tersebut selama dua dekade terakhir. Perundingan yang dimediasi oleh AS ini juga melibatkan dialog tidak langsung dengan Iran yang berlangsung di Washington, DC. Meskipun situasi di lapangan masih sangat dinamis, pihak Gedung Putih optimistis bahwa kesepakatan besar dapat segera tercapai dalam waktu dekat.

Kronologi dan Detail Diplomasi Trump

Presiden Donald Trump mengambil peran sentral dalam upaya de-eskalasi ini. Pada Senin (1/6/2026), Trump mengklaim bahwa Israel dan Hizbullah, melalui perantara masing-masing, telah mencapai kesepakatan awal untuk menghentikan aksi saling tembak. Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran global akan meluasnya perang di Timur Tengah.

Terkait:  Waspada Modus Haji Ilegal: Visa Ziarah Dilarang, Sanksi Cekal 10 Tahun Menanti

Dalam wawancara dengan ABC News, Trump mengungkapkan keyakinannya bahwa kesepakatan final dengan Iran dapat dirampungkan dalam kurun waktu sepekan ke depan. Target utama dari diplomasi maraton ini bukan hanya gencatan senjata di Lebanon, tetapi juga pembukaan kembali Selat Hormuz yang krusial bagi jalur perdagangan energi dunia.

Trump mengaku telah menjalin komunikasi intensif dengan dua pihak yang bertikai. Ia menyatakan telah berbicara langsung dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan perwakilan senior Hizbullah. Dalam unggahannya di media sosial, Trump menegaskan bahwa tidak akan ada pergerakan pasukan Israel menuju Beirut, dan unit militer yang sempat bergerak ke arah sana telah diperintahkan untuk kembali ke pos masing-masing.

Ketegangan Trump dan Netanyahu: "Anda Benar-benar Gila"

Namun, di balik klaim kemajuan tersebut, tersimpan ketegangan hebat di internal aliansi ASIsrael. Laporan terbaru menyebutkan bahwa Donald Trump meluapkan kemarahannya kepada Benjamin Netanyahu. Kemarahan ini dipicu oleh aksi militer Israel yang terus melakukan serangan ke Lebanon di saat proses diplomasi sedang berada di titik krusial.

Menurut laporan Axios, Trump secara blak-blakan menghardik Netanyahu melalui sambungan telepon. "Anda benar-benar gila (You are fucking crazy). Apa yang Anda lakukan?" cetus Trump kepada pemimpin Israel tersebut. Trump menilai tindakan militer Netanyahu dapat menggagalkan seluruh upaya diplomasi yang sedang dibangun Washington dengan Teheran.

Dalam percakapan yang bocor tersebut, Trump juga menyinggung masalah hukum yang tengah menjerat Netanyahu di Israel. Ia mengingatkan sang Perdana Menteri bahwa selama ini dirinya telah memberikan pembelaan publik dan dukungan politik yang besar. Trump merasa dikhianati karena serangan Israel terjadi tepat setelah ia mengumumkan adanya kesepakatan penghentian pertempuran.

Terkait:  Reforestasi TNTN Dimulai, 2 Ribu Pohon Ditanam di Jantung Riau

Dampak dan Krisis Kemanusiaan di Lebanon

Agresi militer yang terus berlanjut di Lebanon Selatan telah membawa dampak kemanusiaan yang sangat mengerikan. Berdasarkan data terbaru, serangan tersebut telah menewaskan lebih dari 3.400 orang dan memaksa lebih dari satu juta warga mengungsi dari rumah mereka.

Kondisi ini sempat membuat Iran menyatakan penangguhan perundingan dengan Amerika Serikat. Pihak Teheran menilai serangan Israel yang tak kunjung berhenti menunjukkan ketidaksediaan untuk berdamai. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, bahkan sempat menuding Iran berupaya menghalangi upaya diplomatik, meskipun di sisi lain, Trump tetap optimis pada jalur dialog.

Konteks Tambahan dan Implikasi Regional

Perundingan ini menjadi pertaruhan besar bagi pemerintahan Trump. Jika berhasil, pembukaan kembali Selat Hormuz akan menjadi kemenangan diplomatik luar biasa yang dapat menstabilkan harga minyak dunia dan menurunkan tensi di kawasan Teluk. Namun, tantangan terbesar tetap ada pada sinkronisasi antara kebijakan militer Israel di lapangan dengan agenda diplomatik Washington.

Upaya memulihkan kedaulatan Lebanon juga berarti harus memastikan bahwa Hizbullah mematuhi kesepakatan untuk tidak menyerang wilayah utara Israel. Di sisi lain, Israel dituntut untuk menghentikan seluruh operasi militernya di wilayah kedaulatan Lebanon.

Saat ini, dunia menunggu apakah kemarahan Trump kepada Netanyahu akan mengubah peta serangan militer Israel, atau justru memperlebar keretakan antara kedua negara sekutu tersebut di tengah upaya mewujudkan perdamaian permanen di Timur Tengah. Pembicaraan tingkat tinggi dijadwalkan akan berlanjut besok di Washington, dengan harapan ada hitam di atas putih yang bisa segera diimplementasikan.***