Trump Soroti Pergeseran Sikap Inggris di Panggung Global

Ringkasan Peristiwa

Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengeluhkan kondisi hubungan historis antara AS dan Inggris yang disebutnya tidak lagi seharmonis dulu. Keluhan ini mencerminkan adanya pergeseran dinamika geopolitik yang berpotensi memengaruhi aliansi tradisional Barat. Pernyataan Trump ini menjadi sorotan tajam mengingat Inggris, bersama negara-negara Uni Eropa lainnya, semakin menunjukkan kebijakan luar negeri yang berbeda dari Washington, terutama terkait isu-isu krusial di Timur Tengah dan Teluk Persia. Perbedaan pandangan ini, menurut analisis pakar, berakar pada kepentingan nasional masing-masing negara, khususnya dalam pengelolaan konsesi tambang minyak yang selama ini menjadi fokus utama kekuatan Eropa di kawasan tersebut.

Latar Belakang dan Konteks

Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia (UI), Fredy Buhama Lumban Tobing, menilai keluhan Trump mencerminkan pergeseran kepentingan nasional Inggris dan negara-negara Eropa lainnya. Menurut Fredy, sejak lama Inggris dan negara-negara Uni Eropa lainnya memiliki kebijakan luar negeri yang tak selalu selaras dengan AS. Perbedaan ini, kata dia, terutama muncul karena latar belakang historis masing-masing negara dan kepentingan nasionalnya yang berbeda.

Secara spesifik, perbedaan ini menonjol dalam menghadapi dinamika perkembangan isu-isu global di kawasan Timur Tengah dan Teluk Persia. Negara-negara Eropa seperti Inggris memiliki hubungan historis yang panjang dengan negara-negara di kawasan ini, khususnya dalam pengelolaan konsesi tambang minyak. Ambisi dan kebijakan AS di kawasan Timur Tengah dan Teluk Persia sering kali mengganggu kepentingan nasional negara-negara Eropa, terutama Inggris dan Prancis, yang selama ini menguasai kontrak-kontrak konsesi minyak bumi. Keterikatan dengan persekutuan AS justru membuat mereka berpotensi kehilangan kontrak-kontrak tersebut.

Terkait:  Israel Klaim Serang 400 Target Iran, Rudal & Drone Jadi Sasaran

Kronologi Kejadian

Donald Trump menyampaikan keluhannya mengenai hubungan AS-Inggris dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Inggris The Sun pada Selasa, 3 Maret. Pernyataan ini muncul di tengah perselisihan transatlantik yang signifikan terkait serangan AS-Israel terhadap Iran. Trump secara eksplisit menyatakan bahwa hubungan AS-Inggris yang dulunya merupakan "hubungan paling solid dari semuanya" kini telah berubah. Ia bahkan menyebut AS kini memiliki hubungan yang sangat kuat dengan negara-negara lain di Eropa, seperti Prancis dan Jerman.

Dalam wawancara tersebut, Trump juga ditanyai mengenai komentar Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang awalnya menolak untuk mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militer Inggris dalam potensi perang dengan Iran. Menanggapi hal ini, Trump mengatakan bahwa sikap Starmer "tidak membantu." Ia menambahkan, "Saya tidak pernah berpikir akan melihat itu. Saya tidak pernah berpikir akan melihat itu dari Inggris. Kami mencintai Inggris."

Poin Penting

  • Donald Trump mengeluhkan pergeseran hubungan AS-Inggris yang tidak lagi seharmonis dulu.
  • Pakar menilai ini akibat pergeseran kepentingan nasional Inggris dan negara Eropa, terutama di Timur Tengah.
  • Ambisi AS di Timur Tengah dianggap mengancam konsesi minyak yang dikuasai Inggris dan Prancis.
  • PM Inggris Keir Starmer menolak penggunaan pangkalan militer Inggris oleh AS dalam konflik dengan Iran, memicu kekecewaan Trump.
  • Trump membandingkan hubungan AS-Inggris yang melemah dengan hubungan AS yang kini kuat dengan Prancis dan Jerman.
Terkait:  Ombak Lebak Seret 3 Wisatawan Depok, 1 Masih Hilang

Dampak dan Implikasi

Pergeseran sikap Inggris dan negara-negara Eropa lainnya terhadap kebijakan luar negeri AS, khususnya di Timur Tengah, memiliki implikasi signifikan terhadap dinamika aliansi Barat. Jika ambisi AS di kawasan tersebut terus memberatkan kepentingan nasional Eropa, seperti yang diungkapkan oleh Fredy Buhama Lumban Tobing pada Kamis, 5 Maret 2026, maka tidak mengherankan jika Inggris tidak lagi sepenuhnya mengikuti semua keinginan dan ambisi Washington. Hal ini dapat menyebabkan melemahnya kohesi dalam aliansi tradisional dan mendorong negara-negara Eropa untuk mengejar kebijakan luar negeri yang lebih independen, terutama dalam isu-isu energi dan keamanan regional. Konsekuensinya, AS mungkin perlu menyesuaikan strateginya untuk mempertahankan pengaruhnya di Eropa dan Timur Tengah.

Pernyataan Resmi

Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia (UI), Fredy Buhama Lumban Tobing, menegaskan, "Negara-negara Uni Eropa termasuk Inggris sejak lama memang cenderung memperlihatkan sikapnya, kebijakan luar negerinya yang berbeda dengan AS." Ia menambahkan bahwa ambisi AS di Timur Tengah dan Teluk Persia "makin hari makin mengkhawatirkan kepentingan negara-negara Eropa terutama Inggris dan Prancis, karena harus kehilangan kontrak-kontrak konsesi minyak bumi yang selama ini mereka kuasai, karena keter